RADAR BOGOR - Perubahan iklim ekstream mendapat perhatian serius Pemerintah Kota Bogor dan akan segera membahas langkah antisipasi terkait dampak yang ditimbulkan.
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengatakan langkah antisipasi tersebut akan dibahas melalui Rapat Pimpinan (Rapim) yang akan digelar pekan ini.
“Yang pasti kita dalam minggu ini akan ada rapim, salah satu bahan bahasannya adalah bagaimana evaluasi perubahan iklim yang drastis,” ujar Dedie.
Baca Juga: Pestigo Catat Kenaikan Pendapatan 97 Persen dan Akan Menambah 21 Area Layanan Baru
Agenda tersebut dinilai penting, sebab yang terjadi belakangan ini bukan hanya perubahan iklim, tetapi climate disaster, intensitas bencana ini pn dinilai bakal meningkat.
“Bukan lagi climate change tapi cilmate disaster, kalau climate disaster apa yang harus dilakukan, yang pertama cintai lingkungan,” terang Dedie.
Dalam setahun, Kota Bogor rata-rata dikepung 1.000 kejadian bencana dan lokasinya berbeda, tersebar di enam kecamatan.
Baca Juga: Bansos PKH dan BPNT Tahap 2 April-Juni 2026 Belum Dicairkan, Ini Status Terbaru yang Perlu KPM Tahu
“Ada 1000 jenis kejadian setiap tahun di Kota Bogor salah satunya adalah penguatan dari kapasitas personel. Baik BPBD maupun Damkar,” terang Dedie.
Dedie juga minta peran aktif dari masyarakat, mereka tidak lagi diperkenankan untuk membuang sampah sembarangan, apalagi ke aliran air.
“Sebagai manusia berakal yang punya akal budi jangan buang sampah sembarangan lagi dong, kita pelihara dan lestarikan alam, insya allah alam jaga kita,” terangnya.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat Rakhmat Prasetia menjelaskan wilayah Bogor akan mulai memasuki musim kemaru selama dua bulan.
“Bogor dan sekitarnya baru mulai masuk musim kemarau pada Mei hingga Juni, sehingga pada periode sekarang masih wajar jika hujan masih terjadi,” pungkasnya.(bay)
Editor : Eka Rahmawati