RADAR BOGOR – Warga Kota Bogor dalam beberapa hari terakhir merasakan suhu udara yang lebih panas dari biasanya. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan, mengapa kota yang dikenal sejuk dan rutin diguyur hujan ini mendadak terasa gerah?
Forecaster on Duty BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Leni Jantika, menjelaskan kondisi tersebut merupakan hal yang wajar terjadi pada bulan Juni. Saat ini, wilayah Indonesia, khususnya bagian selatan seperti Pulau Jawa, sedang memasuki masa transisi menuju musim kemarau.
"Angin musiman dari Australia membawa massa udara kering yang mengalir ke wilayah selatan Indonesia, termasuk Bogor. Hal ini mengurangi curah hujan dan meningkatkan suhu udara," ungkap Leni, Jumat (13/6/2025).
Meski demikian, ia menegaskan wilayah Bogor termasuk daerah dengan tipe satu musim. Itu artinya tetap berpotensi mengalami hujan meski sudah memasuki musim kemarau.
"Cuaca di Bogor umumnya panas pada pagi hingga siang hari, kemudian hujan bisa terjadi pada sore hingga malam, walaupun intensitas dan frekuensinya mulai berkurang," jelasnya.
BMKG mencatat suhu maksimum di Kota Bogor dalam beberapa hari terakhir mencapai 32 hingga 33 derajat Celsius. Suhu ini tergolong tinggi untuk ukuran Bogor, tetapi masih dalam batas normal pada masa peralihan musim.
Dalam sepekan ke depan, BMKG memprediksi potensi hujan tetap ada, terutama pada pertengahan hingga akhir pekan. Namun, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang kerap muncul saat masa transisi.
"Biasanya didahului udara panas, kemudian hujan turun secara mendadak dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai kilat dan angin kencang," ujar Leni.
BMKG juga mengingatkan warga agar tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah mitigasi bencana hidrometeorologi. Selain itu, warga diminta untuk terus memantau informasi cuaca dan memahami protokol evakuasi dari pemerintah setempat.
"Cuaca panas ini bukan pertanda kemarau ekstrem, tapi bagian dari transisi yang memang selalu memiliki pola tersendiri, apalagi untuk wilayah unik seperti Bogor," pungkasnya. (uma)
Editor : Eka Rahmawati