Di sebuah ruangan perpustakaan, suasana sore itu terasa tenang. Hanya ada dua anak yang duduk menggambar dengan krayon dan kuas warna-warni di depannya.
Keduanya tampak larut dalam aktivitas masing-masing. Di sudut ruangan, beberapa hasil lukisan dipajang, menjadi penanda proses belajar yang terus berkembang.
Kelas melukis ini merupakan bagian dari kegiatan Komunitas Senyum Persahabatan Difabel Bogor. Meski baru berdiri pada Januari 2026, komunitas ini telah menjadi wadah bagi puluhan anak difabel beserta orang tua mereka.
Ketua komunitas, Eko Yus Samanti Ningsih, menjelaskan kegiatan rutin digelar dua kali dalam sepekan. Selain di Perpustakaan Kota Bogor, aktivitas juga kerap dilakukan di studio kawasan Mall BTM.
“Kita berkegiatan di sini dan kadang-kadang di studio Mall BTM. Kegiatannya setiap Senin dan Sabtu, jam satu sampai tiga siang,” ujarnya.
Ia menuturkan, latar belakang anak-anak di komunitas ini beragam. Sebagian masih bersekolah di SLB, SMP negeri, hingga SD negeri. Namun, tidak sedikit yang membutuhkan ruang belajar tambahan di luar pendidikan formal.
Berangkat dari kondisi tersebut, komunitas ini hadir sebagai solusi sederhana tanpa membebani orang tua. Mereka bahkan menggratiskan sejumlah kegiatan yang rutin digelar.
Baca Juga: Bogorku Bersih 2026 Kembali Digelar di Kota Bogor, Jadi Jembatan Menuju PSEL
“Kalau orang tuanya mampu, hanya beli kebutuhan sendiri seperti cat atau bahan. Kita tidak ada penarikan iuran,” jelasnya.
Tak hanya kelas melukis, komunitas ini juga menyediakan berbagai keterampilan lain seperti modeling, menari, membatik, shibori, ecoprint, hingga membuat kerajinan seperti meronce dan strap ponsel.
“Pesertanya ada sekitar 60 anak. Tapi mereka bebas memilih kelasnya. Kalau semua melukis, gurunya tentu kewalahan,” tambahnya.
Komunitas ini, lanjut Eko, berawal dari kegiatan anak-anak difabel di SMPN 16 Bogor. Seiring waktu, permintaan untuk bergabung terus berdatangan hingga akhirnya dibentuk komunitas terpisah dari sekolah formal.
“Kasihan juga anak-anak ini mau ke mana. Tidak semua orang tua mampu menyekolahkan di sekolah inklusi yang mahal,” katanya.
Ia menegaskan, komunitas ini dibangun atas semangat kebersamaan para orang tua, dengan prinsip “dari kita untuk kita”. Harapannya dengan adanya organisasi ini bisa membantu orang tua mengembangkan potensi anaknya.
Untuk mendukung kegiatan, komunitas juga menggandeng seniman lokal. Salah satunya Gunawan yang menjadi mentor kelas melukis.
Baca Juga: Berkunjung ke Rumah Baca Anjangsana, Oase Membaca Tersembunyi di Sudut Bogor Timur Kota Bogor
Menurutnya, pendekatan yang digunakan tidak kaku. Anak-anak lebih dulu diajak menikmati proses sebelum dikenalkan pada teknik.
“Saya bebaskan mereka mau corat-coret apa saja. Yang penting senang dulu dengan warna dan berani bereksplorasi,” ujarnya.
Dari sekitar 15 anak di kelas melukis, baru beberapa yang mulai masuk tahap teknis. Salah satunya Nabil, yang menunjukkan perkembangan cukup menonjol.
“Waktu ikut festival, Istri Wali Kota sempat melihat langsung dan cukup takjub,” ungkapnya.
Gunawan menilai keberadaan komunitas di ruang publik seperti perpustakaan menjadi langkah penting untuk membangun penerimaan masyarakat terhadap anak difabel.
Menurutnya, stigma dan keterbatasan akses masih menjadi tantangan yang dihadapi.
“Ini jadi peluang agar masyarakat lebih berani menerima. Karena masih banyak anak berkebutuhan khusus yang rentan terlantar,” ucapnya.
Ke depan, komunitas ini memiliki mimpi lebih besar, yakni menghadirkan galeri khusus untuk karya anak difabel.
Mereka berharap ada dukungan dari pemerintah maupun swasta agar memiliki ruang yang lebih representatif.
“Harapannya mereka punya ruang sendiri untuk memamerkan karya, sekaligus mengedukasi masyarakat agar tidak lagi memandang sebelah mata,” tutupnya.(uma)
Editor : Eka Rahmawati