RADAR BOGOR – Kekerasan berbasis gender masih menjadi persoalan serius yang dihadapi perempuan, baik di ruang publik maupun digital. Kondisi ini mendorong Pemuda Katolik Komisariat Anak Cabang (Komac) Bogor Barat mengajak semua pihak memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Ajakan tersebut mengemuka dalam webinar bertajuk “Puan dan Ruangnya: Merajut Solidaritas, Merayakan Kedaulatan Diri” yang digelar memperingati Hari Kartini. Kegiatan yang dihelat secara daring, Sabtu, 25 April 2026 ini diikuti puluhan peserta dari berbagai kalangan.
Ketua Pemuda Katolik Komac Bogor Barat, Ludgerus Manik, menegaskan peringatan Hari Kartini tidak boleh berhenti pada seremoni semata. Menurutnya, momentum ini harus dimaknai sebagai refleksi bersama untuk menghadirkan ruang yang aman dan setara bagi perempuan.
“Ini harus jadi refleksi bersama memperkuat keberpihakan terhadap perempuan dalam menciptakan ruang yang aman, adil, dan bebas dari kekerasan. Pemuda Katolik Bogor Barat ingin hadir sebagai bagian dari gerakan yang terus menyuarakan keadilan dan perlindungan bagi perempuan,” katanya kepada Radar Bogor, Kamis, 30 April 2026.
Sekretaris Kecamatan Bogor Barat, Citra Widya Lestari, menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam membangun lingkungan yang inklusif. Ia menyebut, perlindungan perempuan tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi antara pemerintah, komunitas, dan generasi muda.
“Ruang aman tidak bisa dibangun sendiri, tetapi harus diwujudkan melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, organisasi masyarakat, dan generasi muda,” katanya.
Dalam diskusi, sejumlah persoalan krusial turut disoroti, mulai dari kekerasan berbasis gender, kekerasan berbasis gender online (KBGO), hingga ketimpangan representasi perempuan dalam politik. Selain itu, beban ganda yang dialami perempuan juga dinilai berdampak pada kesehatan mental dan kehidupan sosial.
Anggota DPRD Kota Bogor Fraksi Demokrat, Anita Primasari Mongan, menilai keterlibatan perempuan dalam ruang politik menjadi faktor penting dalam melahirkan kebijakan yang responsif gender. Ia menegaskan, representasi perempuan bukan sekadar jumlah, tetapi juga kualitas dalam memperjuangkan kepentingan perempuan.
Sementara itu, Kepala Bidang Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan DP3A Kota Bogor, Rini Mulyani, memaparkan berbagai langkah yang telah dilakukan pemerintah daerah. Upaya tersebut meliputi penguatan sistem pencegahan, perlindungan, hingga penanganan kasus kekerasan berbasis gender di Kota Bogor.
Dari perspektif spiritualitas, Sr. Ruvina FMM mengajak peserta membangun solidaritas dan kepedulian terhadap sesama. Ia menekankan pentingnya meneladani nilai kasih dan keberanian perempuan dalam kehidupan sosial sebagai bentuk kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Anggota DPRD Kota Bogor Fraksi PAN, Zakiyatul Fikriyah Al Aslamiyah, menilai tantangan perempuan saat ini telah berkembang menjadi lebih kompleks. Ia menyebut adanya “pingitan struktural” yang hadir dalam kebijakan, ruang publik, hingga sistem sosial yang secara tidak langsung membatasi ruang gerak perempuan.
Menurutnya, keterlibatan laki-laki sebagai male allies menjadi bagian penting dalam mendorong perubahan budaya yang lebih setara. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang bebas dari diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan.
Ketua pelaksana kegiatan, Agnes Yanuarika, berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang awal bagi terbentuknya kolaborasi yang lebih luas. Ia mendorong kaum muda untuk aktif menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif, baik di masyarakat, kampus, maupun lingkungan gereja. (uma)
Editor : Eka Rahmawati