Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Ratusan Golok Bersejarah Dipamerkan di Unpak Kota Bogor, Ada dari Era Kerajaan Demak hingga Mataram Kuno

Fikri Rahmat Utama • Sabtu, 14 Februari 2026 | 19:20 WIB
Ratusan golok bersejarah dari berbagai era dipamerkan dalam kegiatan pameran dan talkshow bertajuk Road to UNESCO.
Ratusan golok bersejarah dari berbagai era dipamerkan dalam kegiatan pameran dan talkshow bertajuk Road to UNESCO.

RADAR BOGOR – Ratusan golok bersejarah dari berbagai era dipamerkan dalam kegiatan pameran dan talkshow bertajuk Road to UNESCO.

Kegiatan ini digelar Komunitas Golok Pedang Sepuh Nusantara (GPSN) di Aula Universitas Pakuan (Unpak), Sabtu 14 Februari 2026.

Memasuki aula, perhatian pengunjung langsung tertuju pada deretan golok yang dipajang rapi di sudut kiri ruangan.

Puluhan meja disambung memanjang, membentuk satu lintasan display yang penuh dengan bilah pusaka dari berbagai daerah dan masa.

Setiap golok ditata berjajar di atas kain putih, lengkap dengan label identitas. Keterangan pada kartu memuat jenis pusaka, pamor, asal gagang atau hulu, hingga tangguh atau era pembuatannya.

Salah satu yang mencuri perhatian bertuliskan “Golok Soto Gayot” dengan tangguh Pajajaran abad ke-16.

Penataan yang detail tersebut membuat pengunjung dapat menelusuri jejak historis golok Nusantara secara lebih sistematis. Beberapa koleksi bahkan disebut berasal dari era Kerajaan Demak hingga periode Mataram Kuno.

Rektor Universitas Pakuan, Didik Notosudjono, tampak meninjau langsung deretan koleksi yang dipamerkan. Ia menyusuri meja display sambil berdialog dengan pengelola stan serta pemerhati golok.

Didik menyampaikan apresiasi atas inisiatif komunitas dalam menghadirkan pameran edukatif di lingkungan kampus.

Menurutnya, keberadaan golok tidak hanya sebagai benda pusaka, tetapi juga objek kajian akademik yang kaya.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Universitas Pakuan siap menjadi tempat yang menarik untuk pengembangan penelitian dan kajian budaya Sunda maupun Nusantara,” ujarnya.

Ia menegaskan, di era arus informasi yang sangat cepat, pelestarian tradisi harus dilakukan dengan pendekatan ilmiah agar tetap relevan bagi generasi muda.

“Golok ini memiliki nilai yang sangat penting dan harus kita perjuangkan hingga mendapat pengakuan level UNESCO. Melalui kampus, kajian historis, filosofi, hingga seni pamornya bisa diteliti lebih mendalam,” tambahnya.

Sementara itu, Dewan Pembina GPSN, Gatut Susanta, menegaskan pihaknya tengah mengakselerasi langkah agar golok dapat menyusul keris sebagai warisan budaya dunia.

“Saat ini pusaka Indonesia yang disahkan UNESCO baru satu, yaitu keris. Kami sedang berjuang agar golok juga menyusul,” katanya.

Gatut menjelaskan, secara historis golok memiliki perjalanan panjang. Awalnya digunakan sebagai alat ketahanan pangan, kemudian berkembang menjadi alat pertahanan, hingga akhirnya menjadi pusaka bernilai budaya tinggi.

“Banyak tokoh pejuang kita yang menggunakan golok dalam perjuangannya. Ini bukan sekadar senjata, tetapi bagian dari identitas budaya,” tegasnya.

Dalam pameran kali ini, GPSN membawa sekitar 300 koleksi pilihan dari berbagai era. Menurutnya ini hanya sebagian kecil dari ribuan koleksi yang dimiliki oleh GPSN.

“Koleksi tertua yang kami tampilkan berasal dari sekitar abad ke-9 atau masa Mataram Kuno. Ini menunjukkan tradisi golok memiliki akar sejarah yang sangat panjang,” ujarnya.

Ia menambahkan, upaya menuju pengakuan UNESCO tidak hanya bertumpu pada jumlah koleksi, tetapi juga pada kekuatan filosofi, literasi, serta keberlanjutan komunitas pelestarinya.

“Kami sudah melakukan presentasi di kementerian dan melengkapi berbagai persyaratan, termasuk pendataan pelestari dan regenerasi penempa yang saat ini sudah ada hingga generasi ke-7 sampai ke-9,” jelasnya.

Sementara itu, Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, menyampaikan kebanggaannya atas inisiatif dari Bogor yang mendorong golok menuju pengakuan internasional.

Menurut Dedie, jika proses pengajuan ke UNESCO berhasil, maka golok akan menambah daftar kekayaan budaya Indonesia yang diakui dunia, setelah batik dan keris.

“Kita cukup bangga karena dari Bogor ini diajukan golok sebagai warisan benda UNESCO. Kalau nanti diterima, artinya salah satu senjata tradisional masyarakat Nusantara mendapat pengakuan internasional,” ujarnya.

Ia menilai upaya tersebut penting karena berkaitan dengan literasi sejarah sekaligus membuka ruang penelitian lebih luas bagi kalangan akademisi.

“Bukan hanya kita punya batik dan keris, tetapi golok pun bisa menjadi warisan dunia yang berasal dari Indonesia dan diinisiasi dari Bogor,” katanya.

Dedie menambahkan, dukungan perguruan tinggi seperti Universitas Pakuan menjadi modal kuat dalam proses panjang menuju UNESCO.

“Kita bekerja sama dengan Universitas Pakuan. Dokumentasinya sudah cukup lengkap dan didukung perguruan tinggi. Mudah-mudahan ini bisa terwujud,” ucapnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran museum dan dokumentasi agar generasi muda tidak kehilangan jejak sejarah.

“Kalau generasi muda tidak diberi cerita dan informasi, mereka tidak akan tahu. Ini bagian dari proses melestarikan sejarah bangsa melalui karya para pendahulu yang luar biasa,” pungkasnya. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
#Universitas Pakuan #unesco #golok