RADAR BOGOR - Suasana Bogor Book Fair 2026 di IPB International Convention Center, Botani Square, menjadi lebih hangat ketika Sri Ratna Handayani naik ke panggung talkshow. Penulis tujuh buku bertema batik itu bukan hanya berbagi kisah tentang Batik Bogor, tetapi juga membawakan harmoni budaya melalui penampilan angklung.
Dalam sesi diskusi, Sri Ratna menceritakan bagaimana ia diminta hadir untuk berbicara mengenai batik, tema yang telah lama ia tekuni dan tuangkan dalam enam bukunya. Satu bukunya lainnya membahas sejarah Kota Bogor secara keseluruhan.
“Hari ini saya talkshow tentang Batik Bogor. Buku-buku saya yang diterbitkan IPB Press sebagian besar memang mengenai batik dan sejarahnya,” ujarnya.
Tak hanya mengisi talkshow, Sri Ratna bersama tim juga mengadakan edukasi membatik dan mencanting yang digelar sepanjang 24–29 Maret. Ia menyebut kegiatan itu menjadi cara agar masyarakat, terutama generasi muda, dapat mengenal batik secara langsung.
Dalam kesempatan itu, Sri Ratna juga mengungkapkan bahwa ia baru saja meluncurkan motif batik terbaru bertema Biskita Transpakuan, melanjutkan karya sebelumnya seperti Batik Angkot.
“Batik bisa menjadi benang merah sejarah Bogor mulai dari Bemo, Angkot, hingga Biskita, itu cara kami mendokumentasikan sejarah kota lewat wastra, ” jelas Sri Ratna.
Usai talkshow, Sri Ratna bersama tampil membawakan beberapa lagu bersama Komunitas Angklung Srikandi Bogor Baru, komunitas yang terbentuk pada Desember 2025.
“Awalnya saya tidak kenal angklung. Tapi ternyata ada kesamaan dengan batik, keduanya melatih fokus dan bisa jadi sarana healing,” ungkapnya.
Komunitas ini beranggotakan ibu-ibu berusia 60–75 tahun, namun aktif tampil di berbagai panggung dari mal, acara Kebun Raya Bogor, hingga tampil perdana di Candi Prambanan.
“Kami baru satu tahun, tapi berhasil tampil di Prambanan dan bahkan dapat juara dua kostum terbaik saat lomba perdana,” ujar Erina Rusdian Sari, perwakilan Komunitas Angklung Srikandi.
Mereka bahkan menargetkan bisa tampil ke luar negeri sebagai bentuk diplomasi budaya.
Sri Ratna menekankan bahwa budaya bukan sesuatu yang kuno bagi anak muda.
“Jangan buru-buru bilang sulit atau kuno. Angklung bisa membawakan nasyid sampai dangdut. Bisa jadi ruang ekspresi juga,” katanya.
Kolaborasi antara batik dan angklung yang ditampilkan hari itu menjadi contoh bagaimana dua warisan budaya Indonesia dapat hadir dalam satu panggung, saling memperkuat, dan tetap relevan bagi generasi apa pun.(ded)
Editor : Eka Rahmawati