RADAR BOGOR – Pendekatan komunikasi dinilai menjadi kunci utama dalam merespons kritik publik maupun penanganan bencana. Pakar komunikasi bencana dan mitigasi, Prof. Puji Lestari, menekankan pentingnya empati dalam setiap respons kebijakan.
Empati itu, menurut Pakar Komunikasi yang ditemui Radar Bogor tersebut, diperlukan agar tidak memicu konflik di tengah masyarakat.
Pakar Komunikasi yang ditemui di IICC Kota Bogor, Kamis, 7 Mei 2026 kemarin menjelaskan, selama ini respons terhadap kritik kerap masih diwarnai ego, terutama ketika sudah bersinggungan dengan kepentingan politik.
Baca Juga: Epson Asia Tenggara Buka Pendaftaran The 17th Epson International Pano Awards 2026
Akibatnya, kritik yang seharusnya menjadi bahan evaluasi justru berujung pada sikap defensif hingga pengucilan terhadap pihak yang menyampaikan aspirasi.
“Sering kali masih mengedepankan ego, terlebih jika sudah menyangkut permasalahan dan kepentingan politik. Ketika ada pihak yang mengkritik suatu kebijakan, pengkritik tersebut justru sering kali langsung disudutkan atau dikucilkan,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan komunikasi yang terbangun belum sepenuhnya mengedepankan pendekatan yang ia sebut sebagai “komunikasi hati”.
Baca Juga: RS Annisa Bogor Gelar Aksi Donor Darah Sambut Hari Perawat Internasional ke-52
Pendekatan ini, kata dia, menekankan pentingnya membangun kesadaran emosional dan empati dalam setiap interaksi, baik dalam situasi krisis maupun kebijakan publik.
Prof. Puji menjelaskan, komunikasi hati memiliki tiga pilar utama, yakni berpikir positif dan kreatif, olah rasa, serta empati.
Ketiga aspek ini dinilai penting untuk mendorong respons yang lebih bijak dan solutif dalam menghadapi berbagai persoalan, termasuk kritik dari masyarakat.
Ia menuturkan, berpikir positif memungkinkan pejabat atau pengambil kebijakan melihat kritik sebagai masukan yang memiliki nilai konstruktif. Dengan cara tersebut, kritik tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk memperbaiki kebijakan.
Selanjutnya, olah rasa menjadi kemampuan penting untuk mengelola emosi negatif menjadi energi yang lebih produktif. Menurutnya, rasa tidak nyaman akibat kritik seharusnya dapat diubah menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas kinerja.
“Memang dikritik itu bisa menyakiti hati, tapi perasaan itu seharusnya diubah menjadi energi motivasi, pemikiran bahwa saya harus menjadi lebih baik,” katanya.
Adapun empati, lanjut dia, menjadi kunci utama dalam membangun komunikasi yang efektif. Dengan menempatkan diri pada posisi masyarakat yang terdampak kebijakan, pejabat akan lebih mudah memahami akar persoalan sekaligus menentukan langkah yang tepat.
Ia menegaskan, pendekatan ini tidak hanya relevan dalam konteks kebijakan publik, tetapi juga dalam penanganan bencana. Dalam situasi darurat, komunikasi yang dilandasi empati dinilai mampu mempercepat koordinasi sekaligus meminimalkan potensi konflik di lapangan.
“Kita harus mampu merasakan apa yang para korban rasakan. Jika kita menempatkan diri pada posisi mereka, maka akan muncul dorongan untuk segera bertindak,” ucapnya.
Lebih jauh, terkhusus komunikasi dalam penanganan bencana harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, lembaga penanggulangan bencana, media, sektor swasta hingga masyarakat.
Sinergi tersebut dinilai hanya dapat terwujud jika komunikasi yang dibangun didasarkan pada empati dan kesadaran bersama.
Menurutnya, jika pendekatan komunikasi hati dapat diterapkan secara konsisten, maka tidak hanya memperkuat respons terhadap bencana dan kritik publik, tetapi juga menciptakan hubungan yang lebih harmonis antara pemerintah dan masyarakat.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga