Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Sekolah Elite di Bogor Tak Ikut MBG, Kepala BGN Sebut Tidak Ada Paksaan pada Program Makan Bergizi Gratis

Dede Supriadi • Senin, 2 Maret 2026 | 14:48 WIB

Kepala Badan Gizi Nasional, Prof Dadan Hindayana saat menyampaikan evaluasi dan langkah tegas terhadap SPPG yang bermasalah selama Ramadhan.
Kepala Badan Gizi Nasional, Prof Dadan Hindayana saat menyampaikan evaluasi dan langkah tegas terhadap SPPG yang bermasalah selama Ramadhan.

RADAR BOGOR - Sejumlah sekolah di Kota Bogor memilih tidak menerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) meski program tersebut merupakan kebijakan nasional pemerintah.

Mayoritas berasal dari sekolah swasta kalangan menengah ke atas yang memutuskan tidak ikut serta, dengan pertimbangan sistem konsumsi internal hingga preferensi orang tua siswa.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyebut salah satu sekolah yang tidak memanfaatkan program ini adalah Bosowa Bina Insani.

“Bosowa Bina Insani memiliki kantin yang diubah menjadi dapur SPPG, namun seluruh siswanya saat ini tidak menerima MBG karena mereka tidak menginginkan, dan kami menghormati,” ujar Dadan.

Meski demikian, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lingkungan sekolah tersebut tetap beroperasi normal untuk melayani sekolah lain di sekitarnya.

Selain Bosowa Bina Insani, beberapa sekolah swasta lain di Kota Bogor juga memilih tidak menerima MBG. Di antaranya Regina Pacis Bogor, Mardi Yuana, hingga Sekolah Bogor Raya.
Menurut Dadan, sekolah dari kalangan menengah ke atas memiliki hak untuk menentukan sikap terhadap program tersebut.

“Saya kira sekolah-sekolah yang masuk kategori menengah ke atas berhak tidak menerima, kami menghormati, meskipun tetap kami masukkan dalam program,” ucapnya.

BGN juga menegaskan bahwa tidak ada paksaan dalam pelaksanaan MBG, termasuk bagi orang tua siswa.

“Kami menghormati, tidak ada paksaan dalam program MBG ini,” tegas Dadan.

Program MBG sendiri telah berjalan selama satu tahun dua bulan dengan target 82,9 juta penerima manfaat, mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, balita hingga anak usia sekolah dari PAUD sampai SMA, termasuk santri.

Meski tidak bersifat wajib, MBG tetap dipandang sebagai intervensi penting di tengah masih terbatasnya akses gizi seimbang bagi anak-anak Indonesia.

Sekitar 60 persen anak Indonesia saat ini belum memiliki akses terhadap menu gizi seimbang dan di sisi lain, pertumbuhan penduduk yang masih mencapai sekitar 3 juta jiwa per tahun membuat intervensi gizi dinilai krusial untuk menjaga kualitas generasi produktif menuju Indonesia Emas 2045.(ded)

Editor : Eka Rahmawati
#bogor #sekolah elite #Makan Bergizi Gratis #Mbg #BGN