RADAR BOGOR – Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia atau ADPIKI resmi dideklarasikan di IPB International Convention Center, Kota Bogor, Kamis 7 Mei 2026.
Kehadiran ADPIKI ini menjadi momentum penguatan kolaborasi akademisi komunikasi merespons transformasi digital.
ADPIKI diharapkan menjadi wadah sinergi antara dosen, peneliti, hingga lembaga riset dalam mengembangkan ilmu komunikasi yang relevan dengan perkembangan zaman.
Ketua Umum ADPIKI, Heri Budianto mengatakan, asosiasi tersebut dibentuk untuk membangun jejaring yang mampu menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat melalui penguatan riset dan pengembangan keilmuan komunikasi.
Menurutnya, dosen perlu terus memperbarui kapasitas agar mampu mentransfer pengetahuan yang sesuai dengan dinamika era digital.
“Sebagai dosen, kita harus terus di-charge agar performa kita tetap prima saat mentransfer pengetahuan di kelas, terutama dengan materi yang berkaitan dengan riset,” ujarnya.
Ia menilai riset di bidang komunikasi harus terus dikembangkan dengan konsep dan pendekatan kekinian.
ADPIKI, lanjut Heri, akan menjadi ruang kolaborasi bagi dosen dan peneliti komunikasi untuk mengembangkan keilmuan sesuai tuntutan era digital.
Menurutnya, rumpun ilmu komunikasi memiliki cakupan yang luas mulai dari public relations, komunikasi lingkungan, politik, jurnalistik hingga periklanan.
Baca Juga: Intensitas Curah Hujan di Kota Bogor Capai 120 Milimeter, Dedie Rachim Sebut Sudah Tak Normal
Karena itu, diperlukan kolaborasi lintas bidang agar ilmu komunikasi memiliki daya pembaruan yang kuat dan memberi manfaat bagi masyarakat.
“Ketika dampak itu terasa, hal tersebut akan menopang keilmuan komunikasi untuk menjadi lebih baik dan lebih eksis ke depannya,” katanya.
Heri mengungkapkan, sejak dirinya ditunjuk menjadi Ketua Umum pada 9 Februari 2026 hingga deklarasi dilaksanakan, sebanyak 230 anggota telah bergabung ke dalam ADPIKI.
Anggota tersebut berasal dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua.
Baca Juga: BMPS Kabupaten Bogor Dukung Program Sekolah Maung, Tegaskan Bukan Ancaman Bagi Sekolah Swasta
Selain akademisi kampus, sejumlah peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga telah bergabung dalam asosiasi tersebut.
Sementara itu, Ketua BRIN Arif Satria menyambut baik berdirinya ADPIKI. Menurutnya, ilmu komunikasi saat ini tengah menghadapi disrupsi besar akibat perkembangan teknologi digital yang sangat cepat.
“Saat ini ilmu komunikasi sedang mengalami disrupsi yang luar biasa akibat kecepatan perubahan teknologi. Dengan meluasnya dunia digital, para ahli komunikasi perlu melakukan reaktualisasi dan reformulasi teori-teori baru agar tetap relevan,” ujarnya.
Arif menilai ADPIKI memiliki tanggung jawab besar dalam mendorong pembaruan teori komunikasi yang nantinya akan diajarkan kepada mahasiswa.
Ia menegaskan pentingnya kemampuan akademisi dalam memahami sekaligus merespons perubahan yang terjadi.
“ADPIKI harus menjadi sumber inspirasi bagi para anggotanya dalam dua hal, pertama memahami perubahan dan kedua mampu merespons perubahan tersebut. Tidak cukup hanya sekadar paham, kita harus mampu merespons perubahan secara kolektif bersama ADPIKI,” katanya.
Baca Juga: Stok Beras Jawa Barat Tembus 780 Ribu Ton, Bulog Sebut Aman hingga Tahun Depan
Ia juga menyoroti pentingnya riset komunikasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Menurutnya, ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti pada kepentingan akademik semata, melainkan harus mampu menjawab persoalan yang muncul di tengah masyarakat pasca-ledakan teknologi digital.
“Ilmu yang kita bangun hari ini bukan sekadar ilmu untuk ilmu, atau riset untuk riset, melainkan bagaimana riset yang dihasilkan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ucapnya.
Arif menambahkan, BRIN terbuka untuk menjalin kolaborasi dengan ADPIKI dalam pengembangan riset komunikasi mutakhir, termasuk yang berkaitan dengan perubahan iklim, transformasi teknologi, dan tantangan era digital.
Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci untuk melahirkan konsep dan teori baru yang didukung kekuatan riset. (uma)
Editor : Yosep Awaludin