RADAR BOGOR - Pesan mendalam disampaikan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat menghadiri Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Kota Bogor.
Di hadapan masyarakat dan tokoh budaya Sunda, KDM (sapaan Dedi Mulyadi) berbicara tentang pentingnya menjaga identitas budaya, pendidikan, hingga kesejahteraan masyarakat di tengah derasnya perubahan zaman.
Dalam acara yang berlangsung di Kota Bogor itu, Dedi Mulyadi menyoroti perubahan sosial yang mulai dirasakan masyarakat di wilayah Bogor dan Cianjur.
Baca Juga: Polres Metro Depok Siaga Nobar Persija vs Persib, 433 Personel Diterjunkan
Dedi Mulyadi mengingatkan, agar masyarakat Sunda tidak kehilangan arah akibat perkembangan yang tidak terkendali.
Menurutnya, generasi muda harus tetap mendapatkan pendidikan yang layak, sementara para petani dan pedagang perlu memperoleh kehidupan yang sejahtera.
"Budak sakola kudu sarakola," tegas Dedi Mulyadi.
Baca Juga: Dua Granat Ditemukan Warga Cigudeg Bogor di Lahan Perkebunan, Diduga Peninggalan Masa Penjajahan
KDM menilai keseimbangan antara pendidikan, ekonomi, dan budaya menjadi kunci agar masyarakat Sunda tetap kuat menghadapi perubahan zaman.
Dedi Mulyadi juga menyinggung kekayaan alam Tatar Sunda yang selama ini hanya dinikmati sebagai pemandangan tanpa memberikan dampak kesejahteraan yang besar bagi masyarakat sekitar.
Ia mengungkapkan, keprihatinannya karena banyak warga lokal justru tidak mendapatkan manfaat ekonomi maksimal di tanah kelahirannya sendiri.
Bahkan, ia menyebut kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri, sementara peluang ekonomi lebih banyak diambil pihak luar.
Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun kemandirian masyarakat Sunda agar mampu menjadi tuan rumah di wilayahnya sendiri.
Dalam kesempatan tersebut, Dedi Mulyadi mengatakan dirinya bersama para bupati dan wali kota di Jawa Barat telah memiliki komitmen untuk menjaga keberlangsungan budaya Sunda sekaligus memperkuat pembangunan berbasis nilai lokal.
Ia menjelaskan bahwa jika Sunda ingin tetap kokoh dan berjaya, maka masyarakatnya harus memegang teguh prinsip kehidupan Sunda atau “Tritangtu di Buana”, yang mencakup nilai kepemimpinan, spiritualitas, dan kebijaksanaan dalam menjalankan kehidupan.
Tak hanya itu, Dedi Mulyadi juga menyinggung ajaran Sunda kuno yang menurutnya kini mulai mendapat perhatian dunia internasional.
Ia menyebut, sejumlah kajian tentang peradaban Sunda bahkan telah dipelajari di universitas ternama di Inggris dan dituangkan dalam berbagai buku serta ensiklopedia mengenai kebudayaan Sunda.
Pernyataan tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang hadir dalam Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda.
Banyak warga menilai, pesan yang disampaikan Dedi Mulyadi menjadi pengingat penting agar budaya Sunda tetap hidup di tengah modernisasi yang terus berkembang. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim