RADAR BOGOR – Sebuah gang sempit seukuran satu mobil di Jalan Pd Tajur Indah, Bogor Timur, Kota Bogor, membawa langkah pada sebuah rumah yang berbeda dari sekitarnya, letaknya memang tak jauh dari jalan raya, tetapi suasananya seolah terpisah dari hiruk pikuk kota.
Di ujung jalan itu berdiri Rumah Baca Anjangsana, tak banyak orang lalu lalang. Hanya deretan rumah klasik yang berdiri berdampingan, menambah kesan tenang di kawasan tersebut.
Begitu memasuki area rumah, suasana sejuk langsung terasa, pepohonan di halaman belakang tumbuh rindang, sementara di sisi paling belakang, aliran Sungai Ciliwung mengalir pelan. Gemericik air berpadu dengan udara segar menciptakan ruang yang pas untuk berdiam, membaca, atau sekadar melepas penat.
Tempat ini dikelola pasangan suami istri, Ryan Rinaldy dan Nadia Pratiwi. Dengan tim kecil, keduanya merintis ruang literasi yang tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang pertemuan antarmanusia.
“Tim kami di sini sangat kecil, hanya aku dan istriku yang mengelola, dibantu teman-teman di bagian dapur, kami menyebut tempat ini sebagai perpustakaan dan toko buku rumahan,” kata Ryan saat ditemui Radar Bogor, Sabtu, 11 April 2026.
Di dalam rumah, rak-rak buku tersusun sederhana tetapi rapi, ada sekitar 1.500 buku tersedia untuk dibaca di tempat.
Baca Juga: Pendaftaran CPNS 2026 di Depan Mata, Cek 15 Formasi Bergengsi Khusus Lulusan SMA, Tak Kalah dari S1
Koleksinya beragam, mulai dari komik, novel, buku nonfiksi, hingga buku anak bergambar, suasana yang hangat membuat pengunjung betah berlama-lama, bahkan tanpa terasa waktu berjalan cepat.
Salah satu ruangan yang dulunya kamar tidur kini disulap menjadi toko buku kecil, di sana, buku-buku dari penerbit lokal independen turut dipajang. Pengunjung tidak hanya bisa membaca, tetapi juga membeli buku sambil menikmati makanan dan minuman yang tersedia.
Nama “Anjangsana” yang disematkan bukan sekadar pilihan, Ryan menjelaskan, istilah tersebut memiliki makna silaturahmi atau kunjungan untuk melepas rindu.
“Kami memaknai Rumah Baca Anjang Sana sebagai tempat orang bersilaturahmi dengan cerita dan buku, kedatangan pengunjung rasanya seperti menyambut tamu, bukan sekadar customer,” tuturnya.
Tak jarang, perbincangan hangat terjadi antar pengunjung yang awalnya tidak saling mengenal, dari sekadar membaca, mereka saling bertukar cerita, bahkan menjalin pertemanan baru. Beberapa di antaranya kembali lagi, kali ini datang bersama teman yang baru dikenalnya di tempat tersebut.
Ide menghadirkan rumah baca ini bermula dari perjalanan Ryan bersama keluarganya ke Hanoi, Vietnam, pada Desember 2024. Di sana, ia menemukan sebuah kafe unik yang memanfaatkan barang-barang bekas sebagai dekorasi.
Pengalaman itu memantik ingatan akan rumah keluarga di Bogor yang telah lama kosong, serta koleksi buku yang tersimpan. Dari sanalah muncul gagasan untuk menghidupkan kembali rumah tersebut menjadi ruang yang lebih bermanfaat.
Baca Juga: Lansia Hilang saat Menjala Ikan di Sungai Ciliwung Cilebut Bogor, Masih Dalam Pencarian
Prosesnya tidak instan. Selama kurang lebih enam bulan, Ryan dan Nadia menyiapkan segala hal, mulai dari membersihkan rumah, mengatasi rayap, hingga memilah barang yang masih bisa digunakan kembali.
Rumah Baca Anjangsana resmi dibuka untuk umum pada 25 Oktober 2025. Awalnya hanya beroperasi di akhir pekan, menyesuaikan dengan kesibukan keduanya. Namun, tingginya minat pengunjung membuat mereka kini membuka tempat ini 5 hari dalam sepekan.
Untuk menikmati suasana dan fasilitas di dalamnya, pengunjung dikenakan tiket masuk Rp20.000 untuk dewasa dan Rp10.000 untuk anak atau remaja. Tiket tersebut sudah termasuk voucher yang bisa digunakan untuk membeli makanan, minuman, atau buku.
Baca Juga: Persiapan CPNS 2026: Cek Apakah Anda Termasuk dalam Daftar Calon Pelamar yang Dilarang Ikut Seleksi
Di luar dugaan, pengunjung tidak hanya datang dari Bogor, banyak yang rela menempuh perjalanan jauh dari berbagai daerah seperti Jabodetabek, Karawang, hingga Sukabumi.
“Ada yang dari Sukabumi naik kereta jam 5 pagi, sampai Bogor langsung ke sini. Bahkan sebelum buka sudah datang, lalu siangnya pulang lagi,” ungkap Ryan.
Cerita-cerita seperti itu menjadi penyemangat tersendiri bagi pengelola, seiring waktu, rumah baca ini juga tumbuh berkat dukungan banyak pihak.
Buku-buku yang tersedia kini tidak lagi hanya berasal dari koleksi pribadi, tetapi juga hasil donasi dari keluarga, teman, hingga orang yang sebelumnya tidak dikenal.
Bagi Ryan, Rumah Baca Anjangsana bukan sekadar tempat membaca, ia ingin ruang ini menjadi titik temu, tempat orang kembali pada kebiasaan sederhana yang kini mulai jarang: membaca buku dan berbincang tanpa distraksi.
Ke depan, ia berharap koleksi buku terus bertambah dan kegiatan literasi bersama komunitas bisa lebih sering digelar. Lebih dari itu, ia juga berharap muncul lebih banyak ruang serupa di Bogor, sehingga ekosistem literasi dapat tumbuh dan saling menguatkan.(uma)
Editor : Eka Rahmawati