RADAR BOGOR - Pembelajaran Sejarah, selama ini kerap dianggap membosankan oleh peserta didik.
Metode ceramah yang panjang dan berfokus pada hafalan tanggal serta peristiwa membuat banyak siswa kehilangan minat belajar.
Padahal, mata pelajaran ini memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda Indonesia.
Baca Juga: Ratusan Kucing Disteril di IPB Dramaga, Aksi Gratis Ini Jadi Solusi Atasi Populasi Liar
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius para pendidik, terutama di tengah karakter peserta didik yang kini didominasi oleh generasi Z dan generasi Alpha.
Kedua generasi ini tumbuh bersama teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (AI), sehingga membutuhkan metode pembelajaran yang lebih interaktif, menantang, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Dalam kegiatan TERAS (Temu Ruang Ajar Sejarah) yang diselenggarakan oleh MGMP Sejarah Kota Bogor pada Kamis, 23 April 2026, para guru mendapatkan wawasan baru tentang transformasi pembelajaran Sejarah.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan praktisi dan akademisi untuk membahas pendekatan inovatif, salah satunya melalui gamifikasi.
Aritta Megadomani, S.Si., M.Pd, selaku pengembang teknologi pembelajaran dari BBGTK Jawa Barat menegaskan, pembelajaran Sejarah tidak seharusnya hanya berfokus pada hafalan.
Menurutnya, di era abad ke-21, peserta didik perlu diajak memahami makna di balik setiap peristiwa sejarah dengan dukungan teknologi.
Baca Juga: Kampus IPB Dramaga Disulap Jadi Taman Anggrek Raksasa, Ini Pesona Baru yang Bikin Adem
Ia menjelaskan, guru perlu menguasai pendekatan TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge) agar mampu mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran secara efektif.
Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah gamifikasi, yang mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan sekaligus menantang.
“Melalui gamifikasi, peserta didik tidak hanya belajar, tetapi juga diajak berkolaborasi, berpikir kritis, dan menggali makna sejarah secara lebih mendalam,” ujar Aritta dalam kegiatan tersebut.
Hal senada disampaikan oleh Ketua MGMP Sejarah Kota Bogor, Hesti Dwi Rachmawati, S.Hum., M.Pd.
Ia menekankan, pentingnya adaptasi guru terhadap perkembangan zaman, khususnya dalam memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran.
Menurut Hesti, guru Sejarah harus terus meningkatkan kompetensi agar mampu menciptakan suasana belajar yang relevan dengan karakter peserta didik masa kini.
Dengan pendekatan yang tepat, motivasi belajar siswa terhadap Sejarah dapat meningkat secara signifikan.
Sementara itu, dosen Pendidikan Sejarah FPIPS UPI Bandung, Nurdiani Fathiriani, M.A, yang juga menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut, memaparkan praktik langsung penerapan gamifikasi dalam pembelajaran Sejarah.
Ia menjelaskan, gamifikasi dapat menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan minat belajar siswa.
Baca Juga: SDN Margajaya 1 Konsisten Cetak Hafidz Al-Quran hingga 5 Juz, Didukung Kemenag Kota Bogor
Ketika peserta didik merasa pembelajaran itu menyenangkan, mereka akan lebih terdorong untuk mengeksplorasi materi secara mandiri dan lebih mendalam.
“Melalui game, siswa sebenarnya tetap belajar, tetapi dengan cara yang lebih menarik dan bermakna,” ungkap Nurdiani.
Kegiatan TERAS ini merupakan hasil kolaborasi antara MGMP Sejarah Kota Bogor dengan FPIPS UPI Bandung.
Selain menjadi wadah berbagi praktik baik, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung transformasi pendidikan, khususnya dalam implementasi Kurikulum Merdeka.
Transformasi ini menekankan perubahan orientasi pembelajaran Sejarah, dari sekadar menghafal menjadi memahami dan memaknai peristiwa.
Dengan dukungan teknologi dan pendekatan gamifikasi, diharapkan pembelajaran Sejarah mampu membentuk karakter siswa sesuai dengan delapan profil lulusan yang dicanangkan pemerintah.
Upaya ini menunjukkan, pembelajaran Sejarah tidak lagi harus identik dengan kebosanan.
Dengan inovasi dan kreativitas guru, Sejarah justru dapat menjadi salah satu mata pelajaran yang paling menarik dan bermakna bagi generasi masa kini. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti