RADAR BOGOR – Anggota Komisi IV DPRD Kota Bogor, Dedi Mulyono, menyoroti lonjakan angka kematian akibat Hipertensi sepanjang 2025.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi sinyal serius bahwa penanganan penyakit tekanan darah tinggi atau Hipertensi di Kota Bogor belum berjalan optimal.
Menurutnya, Hipertensi merupakan silent killer yang kerap tidak disadari penderitanya.
Baca Juga: Aspal Mengelupas di Tol Jagorawi KM 17, Sejumlah Mobil Alami Ban Bocor Saat Hujan Deras
Banyak warga baru mengetahui kondisi kesehatannya saat sudah memasuki tahap komplikasi.
“Banyak warga tidak tahu kalau tekanan darahnya sudah tinggi. Ini yang membuat hipertensi berbahaya karena sering terlambat ditangani,” ujarnya.
Berdasarkan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Wali Kota Bogor Tahun 2025, prevalensi hipertensi di Kota Bogor mencapai 9,97 persen.
Baca Juga: Curug Cirendeu Bogor, Surga Tersembunyi di Balik Jalur Trekking yang Menantang
Angka tersebut melampaui target pemerintah kota yang ditetapkan sebesar 8,4 persen.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor menunjukkan, jumlah kasus hipertensi pada 2025 tercatat menurun menjadi 87.070 kasus dari 89.726 kasus pada 2024. Namun, angka kematian justru melonjak hampir dua kali lipat.
Tercatat, jumlah kematian akibat hipertensi meningkat dari 474 kasus pada 2024 menjadi 838 kasus pada 2025. Selain itu, Dinkes juga mencatat adanya 5.459 kasus baru sepanjang tahun tersebut.
Dedi menilai, penanganan hipertensi tidak cukup hanya berfokus pada penurunan jumlah kasus.
Ia menekankan pentingnya deteksi dini dan pengendalian agar pasien tidak mengalami komplikasi.
Ia pun mendesak Dinkes untuk memperluas skrining hingga ke tingkat posyandu. Dari total 983 posyandu di Kota Bogor, masih terdapat 483 yang belum memiliki posyandu kit, termasuk alat pengukur tekanan darah.
“Deteksi dini tidak boleh hanya di puskesmas. Posyandu harus diperkuat karena itu yang paling dekat dengan masyarakat,” tegasnya.
Baca Juga: Hujan Deras Picu Longsor di Sawangan Kota Depok, Tembok Ambruk Sempat Tutup Akses Jalan
Selain itu, DPRD juga mendorong perluasan program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) yang saat ini baru menjangkau sekitar 49,52 persen warga.
Ia juga meminta alokasi anggaran tambahan untuk pengadaan tensimeter digital serta penyusunan peta sebaran hipertensi hingga tingkat kelurahan.
Di sisi lain, Dinkes Kota Bogor menyatakan telah melakukan berbagai upaya pengendalian hipertensi.
Baca Juga: New Chapter Cafe Bogor, Tempat Nongkrong Baru Bergaya Fancy dengan Harga Terjangkau
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Erna Nuraena, menjelaskan penguatan dilakukan melalui skrining, edukasi, pelayanan standar di puskesmas, serta kolaborasi lintas sektor.
Pada 2025, capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk pelayanan penderita hipertensi mencapai 118,63 persen dengan total 87.070 kasus terlayani.
Sementara target skrining juga hampir terpenuhi, yakni 99,83 persen atau menjangkau 872.242 orang.
Namun demikian, Dinkes mengakui masih terdapat sejumlah kendala di lapangan. Salah satunya tidak dapat diaksesnya aplikasi Sistem Informasi Penyakit Tidak Menular (SIPTM) milik Kementerian Kesehatan sepanjang 2025.
“Kondisi tersebut menghambat proses pencatatan dan pelaporan, sehingga Dinkes menggunakan sistem pelaporan alternatif,” jelasnya, Jumat 1 Mei 2026.
Selain kendala teknis, faktor sosial juga menjadi tantangan. Masih adanya stigma di masyarakat yang menganggap konsumsi obat hipertensi secara rutin dapat merusak ginjal menjadi salah satu hambatan dalam pengendalian penyakit ini.
Padahal, hipertensi yang tidak terkendali justru berisiko tinggi menimbulkan komplikasi serius, termasuk kerusakan ginjal dan penyakit kardiovaskular lainnya.
Baca Juga: Work From Library di Perpustakaan Kementerian PU, Berikut Panduan Rute dari Bogor dan Fasilitasnya
Dinkes pun terus menggalakkan edukasi gaya hidup sehat melalui berbagai program.
Di antaranya Program Pamong Walagri untuk ASN, layanan mobil curhat, serta PTM Goes to Campus.
Masyarakat juga diimbau menerapkan pola hidup sehat melalui konsep CERDIK, yakni cek kesehatan rutin, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres. (uma)
Editor : Yosep Awaludin