Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Jadi Kartini Masa Kini, Dosen Fakultas Hukum Unpak Bogor Tegaskan Perempuan Bisa Jalani Peran Ganda

Fikri Rahmat Utama • Senin, 20 April 2026 | 19:13 WIB
Dosen Fakultas Hukum Universitas Pakuan, Mustika Mega Wijaya (kanan) dalam Podcast Bicara Bogor. (Fikri/Radar Bogor)
Dosen Fakultas Hukum Universitas Pakuan, Mustika Mega Wijaya (kanan) dalam Podcast Bicara Bogor. (Fikri/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Sosok Kartini masa kini tidak lagi hanya berbicara soal akses pendidikan, tetapi juga keberanian bersuara dan kesetaraan peran di berbagai lini kehidupan, hal itu disampaikan Dosen Fakultas Hukum Universitas Pakuan (Unpak), Dr. Mustika Mega Wijaya dalam Podcast Bicara Bogor, Senin 20 April 2026.

Ia menegaskan, perempuan saat ini memiliki ruang yang lebih luas untuk berkembang, baik di ranah domestik maupun publik tetapi tantangan yang dihadapi juga semakin kompleks.

“Kalau dulu Kartini berjuang untuk pendidikan, sekarang perempuan juga harus berani bersuara dan mendapatkan perlakuan yang sama, Kartini masa kini adalah perempuan yang bisa bekerja sekaligus menjadi ibu,” ujar Mustika Mega Wijaya.

Baca Juga: Tak Cukup OTT, Akademisi Minta KPK Bongkar Mafia Bea Cukai Sampai Akar dalam Diskusi Nasional di Unpak Bogor

Menurutnya, peran ganda sebagai ibu dan wanita karier bukan hal yang mudah, dibutuhkan kemampuan manajemen waktu, ketahanan mental, serta dukungan lingkungan.

“Perempuan itu multitalenta, bisa mengerjakan beberapa hal dalam satu waktu, tantangannya berat, tapi bukan berarti tidak bisa dijalani, Kita bukan ingin mengalahkan laki-laki, tapi ingin kedudukan yang setara,” jelasnya.

Ia menambahkan, di tengah kesibukan karier, seorang ibu tetap memiliki peran penting dalam pola asuh anak, meski tidak selalu bersama selama 24 jam, kedekatan emosional tetap bisa dibangun.

Baca Juga: Jangan Sampai Gagal Masuk Ruang Ujian, Ini Panduan Lengkap UTBK-SNBT 2026 di IPB yang Wajib Dicek

“Perempuan tetap punya kelebihan dalam mengontrol pola asuh anak. Itu yang tidak bisa tergantikan,” katanya.

Dalam perjalanan hidupnya, Mustika juga sempat berada di titik terendah saat didiagnosis kanker payudara stadium 4 hingga mengalami koma. Di saat bersamaan, ia harus menyelesaikan pendidikan doktoralnya.

“Itu titik terendah saya, tapi juga menjadi perjalanan spiritual, saat bangun dari koma, yang saya ingat justru ingin ujian disertasi,” ungkapnya.

Ia bahkan menjalani ujian awal secara daring dari rumah sakit, dengan kondisi fisik yang belum sepenuhnya pulih, tetapi semangat hidupnya membuatnya mampu menjalani ujian tersebut.

“Saya ingin tetap melakukan yang terbaik, itu yang jadi penyemangat,” kata Mustika.

Motivasi untuk meraih pendidikan tinggi, lanjut Mustika, tidak lepas dari peran ibunya yang meski tidak lulus sekolah dasar, sangat menekankan pentingnya membaca dan belajar. Lewat pendidikan setiap orang bisa merubah dirinya menjadi lebih baik.

“Sejak kecil saya selalu diminta pegang buku, itu yang membentuk saya sampai sekarang,” katanya.

Selain itu, ia juga ingin mematahkan stereotip terhadap perempuan Sunda yang kerap dipandang sebelah mata, perempuan tidak hanya bisa di rumah tetapi mampu berkarir diberbagai bidang seperti halnya laki-laki.

“Ada anggapan perempuan Sunda itu pendidikannya rendah, materialistis, hanya suka dandan, saya ingin buktikan bahwa perempuan Sunda bisa berpendidikan tinggi,” tegasnya.

Baca Juga: Jangan Dulu Panik, Lakukan Ini Jika Status KPM di Aplikasi Cek Bansos Tiba-tiba Jadi Tidak Aktif

Menurutnya, perempuan tidak harus memilih antara karier atau keluarga, keduanya bisa dijalankan secara seimbang.

Ia juga meluruskan pemahaman tentang kodrat perempuan yang kerap disalahartikan, menurutnya hanya ada tiga kodrat perempuan yang diciptakan Tuhan.

“Kodrat perempuan itu hanya tiga: hamil, melahirkan, dan menyusui, di luar itu, perempuan punya hak untuk berkembang, termasuk berkarier,” jelasnya.

Selain itu, Mustika menekankan pentingnya keberanian untuk melawan kekerasan, baik verbal, fisik, maupun dalam rumah tangga, perempuan harus mampu mencegah dirinya menjadi korban kekerasan.

“Perempuan harus berdaya dan jangan takut bersuara, kalau kita diam, berarti kita membiarkan kekerasan itu terjadi,” ujarnya.

Ia juga mengajak sesama perempuan untuk saling mendukung dan memperkuat solidaritas dan dengan begitu, tak mudah bagi perempuan menjadi korban kekerasan.

“Sekarang zamannya kolaborasi, bukan saling bersaing, kalau ada yang jatuh, kita bantu berdiri,” tandasnya. (uma)

Editor : Eka Rahmawati
#bogor #dosen #Unpak #kartini