Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Cerita Amir Pedagang yang Bertahan Hidup di Kota Bogor: Terik Jualan Wortel, sata Hujan Beralih Dagang Mantel

Muhamad Rifki Fauzan • Minggu, 3 Mei 2026 | 16:04 WIB
Amir pedagang wortel di Jalan Djuanda depan Istana Bogor (Fauzan/Radar Bogor)
Amir pedagang wortel di Jalan Djuanda depan Istana Bogor (Fauzan/Radar Bogor)

RADAR BOGOR - Mencari nafkah di wilayah penyangga ibu kota bukan hal mudah, warga ekonomi kelas bawah mesti putar otak untuk memastikan dapur di rumah tetap ngebul.

Satu di antara mereka bahkan sampai harus melakoni dua profesi sekilagus, hal ini seperti yang dilakukan oleh Amir, warga Bantarjati, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor.

Saban hari ia tak pernah absen duduk bersila di depan Istana Bogor, terik siang tak membuatnya beranjak, di sampingnya ada ikatan wortel yang jadi tumpuan hidup.

Sayuran tersebut biasa ia jual, sedangkan pembeli kerap memanfaatkannya untuk memberi makan rusa tutul yang ada di Istana Bogor.

Baca Juga: Car Free Night hingga Taman Terbuka Dihadirkan Pemkab Bogor saat Perayaan HJB ke 544 di Jalan Tegar Beriman Cibinong

“Satu ikat gini Rp5 ribu aja, biasanya warga yang main ke sini beli, terus dikasih ke rusa yang ada di depan situ,” kata Amir saat berbincang dengan Radar Bogor.

Profesi ini terlihat mudah, tinggal duduk, pembeli datang,  tetapi rupanya itu hanya sekadar ucapan, warga kini sudah jarang sekali menoleh dagangan Amir.

“Laku dua sampai tiga ikat saja udah alhamdulillah, sekarang mah susah, warga suka bawa wortel sendiri, saya pernah tiga hari gak dapet uang,” terang Amir.

Baca Juga: 6 Bansos Ini Diprediksi Cair Serentak Mei Tahun 2026, Mulai dari Bantuan Reguler hingga Tambahan

Nasib Amir ditentukan seberapa sering Rusa datang ke pinggir, selagi hewan itu berada di tengah lapang, ia hanya bisa gigit jari sembari berfikir sang buah hati.

“Kalau pengunjung ramai, rusanya di tengah, kalau rusanya ke pinggir pengunjungnya tidak ada, emang mesti sabar banget,” ucap pria kelahiran 1975 itu. 

Tantangan tidak berhenti sampai di situ. Amir sering kali mendapatkan perlakuan brutal dari petugas seperti di usir yang sudah menjadi makanan sehari-hari.

Namun Amir tidak berontak, ia hanya bisa mengelus dada dan menyadari bahwa ia bertahan hidup di wilayah yang punya aturan. 

“Saya sadar inikan jalur hijau, diusir kita beranjak, kita gak bisa melawan, mereka tugas, kita juga tugas jualan, sama-sama pengertian,” ujar Amir.

Ada satu hal yang membuat Amir bersyukur, ia tinggal di wilayah yang berjuluk kota hujan dan kondisi itu dimanfaatkan betul olehnya untuk mendapat rezeki tambahan.

Baca Juga: Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Janji ke Warga Depok, Bangun Underpass Citayam dan Flyover Bomang 2027

Di dalam tas berwarna merah Amir ternyata membawa stok mantel, jadi kalau hujan ia langsung beralih profesi, dari yang semula duduk bersila ia sontak berdiri tegak.

Ia berlari ke bahu Jalan Djuanda, air hujan setidaknya bisa menambah kepulan asap di dapurnya dan Amir langsung menjajakan mantel yang semula ia simpan di dalam tas.

“Ini saya bawa (menunjukan mantel dari dalam tasnya) jadi kalau hujan saya langsung pindah kesitu, jualan mantel,” ucap Amir.

Bagi Amir hidup adalah arena pertempuran, siapa yang lemah dia yang tertindas, pelurunya cuma dua, bersyukur dan tidak menyerah.

“Kalau ngeluh terus uang gak bisa turun langsung kaya hujan, mesti dijemput, saya selalu yakin kalau Tuhan tidak pernah tinggal diam,” pungkasnya.(bay)

Editor : Eka Rahmawati
#kota bogor #wortel #pedagang