RADAR BOGOR - Belasan pelari dari berbagai komunitas mendatangi kantor Pusdikzi, Kota Bogor Jumat 3 April 2026. Mereka diduga jadi korban event lari gadungan.
Kantor Pusdikzi sendiri adalah lokasi yang sempat dijanjikan penyelenggara event lari untuk pengambilan racepack. Mereka datang menggunakan berbagai outfit lari.
Salah satu korban, Rizky mengaku kecewa atas praktik dugaan penipuan yang dilakukan oleh penyelenggara event lari. Korban disebutnya bukan hanya dari Bogor.
“Kurang lebih pesertanya itu ada 700 orang. Kebanyakan dari Bogor tapi ada juga yang dari Bekasi, Tanggerang, Jakarta,” jelas Rizky pada awak media.
Rizky turut menceritakaan awal mula praktik penipuan ini. Informasi adanya event lari pertama kali ia dapatkan melalui postingan media sosial.
Penyelenggaran event mencatut berbagai instansi dalam postingan tersebut. Hal itu yang membuatnya begitu percaya. Ia pun langsung mendaftar.
Peserta diarahkan mendaftar secara online, termasuk transaksi pembayaran. Biaya pendfataran peserta beragam disesuaikan dengan jarak lari yang diikuti.
“Dari catatan biayanya sendiri sih kurang lebih untuk 5K itu di Rp200 ribu dan untuk jarak 10K itu kurang lebih di Rp300,” ungkap Rizky saat ditemui Radar Bogor di Pusdikzi.
Event lari itu sendiri semula dijanjikan berlangsung pasa Desember 2025 lalu. Namun panitia mendadak mengundur waktu pelaksanannya.
Waktu yang dijanjikan panitia berlangsung pada 5 April 2026. Rute lari sendiri akan dimulai dari kawasan Air Mancur atau depan Kantor Pusdikzi.
“Tapi jelang waktu pelaksanaan tidak bisa dihubungi. Jadi mungkin H-1 bulan atau dua bulan itu sudah tidak ada yang bisa berkomunikasi dengan pihak panitia,” ujarnya.
Rizky pun mengaku rugi atas praktik dugaan penipuan yang dilakukan oleh pihak penyelenggara. Jika ditotal kerugian ditaksir mencapai Rp200 juta.
“Kurang lebih kalau dihitung hampir Rp200 juta an. Dari 700 peserta dengan nilai HTM di Rp280 ribu sampai Ro380 ribu,” terang Rizky.
Atas kejadian para korban disebut Rizky membuka opsi untuk menempuh jalur hukum. Namun opsi ini masih dalam pembahasan dengan para korban lainnya.
“Kita lagi diskusi apakah itu nanti akan dilaporkan atau tidak. Kami si meminta kejelasan aja supaya ini tidak terjadi korban-korban berikutnya,” pungkasnya. (bay)
Editor : Yosep Awaludin