RADAR BOGOR – Keberadaan banner atau billboard dengan judul dan visual bernuansa kematian di ruang publik menuai perhatian dari kalangan kesehatan jiwa.
Pasalnya, benner bernuansa kematian itu dinilai berpotensi memicu gangguan psikologis, terutama bagi individu yang sedang dalam kondisi rentan.
Psikiater dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menilai, pesan visual bernuansa kematian pada benner seperti tulisan Aku Harus Mati yang dipajang di jalan raya bukan sekadar materi promosi hiburan.
Baca Juga: Tanam 1.000 Pohon di Sentul City, Kolaborasi Warga dan Pengembang Perkuat Ruang Terbuka Hijau Bogor
Dalam perspektif kesehatan mental, hal tersebut dapat menjadi pemicu (trigger) bagi sebagian orang.
“Bagi individu yang sedang mengalami depresi, perasaan putus asa, atau memiliki ide bunuh diri laten, paparan visual seperti itu bisa memperkuat pikiran negatif yang sudah ada,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam kajian psikologi dikenal istilah suicide contagion atau penularan prilaku mengakhiri nyawa sendiri akibat paparan informasi, gambar, maupun narasi tertentu.
Baca Juga: Wanita di Bojongsari Kota Depok ini Sumringah, Motornya yang Hilang Ditemukan Polisi
Fenomena ini juga dikenal sebagai Werther Effect, di mana seseorang terdorong meniru prilaku mengakhiri nyawa sendiri setelah terpapar konten serupa.
“Kalimat seperti aku harus mati, visual dramatis, atau nuansa menyeramkan dapat mengaktifkan pikiran terkait kematian, terutama pada individu dengan kondisi mental yang tidak stabil,” jelasnya.
Menurutnya, ada beberapa mekanisme psikologis yang bisa terjadi. Di antaranya priming effect.
Baca Juga: Pengusulan Formasi CASN 2026 Resmi Ditutup, Inilah 5 Instansi Pusat dengan Kuota CPNS Melimpah
Yaitu munculnya aktivasi pikiran tertentu akibat paparan kata atau gambar, serta cognitive reinforcement yang memperkuat keyakinan negatif pada penderita depresi.
“Selain itu, remaja dan individu yang sedang mengalami tekanan emosional cenderung lebih sugestibel. Mereka lebih mudah terpengaruh oleh visual yang kuat dan dramatis,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa media, baik dalam bentuk iklan, film, maupun konten digital, memang dapat menjadi faktor pencetus jika tidak disajikan secara bijak.
Terlebih jika mengandung unsur romantisasi kematian, narasi keputusasaan, atau penggambaran mengakhiri nyawa sendiri sebagai solusi.
Baca Juga: Bansos PKH dan BPNT Tidak Cair di Tahap 1 Tahun 2026? Ini Penjelasan untuk Penerima Desil 5
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa banner atau tontonan bukanlah penyebab tunggal.
Biasanya, hal tersebut menjadi pemicu pada individu yang sebelumnya sudah memiliki kerentanan, seperti depresi, trauma, konflik keluarga, hingga kesepian.
“Ini seperti pemantik pada bahan bakar yang sudah ada. Karena itu, kita tidak bisa mengabaikan dampaknya,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga ruang publik agar tetap ramah secara psikologis.
Mengingat ruang publik digunakan oleh berbagai kelompok usia dan latar belakang, mulai dari anak-anak hingga lansia.
“Di jalan raya ada banyak orang dengan kondisi mental yang berbeda-beda. Ada yang sedang berduka, ada yang kelelahan secara emosional, bahkan ada yang sedang berjuang untuk tetap bertahan hidup,” ucapnya.
Baca Juga: Jadwal Pencairan Bansos PKH dan BPNT April 2026 Dipercepat, Cek Daerahmu Sekarang!
Untuk itu, ia mengajak semua pihak, termasuk pelaku industri kreatif dan periklanan, agar lebih bijak dalam menyampaikan pesan di ruang publik.
“Tidak semua yang menarik perhatian itu aman bagi kesehatan jiwa. Kita perlu lebih sensitif dan bertanggung jawab,” tutupnya. (uma)
Editor : Yosep Awaludin