Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Penyakit Campak Kembali Intai Kota Bogor, Dinkes Temukan 802 Kasus, Kecamatan Ini Tertinggi

Muhamad Rifki Fauzan • Selasa, 21 April 2026 | 21:14 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Erna Nuraena saat menyampaikan keterangan. (Fauzan/Radar Bogor)
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Erna Nuraena saat menyampaikan keterangan. (Fauzan/Radar Bogor)

RADAR BOGOR - Penyakit campak terus mengintai Kota Bogor, Dinas Kesehatan (Dinkes) menemukan ada 802 warga yang mengidap penyakit menular tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Erna Nuraena menjelaskan data tersebut dihimpun dari pertengahan bulan Januari hingga akhir Maret 2026.

“Dari seluruh kasus yang dilaporkan, 802 kasus merupakan warga berdomisili Kota Bogor, 466 kasus warga Kabupaten Bogor, dan 50 kasus berasal dari luar,” bebernya.

Pengidap campak tertinggi palinh banyak berasal dari Kecamatan Bogor Barat dengan 293 kasus, berikutnya di Tanah Sareal 293 kasus. 

Baca Juga: Bukan Hanya TPG, Guru Kategori Ini Berpotensi Terima Transferan Berlipat Bulan Ini, Cek Selengkapnya

“Kecamatan Bogor Selatan 141 kasus, sementara Kecamatan Bogor Utara 71 kasus, Bogor Timur 64 kasus, dan Bogor Tengah 61 kasus,” ungkap Erna. 

Erna menjelaskan penyakit campak sendiri merupakan infeksi virus yang sangat menular. Biasanya ditularkan melalui droplet saat penderita tengah batuk atau bersin. 

Campak ditandai adanya demam, kemudian bercak merah yang muncul dari belakang telinga dan menyebar ke seluruh tubuh, sering

“Penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, gizi buruk hingga kematian terutama pada balita, dan mereka yang belum imunisasi,” jelas Erna, Selasa, 21 April 2026. 

Baca Juga: Jalur Bojongkoneng–Cijayanti yang Dilintasi Presiden Prabowo Jadi Proyek Awal Gentengisasi di Kabupaten Bogor

Sebagai respons terhadap situasi tersebut, Pemerintah Kota Bogor melalui Dinas Kesehatan memperkuat sistem surveilans dan deteksi dini campak di puskesmas dan rumah sakit.

“Langkah ini mencakup pelaporan cepat, penyelidikan epidemiologi, serta tracing kasus di wilayah,” kata Erna.

Selain itu, pemerintah juga menyelenggarakan Catch-Up Campaign (CUC) campak/MR dengan menyasar anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi.

“Capaian imunisasi telah melampaui target, dengan lebih dari 2.300 anak berhasil diimunisasi dari sasaran awal sekitar 2.251 anak, baik untuk kelompok MR1 maupun MR2,” ujarnya.

Pelaksanaan imunisasi dilakukan melalui puskesmas, posyandu, sweeping dari rumah ke rumah, serta melibatkan fasilitas pendidikan dan tempat ibadah.

Baca Juga: Siap-siap, Ada Penebalan Bansos di Tengah Isu Harga BBM 2026, Jumlah KPM Bakal Diperluas? Simak Penjelasannya

Di tingkat rumah sakit, upaya penanganan juga diperkuat melalui triase dini gejala campak di pintu masuk layanan, termasuk IGD, rawat jalan, dan rawat inap.

Rumah sakit juga menyiapkan ruang isolasi sesuai standar serta memastikan ketersediaan alat pelindung diri bagi tenaga kesehatan.

“Pengaturan jadwal tenaga medis juga dilakukan agar tetap optimal, serta disiapkan mekanisme penanganan bagi tenaga kesehatan yang terpapar atau terkonfirmasi campak,” jelasnya.

Baca Juga: Hari Pertama UTBK-SNBT di IPB University: Ribuan Peserta Padati Kampus di Bogor Sejak Subuh

Erna menegaskan campak merupakan penyakit serius yang dapat menyerang semua kelompok umur, baik anak-anak, remaja, maupun orang dewasa yang belum memiliki kekebalan.

“Kasus yang kembali muncul ini menunjukkan bahwa kewaspadaan masyarakat perlu ditingkatkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kunci utama pencegahan campak adalah imunisasi sesuai program pemerintah.

“Orang tua diimbau memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap dan segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan jika ada yang tertinggal,” katanya.

Masyarakat juga diminta tidak menunda imunisasi karena kekhawatiran efek samping, sebab kondisi anak akan terlebih dahulu diperiksa oleh petugas.

Selain itu, warga diminta segera memeriksakan diri jika mengalami gejala seperti demam disertai ruam merah, batuk, pilek, atau mata merah.

Baca Juga: BRI Wujudkan Kesetaraan Gender Lewat Kepemimpinan Inklusif dan Pemberdayaan Jutaan UMKM Perempuan

“Jika muncul kondisi gawat darurat seperti sesak napas, lemas, atau sulit dibangunkan, segera bawa ke fasilitas kesehatan atau hubungi layanan 119,” pungkasnya.(bay)

Editor : Eka Rahmawati
#kota bogor #dinkes #campak