RADAR BOGOR – Fase peralihan musim atau pancaroba memicu rentetan cuaca ekstrem di Kota Bogor, sehingga menimbulkan bencana alam.
Tingginya intensitas hujan di Kota Bogor akibat cuaca ekstrem yang menembus angka di atas 100 milimeter (mm) per hari berdampak langsung pada lonjakan tren bencana alam hidrometeorologi sepanjang awal tahun 2026.
Fakta cuaca ekstrem hingga potensi bencana alam tersebut mengemuka dalam Forum OBSESI (Obrolan Serius Mencari Solusi) bertajuk “Mitigasi Bencana Hidrometeorologi: Menuju Bogor Tangguh dan Siaga” yang digelar di Graha Pena Kota Bogor, Kamis, 7 Mei 2026.
Baca Juga: Bekas Galian Utilitas Dikeluhkan Warga Kota Bogor, PUPR Janjikan Akan Dirapikan Kembali
Dalam forum itu, pemangku kepentingan memaparkan kondisi terkini sekaligus tantangan mitigasi bencana di wilayah tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko Prahadisasongko, memaparkan adanya tren peningkatan angka bencana yang cukup signifikan pada empat bulan pertama (Januari–April) dalam tiga tahun terakhir. Ia menyebut jumlah kejadian terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.
“Jika dibandingkan pada periode yang sama, rekapitulasi kami mencatat ada sekitar 290 kejadian pada tahun 2024, lalu meningkat menjadi 320-an di 2025, dan menyentuh angka 360-an kejadian pada tahun 2026 ini,” ungkap Dimas.
Baca Juga: Lebaran Depok 2026 di Alun-alun GDC Bernuansa 70-an, UMKM Lokal Jadi Daya Tarik Utama
Dari total kejadian di awal tahun 2026 tersebut, bencana paling dominan dipicu oleh cuaca ekstrem dengan 199 kejadian.
Angka itu beriringan dengan kejadian tanah longsor yang mencapai sekitar 190 kasus di berbagai wilayah Kota Bogor.
Dimas juga meluruskan pemahaman masyarakat terkait klasifikasi bencana. Ia menegaskan bahwa kejadian seperti pohon tumbang atau atap rumah berterbangan bukan merupakan jenis bencana tersendiri, melainkan dampak dari cuaca ekstrem.
Baca Juga: Waspada! Bencana Hantui Kota Bogor, Hilangnya RTH dan Alih Fungsi Lahan Jadi Biang Kerok
“Pohon tumbang itu adalah dampaknya, sedangkan nama potensi bencananya di kami adalah cuaca ekstrem,” tegasnya.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD Kota Bogor telah menyusun Kajian Risiko Bencana (KRB) sebagai dasar pemetaan wilayah rawan.
Dari total 68 kelurahan di Kota Bogor, sebanyak 28 kelurahan ditetapkan sebagai wilayah prioritas penanganan bencana.
Sejumlah titik rawan menjadi perhatian khusus, di antaranya kawasan Tanah Sareal yang berbatasan dengan Kabupaten Bogor, serta wilayah segitiga Cibuluh, Tanah Baru, dan Ciluar di Kecamatan Bogor Utara.
Kawasan padat penduduk seperti Kampung Keramat juga dinilai memiliki kerentanan tinggi terhadap banjir lintasan saat hujan ekstrem terjadi.
Menurut Dimas, kondisi tersebut membutuhkan intervensi mitigasi struktural agar dampak bencana dapat diminimalkan. Ia menilai penanganan tidak cukup hanya dengan respons darurat, tetapi juga harus diperkuat melalui perencanaan jangka panjang.
Di tengah tingginya angka kejadian bencana, Dimas mengapresiasi meningkatnya kesadaran masyarakat Kota Bogor terhadap mitigasi.
Hal itu tercermin dari hasil penilaian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menempatkan Indeks Risiko Bencana Kota Bogor sebagai yang terendah di Jawa Barat.
Baca Juga: Bekas Galian Utilitas di Bogor Dikeluhkan Warga, Sisakan Jalan Rusak hingga Picu Kecelakaan
Ia menyebut capaian tersebut tidak terlepas dari kolaborasi pentahelix antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media.
Selain itu, meningkatnya literasi masyarakat terhadap sistem peringatan dini juga dinilai berkontribusi dalam menekan risiko bencana.
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Bogor, Rakhmat Prasetia, menjelaskan kondisi cuaca ekstrem yang terjadi saat ini selaras dengan karakter wilayah Kota Bogor yang memiliki curah hujan tinggi hampir sepanjang tahun.
Berdasarkan data 30 tahun terakhir, hujan dengan intensitas tinggi memang kerap terjadi, terutama saat masa pancaroba.
“Sejak 10 hingga 20 tahun terakhir, curah hujan ekstrem ini paling sering muncul pada masa pancaroba, yaitu transisi dari musim hujan ke musim kemarau yang sedang kita alami saat ini di bulan April dan Mei,” papar Rakhmat.
Ia menambahkan, hujan ekstrem tersebut umumnya terjadi dalam durasi singkat, yakni sekitar satu hingga dua jam pada siang hingga sore hari. Namun, intensitasnya sangat tinggi sehingga berpotensi memicu bencana dalam waktu cepat.
“Contoh terdekat adalah kejadian pada 4 Mei kemarin, di mana beberapa kawasan diguyur hujan sangat ekstrem di atas 100 mm per hari,” imbuhnya.
BMKG Bogor juga mengingatkan adanya potensi pergeseran ancaman bencana pada pertengahan tahun. Selain cuaca ekstrem basah, masyarakat diminta mewaspadai ancaman kekeringan yang diprediksi akan mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus.
“Ancaman kekeringan diprediksi akan mencapai puncaknya pada bulan Juli dan Agustus. Tahun ini, kita juga dihadapkan pada fenomena El Nino dengan intensitas sedang yang berbarengan dengan puncak musim kemarau di Jawa Barat,” pungkas Rakhmat.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga