RADAR BOGOR – Pernahkah Anda merasakan sensasi nyeri yang tajam atau mendengar bunyi krek pada lutut saat sedang naik turun tangga? Jika iya, sebaiknya jangan dianggap remeh.
Keluhan yang sering dikira sebagai kelelahan biasa ini, bisa jadi merupakan gejala awal dari pengapuran lutut atau osteoartritis.
Di era modern yang serba dinamis, kondisi pengapuran lutut ini tidak lagi hanya menyerang lansia.
Baca Juga: Liris Wellness, Tempat Pijat dan Reflexology Family di Bogor dengan Beragam Treatment Relaksasi
Belakangan, tren pengapuran dini mulai ditemukan pada kelompok usia produktif akibat gaya hidup yang kurang tepat.
Apa Itu Pengapuran Lutut?
dr. Sherly Desnita Savio, Sp.OT, Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi di RS Melania Bogor, menjelaskan bahwa pengapuran lutut adalah kondisi di mana bantalan dan tulang rawan sendi mulai menipis.
"Ketika bantalan ini aus, tulang akan saling bergesekan. Inilah yang menyebabkan munculnya rasa nyeri, pembengkakan, hingga bunyi pada lutut saat digerakkan, terutama saat melakukan aktivitas berat seperti naik turun tangga atau berjongkok," ujar dr. Sherly.
Baca Juga: Botafogo Ditahan Caracas 1-1 Meski Dominan, Efektivitas Jadi Penentu di Copa Sudamericana
Mengapa Pengapuran Lutut Bisa Terjadi di Usia Muda?
Fenomena pengapuran dini kini menjadi perhatian serius di dunia medis, karena tidak lagi hanya menyasar usia lanjut.
dr. Sherly Desnita Savio, Sp.OT - atau yang akrab disapa Dokter Sherly - menjelaskan bahwa kelompok yang memiliki berat badan berlebih (obesitas), riwayat cedera sendi, hingga mereka yang kurang aktif bergerak (sedenter), memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami pengapuran sendi prematur.
"Jangan abaikan sinyal dari tubuh Anda. Nyeri yang muncul secara konsisten, disertai keluhan kaku dan sulit digerakkan bahkan untuk aktivitas sederhana, itu adalah alarm bahwa lutut Anda membutuhkan penanganan medis yang komprehensif," tegas Dokter Sherly.
Lebih lanjut, spesialis orthopaedi di RS Melania Bogor ini menerangkan bahwa selain faktor usia, pemicu utamanya adalah beban mekanis yang berlebihan pada sendi lutut serta kurangnya asupan nutrisi yang mendukung regenerasi tulang rawan.
Lantas, bagaimana cara memastikannya? Dokter Sherly menjelaskan bahwa diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya dengan tanya jawab lisan.
"Kami perlu melakukan pemeriksaan fisik mendalam dan didukung dengan pemeriksaan penunjang seperti Rontgen. Hal ini bertujuan untuk mendeteksi secara akurat tingkat keparahan penyempitan celah sendi, sehingga langkah pengobatan yang diambil bisa lebih tepat sasaran," tambahnya.
Apakah Semua Pengapuran Sendi Harus Dioperasi?
Nyatanya, tidak semua kasus pengapuran sendi harus dioperasi. Sebagian besar justru bisa ditangani dengan cara konservatif seperti obat minum, fisioterapi, penurunan berat badan, hingga injeksi sendi, tergantung derajat keparahan dan keluhan pasien.
Operasi biasanya menjadi pilihan terakhir bila nyeri sudah berat, fungsi sendi sangat terganggu, dan terapi non-operatif tidak lagi membantu.
Baca Juga: Corinthians Unggul Tipis atas Platense di Libertadores, Gol Tunggal Menentukan di Babak Kedua
“Kondisi setiap pasien itu unik, jadi penanganannya juga harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing,” ujar dr. Sherly.
Tips Mencegah Pengapuran Dini
Mencegah tentu jauh lebih baik daripada mengobati. Untuk menjaga kesehatan sendi lutut Anda, dr. Sherly Desnita Savio, Sp.OT menyarankan langkah-langkah sebagai berikut:
• Menjaga Berat Badan Ideal: Setiap kilogram berat badan yang berkurang akan sangat signifikan mengurangi beban tekanan pada sendi lutut.
• Rutin Berolahraga Low-Impact: Pilihlah olahraga yang ramah sendi seperti berjalan di air, berenang atau bersepeda. Olahraga ini memperkuat otot paha dan betis yang menyangga lutut tanpa memberikan tekanan berlebih.
• Gunakan Alas Kaki yang Nyaman: Hindari penggunaan sepatu hak tinggi dalam jangka waktu lama karena dapat mengubah mekanika tumpuan beban tubuh.
• Pola Makan Sehat: Konsumsi makanan yang kaya akan kalsium, Vitamin D, dan Omega-3 untuk membantu menjaga kesehatan tulang dan sendi.
• Perhatikan Postur Tubuh: Hindari posisi jongkok atau berlutut terlalu lama yang dapat menekan sendi secara berlebihan.
Bagi warga Bogor yang mulai merasakan keluhan pada sistem gerak, silahkan kunjungi Dokter Tulang Kesayangan atau langsung ke Klinik Orthopaedi RS Melania.
Baca Juga: Transformasi Mulus FEMA IPB Disorot di Halal Bihalal, Siap Hadapi Tantangan Global dan Era AI
Di Klinik Orthopaedi Rumah Sakit Melania, pasien dapat berdiskusi langsung dengan dokter spesialis untuk mendapatkan diagnosis yang akurat, mulai dari manajemen nyeri hingga penanganan cedera tulang, otot, dan sendi yang lebih kompleks.
"Kami di RS Melania Bogor berkomitmen membantu masyarakat untuk kembali bergerak bebas tanpa rasa sakit. Jangan menunggu nyeri hebat, karena tulang yang sehat adalah kunci kebebasan kita bergerak. Penanganan sejak dini adalah kunci agar kualitas hidup tetap terjaga hingga usia senja,," tutup dr. Sherly Desnita Savio, Sp.OT. (***)
Editor : Yosep Awaludin