RADAR BOGOR - Sejumlah peserta event lari di Kota Bogor berencana menggelar aksi damai di kawasan Pusdikzi, Jumat, 3 April 2026. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap penyelenggara yang diduga menghilang dan tidak memenuhi janji kepada peserta.
Salah satu korban, Rizky, mengatakan aksi tersebut bukan demonstrasi, melainkan upaya mengumpulkan data sekaligus mencari kejelasan nasib peserta.
“Iya, lebih ke aksi damai, tujuannya juga untuk kumpulin data korban, karena ada kemungkinan nanti dilaporkan ke pihak berwajib,” kata Rizky.
Ia menjelaskan, aksi damai dipusatkan di Pusdikzi karena lokasi tersebut sebelumnya dijadwalkan sebagai tempat pengambilan race pack oleh panitia.
Baca Juga: Kali Ciheuleut Meluap, Puluhan Rumah di Cibuluh Kota Bogor Terendam Banjir
“Memang rencananya pengambilan race pack di sana, jadi teman-teman diarahkan kumpul di situ juga,” ujarnya.
Menurut Rizky, jumlah peserta yang tergabung dalam grup komunikasi mencapai sekitar 200 orang tetapi yang diperkirakan hadir dalam aksi damai sekitar 20 orang, mayoritas berasal dari Bogor dan sekitarnya.
“Di grup ada sekitar 200 orang, tapi yang hadir mungkin sekitar 20 orang, kebanyakan pelari dari Bogor, jadi lebih mudah koordinasi,” jelasnya.
Baca Juga: Cas HP Berujung Korsleting Listrik Picu Kebakaran di Jonggol Bogor, Satu Rumah Ludes Dilalap Api
Event tersebut awalnya dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 5 April 2026, bertepatan dengan momen Paskah. Kegiatan itu menawarkan dua kategori jarak, yakni 5 kilometer dan 10 kilometer, dengan biaya pendaftaran berkisar antara Rp250 ribu hingga Rp360 ribu.
Namun, hingga mendekati hari pelaksanaan, kegiatan tersebut tidak kunjung terealisasi. Pihak penyelenggara bahkan diduga tidak dapat dihubungi.
“Orangnya sudah tidak jelas ke mana, bahkan sempat mau difasilitasi untuk ketemu dengan PB PASI, tapi tidak hadir,” ungkap Rizky.
Ia menambahkan, sebelumnya penyelenggara sempat menjanjikan kompensasi kepada peserta akibat penundaan acara tetapi janji tersebut juga tidak pernah direalisasikan.
“Awalnya diundur, terus dijanjikan ada kompensasi, tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan,” katanya.
Rizky menyebut total peserta kegiatan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 700 orang. Ia juga mengaku sempat menjadi penghubung antara peserta dengan pihak terkait untuk mencari solusi, tetapi upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
Melalui aksi damai ini, para korban berharap kasus tersebut mendapat perhatian publik dan media serta mendorong adanya langkah hukum terhadap penyelenggara.
“Kami ingin ada perhatian, supaya jelas ini kasusnya dan ada tindak lanjut,” pungkas Rizky. (bay)
Editor : Eka Rahmawati