RADAR BOGOR - Fenomena ikan sapu-sapu mulai marak ditemukan di sejumlah aliran sungai di Kota Bogor. Meski belum separah di seperti Jakarta, keberadaannya kini mulai terdeteksi di beberapa titik.
Satgas Naturalisasi Ciliwung, Suparno Jumar, mengungkapkan setidaknya ada dua lokasi utama di aliran Sungai Ciliwung yang menjadi habitat ikan tersebut.
“Yang saya ketahui selama aktivitas di Sungai Ciliwung di Kota Bogor, itu ada dua titik. Pertama di sekitar jembatan Yapis, Bantarjati yang berbatasan dengan Tanah Sareal,” ujarnya.
Lokasi kedua berada di wilayah hilir Kota Bogor, tepatnya di antara Kelurahan Kedung Halang dan Kelurahan Sukaresmi, Kecamatan Tanah Sareal.
Baca Juga: Peringati Hari Bumi 2026 di Kota Bogor, Sunset di Kebun Angkat 1,2 Ton Sampah dari Sungai Ciliwung
“Biasanya di situ alirannya lebih tenang, jadi pemancing sering mendapatkan ikan sapu-sapu di sana,” jelas Suparno kepada Radar Bogor.
Selain di Ciliwung, ikan sapu-sapu juga disebut banyak berkembang di sungai-sungai kecil di Kota Bogor yang memiliki arus lebih lambat.
“Seperti di Cipakancilan, Ciparigi dan beberapa kali kecil lainnya, saya memastikan banyak. Karena alirannya lebih moderat dan pasokan makanannya melimpah,” terang Suparno.
Ia menjelaskan, ikan sapu-sapu berkembang pesat karena ketersediaan makanan yang berasal dari limbah organik rumah tangga.
“Proses pembusukan dari sisa makanan yang masuk ke saluran air itu menjadi nutrien bagi sapu-sapu. Itu yang membuat mereka cepat berkembang,” ucapnya.
Keberadaan ikan sapu-sapu ini dinilai berpotensi merusak ekosistem sungai. Bukan karena memangsa ikan lain, melainkan mengganggu proses reproduksi ikan lokal.
“Ketika ikan lokal bertelur di batu atau dinding sungai, sapu-sapu ini mengaduk sedimentasi. Akibatnya telur ikan tertutup dan gagal menetas,” jelasnya.
Tak hanya itu, ikan sapu-sapu juga berpotensi merusak struktur bantaran sungai. Mereka membuat lubang di dinding tanah untuk bertelur.
“Kalau rongga-rongga itu semakin banyak, bisa mengancam dinding sungai dan berpotensi longsor,” kata Suparno dikonfirmasi lebih lanjut.
Suparno menilai pemerintah daerah perlu mengambil langkah serupa seperti yang dilakukan di Jakarta, yakni melakukan penangkapan masif ikan sapu-sapu.
Baca Juga: Peringati Hari Bumi 2026 di Kota Bogor, Sunset di Kebun Angkat 1,2 Ton Sampah dari Sungai Ciliwung
“Iya, harus dilakukan. Tapi jangan hanya di Sungai Ciliwung, anak-anak sungainya juga harus dibersihkan,” tegasnya.
Namun demikian, upaya tersebut harus dibarengi dengan pemutusan sumber makanan ikan sapu-sapu agar hasilnya efektif.
“Pasokan makanan dari limbah organik rumah tangga harus dihentikan. Kalau tidak, mereka akan terus berkembang,” ucapnya.
Ia menekankan penanganan harus dilakukan secara berkelanjutan, tidak sekadar kegiatan seremonial.
“Penangkapan harus rutin, bisa dengan jaring, pancing atau alat lain. Jadi efeknya jangka panjang,” pungkasnya.(bay)
Editor : Eka Rahmawati