Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kisah Pelajar Kota Bogor Diterima di 13 Kampus Luar Negeri, Lawan Minder Nilai Kecil dengan Konsisten Belajar

Fikri Rahmat Utama • Rabu, 8 April 2026 | 21:25 WIB
Yuana Mutiara Zahra, siswi asal Bogor yang bersekolah di MAN Insan Cendekia Serpong yang berhasil menembus 13 kampus luar negeri, bahkan meraih beasiswa penuh ke Rusia. Foto: Sofyansyah/Radar Bogor
Yuana Mutiara Zahra, siswi asal Bogor yang bersekolah di MAN Insan Cendekia Serpong yang berhasil menembus 13 kampus luar negeri, bahkan meraih beasiswa penuh ke Rusia. Foto: Sofyansyah/Radar Bogor

RADAR BOGOR – Di tengah forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD 2027 di ICC Botani Square, Rabu, 8 April 2026, sosok pelajar muda asal Kota Bogor mencuri perhatian karena diterima di 13 kampus luar negeri.

Ia adalah Yuana Mutiara Zahra, siswi asal Kota Bogor bersekolah di MAN Insan Cendekia Serpong yang berhasil menembus 13 kampus luar negeri, bahkan meraih beasiswa penuh ke Rusia.

Di balik pencapaian itu, Yuana menyimpan perjalanan panjang yang tidak selalu mulus. Pelajar asal Kota Bogor itu mengaku sempat merasa minder saat duduk di bangku SMA karena berada di lingkungan dengan siswa-siswa berprestasi.

Baca Juga: DPRD Serahkan Ribuan Pokir di RKPD 2027, Infrastruktur hingga Kesehatan Jadi Prioritas

“Awalnya aku cukup minder karena sekolahku peringkat satu UTBK nasional. Teman-temanku pintar sekali, dan di kelas 10 sampai 11 aku sempat down, merasa tidak sepintar mereka,” ujarnya.

Rasa minder itu sempat membuatnya kehilangan arah. Nilai rapornya pun cenderung biasa saja, bahkan ia sempat berpikir untuk mengubur mimpinya kuliah di luar negeri.

Namun, menjelang kelas 12, Yuana memilih bangkit. Ia menyadari bahwa menyerah sebelum mencoba bukanlah pilihan.

Baca Juga: Bansos Tahap 2 Tahun 2026 Benarkah Hanya untuk Desil 1 dan 2? Ini Penjelasan Lengkap dan Nasib Desil 3-4

“Aku berpikir, masa mau mundur sebelum mencoba? Akhirnya aku mulai push diri untuk memperbaiki nilai, terutama matematika yang sebelumnya jelek,” katanya.

Perlahan, hasilnya mulai terlihat. Nilainya meningkat dan kepercayaan dirinya pun tumbuh kembali.

Tak hanya fokus akademik, Yuana juga membangun profil diri melalui berbagai pengalaman. Ia aktif di organisasi dan ekstrakurikuler, bahkan pernah memegang hingga 30 posisi serta menjadi Sekretaris OSIS.

Baca Juga: Ajang Porprov XV Jawa Barat 2026 Diproyeksi Putar Ekonomi Kota Bogor Secara Masif

Dari sana, ia belajar mengenali potensi dan minatnya sendiri. Menurutnya, hal itu menjadi kunci penting dalam proses seleksi kampus luar negeri.

“Kita harus kenal diri sendiri. Kampus luar negeri ingin tahu alasan kita memilih jurusan dan tujuan kita. Jangan sampai pilih jurusan karena FOMO,” jelasnya.

Perjuangan Yuana tidak berhenti di situ. Ia juga menghadapi tantangan besar dalam penguasaan bahasa Inggris. Ia baru mulai belajar serius di kelas 12 dengan mengubah kebiasaan sehari-hari.

Baca Juga: Dinamika Bansos 2026, Penebalan PKH dan BPNT Bergantung Pada Kondisi Ekonomi dan Harga Kebutuhan Pokok

“Aku biasakan nonton dan baca semuanya pakai bahasa Inggris. Prosesnya berat, bahkan skor IELTS-ku sempat mentok di angka 6,” ungkapnya.

Namun ia tidak menyerah. Setelah mencoba kembali melalui skema one skill retake, skor listening-nya meningkat hingga 7,5 dan nilai keseluruhan mencapai 6,5.

Dengan bekal tersebut, Yuana memberanikan diri mendaftar ke sekitar 25 universitas di enam negara, mulai dari Australia, Selandia Baru, Malaysia, Rusia, Hong Kong, hingga Jepang.

Baca Juga: Penyaluran Bansos PKH dan BPNT Memasuki Tahap 2, Ternyata Ini Jadwal Lengkap Pencairan 2026

Hasilnya di luar dugaan. Ia diterima di 12 universitas, bahkan satu kampus di Hong Kong memberinya dua pilihan jurusan, sehingga total penerimaan mencapai 13 kampus.

Kini, Yuana memutuskan mengambil beasiswa penuh dari Pemerintah Rusia dengan jurusan International Business. Ia berharap dapat berkuliah di pilihan utamanya, yakni St. Petersburg Polytechnic University.

Ia menyebut, keberhasilannya tidak lepas dari dukungan orang tua yang selalu mendorongnya sejak kecil untuk percaya diri dan berani mencoba.

Baca Juga: M. Zaidan Ahsan Sabet Emas di Jepang, Wali Kota Bogor Beri Hormat

“Motivasi terbesar aku adalah ingin membanggakan orang tua. Mereka selalu mendukung, bahkan sering mengirimkan informasi beasiswa setiap hari,” tuturnya.

Bagi Yuana, kunci untuk bangkit dari keterpurukan adalah tidak berlama-lama tenggelam dalam rasa gagal. Ia pun rutin melakukan journaling untuk menjaga kesehatan mentalnya.

“Kadang aku tulis apa saja yang sudah aku capai, supaya ingat bahwa aku tidak seburuk itu. Dari situ aku bisa bangkit lagi,” ujarnya.

Baca Juga: Heboh! 106 Warga Tanjungsari Bogor Diduga Keracunan MBG, Begini Penjelasan SPPG dan Dinkes

Kisah Yuana menjadi bukti bahwa keterbatasan, rasa minder, hingga kegagalan bukanlah akhir. Dengan konsistensi, keberanian mencoba, dan mengenali diri sendiri, mimpi besar pun bisa diraih.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#kampus luar negeri #kota bogor #pelajar