RADAR BOGOR – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor mencatat angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di wilayahnya masih cukup tinggi, yakni berkisar antara 4.000 hingga 5.000 anak. Data tersebut mencakup tiga kategori, mulai dari anak putus sekolah (drop out), lulus tetapi tidak melanjutkan, hingga belum pernah bersekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Herry Karnadi mengatakan, penanganan ATS difokuskan pada dua kelompok utama, yakni anak putus sekolah dan lulusan yang tidak melanjutkan pendidikan. Kedua kelompok tersebut dinilai paling memungkinkan untuk segera ditarik kembali ke sistem pendidikan.
“ATS kita ada sekitar 4.000 sampai 5.000 anak. Fokus penanganan kita pada anak yang drop out dan lulus tidak melanjutkan,” ujarnya.
Baca Juga: Peternakan di Ciseeng Bogor Terbakar, 150 Ribu Ekor Ayam Terpanggang, Kerugian Capai Rp15 Miliar
Untuk menekan angka tersebut, Disdik Kota Bogor menyiapkan dua strategi utama. Pertama, melalui program “Ayo Kembali Sekolah” dengan menggandeng Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) guna menjaring anak-anak yang putus sekolah.
Herry menyebut, pada akhir tahun lalu program tersebut berhasil menjaring sebanyak 630 anak. Tahun ini, Disdik menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 1.000 anak yang kembali mengikuti pendidikan melalui PKBM.
“Kita gandeng PKBM untuk menyisir anak-anak drop out. Targetnya tahun ini bisa mencapai 1.000 anak yang kembali sekolah,” katanya.
Selain itu, Disdik juga mulai menyiapkan program beasiswa bagi siswa dari keluarga kurang mampu. Program ini menyasar lulusan SD agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP, khususnya di sekolah swasta.
Baca Juga: 444 Jemaah Haji Kota Bogor Kloter 10 Dilepas Hari Ini, Siap Terbang Besok
“Mulai 2026, kami siapkan beasiswa untuk 2.000 hingga 3.000 siswa miskin lulusan SD agar bisa masuk SMP swasta secara gratis,” jelasnya.
Ia menilai, langkah tersebut akan berdampak signifikan dalam menekan angka lulusan yang tidak melanjutkan sekolah akibat keterbatasan biaya. Dengan intervensi tersebut, diharapkan tidak ada lagi anak yang terputus akses pendidikannya.
Di sisi lain, Disdik Kota Bogor juga menyiapkan rencana pembangunan sejumlah fasilitas pendidikan baru untuk mengatasi ketimpangan akses di wilayah blank area. Beberapa kawasan yang menjadi prioritas di antaranya Kertamaya, Bojongkerta, Genteng, Loji, dan Sindang Barang.
Rencana pembangunan tersebut mencakup pendirian sejumlah sekolah baru, seperti SMAN 11, SMAN 12, SMPN 24, Sekolah Luar Biasa (SLB), serta Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) yang juga mencakup layanan pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C.
Herry menargetkan, pembangunan fasilitas pendidikan tersebut dapat mulai beroperasi secara bertahap pada 2027 hingga 2028. Langkah ini diharapkan mampu memperluas akses pendidikan sekaligus menekan angka ATS di Kota Bogor. (uma)
Editor : Eka Rahmawati