RADAR BOGOR - Hujan deras yang mengguyur kawasan Galeri Pusaka milik Ki Gatut Susanta di Bogor, justru menjadi pertanda baik bagi pertemuan para tokoh Betawi.
Dalam suasana hangat penuh keakraban, silaturahmi yang berlangsung sederhana itu berubah menjadi ruang diskusi strategis tentang masa depan budaya Betawi.
Pertemuan tersebut dipimpin oleh tokoh Betawi, Haji Imron Husein, yang hadir bersama sejumlah figur budaya seperti Abdul Bassit, Bang Bek, Bang Muis, H. Anton Sayuti, dan H. Rozali MZ.
Kehadiran mereka disambut langsung oleh Ki Gatut Susanta selaku Pembina Gerakan Pencinta Seni dan Nusantara (GPSN).
Haji Imron Husein menjelaskan, pertemuan ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan langkah awal untuk mempererat hubungan sekaligus membuka peluang kolaborasi.
“Silaturahmi ini kami maksudkan untuk menyambung persaudaraan sekaligus menjajaki kerja sama kegiatan budaya bersama Ki Gatut Susanta,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, hubungan antar tokoh ini sebelumnya mulai terjalin dalam acara Lebaran Golok yang digelar di Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta, pada April 2026 lalu.
Gayung bersambut, Ki Gatut Susanta mengungkapkan, pihaknya tengah mendorong program besar bertajuk “Golok Road to UNESCO”.
Menurutnya, kolaborasi dengan para tokoh Betawi akan menjadi kekuatan penting dalam mewujudkan pengakuan budaya tersebut di tingkat internasional.
“Ada banyak peluang kolaborasi yang bisa kami lakukan bersama. Ini momentum yang tepat untuk memperkuat gerakan pelestarian budaya,” jelas Ki Gatut.
Dalam diskusi tersebut, Abdul Bassit turut menyoroti kekayaan warisan budaya Betawi, khususnya terkait senjata tradisional.
Ia menyebut, selain golok, masyarakat Betawi juga memiliki pusaka lain seperti peso raut dan bendo yang dulu digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Ini bukan sekadar benda, tapi bagian dari identitas budaya yang perlu terus dikenalkan,” katanya.
Menutup pertemuan, Ki Gatut Susanta berharap diskusi kecil ini dapat menjadi awal dari gerakan besar yang lebih berdampak.
Ia menekankan, pentingnya menghadirkan kegiatan budaya yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga edukatif dan berkelanjutan.
Baca Juga: KPM Bansos Pastikan Data Lengkap Sesuai DTSEN, Berikut Jadwal Pengecekan KKS Bagi Penerima Bantuan
“Harapannya, dari pertemuan ini lahir program nyata seperti pelatihan seni tempa, kreasi silat, hingga sarasehan budaya untuk generasi muda di berbagai tingkatan,” tuturnya.
Silaturahmi yang digelar di tengah hujan itu pun meninggalkan harapan baru—bahwa budaya Betawi tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu menembus panggung dunia. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim