RADAR BOGOR - Pernahkah sobat Radar Bogor merasa sudah memiliki segalanya yakni karier mapan, keluarga harmonis, hingga kesehatan yang prima, namun hati tetap merasa ada yang kosong?
Fenomena ini sering kali menjebak masyarakat modern dalam labirin pencarian makna hidup yang tak berujung.
Tokoh Bogor, Harlan Bengardi, membedah fenomena ini melalui sebuah konsep mendalam bertajuk Roadmap DBAS (Dunia Bahagia Akhirat Surga).
Menurut pria yang juga CEO Pestigo, ada perbedaan fundamental yang sering kali disalahartikan oleh banyak orang yakni perbedaan antara kesenangan dan kebahagiaan.
Kesenangan vs Kebahagiaan: Mana yang Anda Kejar?
Dalam paparannya, Harlan menjelaskan, hal-hal fisik seperti memiliki pasangan yang baik, mertua yang bijaksana, uang yang banyak, hingga tubuh yang sehat adalah bentuk dari Kesenangan.
Namun, kesenangan bersifat eksternal dan bisa fluktuatif.
Baca Juga: 6 Perguruan Tinggi Negeri Sudah Buka Jalur Mandiri 2026, Cek Jadwal dan Cara Seleksinya
"Kesenangan dan kebahagiaan adalah dua hal yang berbeda," ungkap Harlan dalam materi DBAS di Graha Pena Radar Bogor, Senin 11 Mei 2026.
Ia menekankan, Kebahagiaan sesungguhnya bersumber dari Keyakinan Spiritual (KS) yang tertanam kuat di dalam kalbu.
Tanpa pondasi spiritual, pencapaian duniawi sehebat apa pun akan terasa hambar.
Menelusuri Roadmap Perjalanan Manusia
Harlan Bengardi mengajak, para peserta kegiatan untuk melihat hidup secara helikopter (luas) melalui fase perjalanan manusia yang dimulai dari:
- Alam Roh
- Alam Janin
- Alam Dunia (fase saat ini)
- Alam Kubur
- Akhirat (Tujuan Akhir: Surga atau Neraka)
Harlan mengibaratkan, hidup seperti sebuah perjalanan yang harus diketahui tujuannya agar tidak tersesat.
"Seseorang yang melakukan kegiatan dengan mengetahui tujuannya pasti akan lebih sukses dibandingkan mereka yang melangkah tanpa arah," tuturnya.
Etika Jurnalisme Berbasis Al-Qur'an
Sebagai sosok yang dekat dengan dunia media di Bogor, Harlan juga menyoroti pentingnya etika komunikasi.
Ia menekankan, penyampaian informasi bukan sekadar profesi, melainkan tanggung jawab moral di hadapan Tuhan.
Ada empat pilar jurnalistik yang ia garis bawahi berdasarkan panduan Al-Qur'an:
Tabayyun (Verifikasi): Kewajiban memeriksa kebenaran informasi agar tidak menimbulkan fitnah atau musibah bagi orang lain.
Siddiq (Kejujuran): Menyampaikan fakta apa adanya tanpa rekayasa atau manipulasi.
Qulan Sadida (Lugas dan Benar): Menggunakan bahasa yang jujur, tidak berbelit-belit, dan tidak ambigu.
Keadilan dan Objektivitas: Informasi harus disampaikan secara adil, bahkan terhadap pihak yang tidak kita sukai sekalipun.
Menjaga 'Segumpal Daging' dalam Diri
Mengutip sabda Nabi, Harlan mengingatkan, kunci utama perilaku manusia terletak pada kalbunya.
"Jika kalbu itu baik, maka baiklah seluruh perilakunya," jelasnya.
Program DBAS ini, hadir sebagai pengingat bagi warga Bogor dan masyarakat luas agar tidak menjadi orang yang lalai, mereka yang memiliki mata namun tak melihat tanda kekuasaan Tuhan, dan memiliki telinga namun tak mendengar kebenaran.
Melalui ketaatan kepada Sang Pencipta dan mengikuti petunjuk-Nya, Harlan meyakini, janji Tuhan tentang kehidupan tanpa rasa khawatir dan sedih hati akan menjadi kenyataan bagi setiap individu. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim