Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Aksi Vandalisme di Kota Bogor Disorot, Psikolog: Bukan Sekadar Iseng, Berikut Faktor Psikologisnya

Muhamad Rifki Fauzan • Jumat, 10 April 2026 | 18:01 WIB
Tembok trotoar di Jalan Ahmad Yani Kota Bogor dipenuhi coretan aksi vandalisme.(Fauzan/Radar Bogor)
Tembok trotoar di Jalan Ahmad Yani Kota Bogor dipenuhi coretan aksi vandalisme.(Fauzan/Radar Bogor)

RADAR BOGOR - Maraknya aksi vandalisme di Kota Bogor rupanya tidak terjadi secara tunggal, kondisi ini juga dipengaruhi oleh faktor psikologis pelakunya.

Psikolog dari Rumah Cinta, Retno Lelyani Dewi, menjelaskan bahwa vandalisme kerap dikaitkan sebagai bentuk pelampiasan emosi negatif, seperti frustrasi, kemarahan, hingga rasa bosan.

“Secara psikologis, vandalisme merupakan bentuk pelampiasan emosi karena pelaku merasa marah, frustrasi, kecewa, atau bosan,” jelasnya pada Radar Bogor, Jumat 10 April 2026 siang. 

Baca Juga: Belasan Bus AKAP di Terminal Bubulak Kota Bogor Ditilang, Berikut Jenis Pelanggaran yang Ditemukan Dishub

Aksi vandalisme bisa muncul pada remaja yang tengah dalam fase eksplorasi diri, dalam kondisi ini, praktik merusak fasilitas umum kerap dijadikan cara untuk mencari perhatian.

Selain itu, vandalisme juga dapat berkaitan dengan gangguan perilaku seperti conduct disorder, yakni pola perilaku berulang yang melanggar norma sosial maupun hukum.

Dari sisi sosial, Retno menyebut pengaruh teman sebaya menjadi salah satu faktor dominan. Tekanan dari kelompok (peer group) dapat mendorong individu untuk ikut melakukan aksi perusakan.

Baca Juga: Pemkab Bogor Akan Bangun Lapangan Tembak di Pakansari, Lelang Fisik Ditargetkan Akhir April 2026

“Tekanan dari teman sebaya bisa membuat seseorang ikut-ikutan melakukan vandalisme,” jelasnya.

Faktor lain yang turut memicu adalah pola asuh permisif di lingkungan keluarga, pola ini cenderung memberikan kebebasan tanpa batas, sehingga individu merasa dapat melakukan apa saja tanpa konsekuensi.

Selain itu, kurangnya pengawasan juga menjadi celah terjadinya vandalisme, baik dari sisi penjagaan maupun minimnya fasilitas pengawasan seperti CCTV di ruang publik.

Retno juga menyoroti adanya faktor kepentingan kelompok tertentu yang sengaja melakukan aksi vandalisme untuk menebar rasa takut atau menunjukkan dominasi wilayah.

Tak kalah penting, pengaruh media sosial turut berperan. Konten yang menampilkan pelanggaran aturan dapat menjadi inspirasi bagi individu untuk meniru tindakan serupa.

“Beberapa konten di media sosial yang memperlihatkan pelanggaran aturan bisa memicu orang lain untuk melakukan vandalisme,” pungkasnya.(bay)

Editor : Eka Rahmawati
#kota bogor #vandalisme #psikolog