RADAR BOGOR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor memastikan hingga pertengahan Mei 2026 belum ditemukan kasus Hantavirus di wilayahnya.
Meski demikian, kewaspadaan tetap ditingkatkan menyusul temuan kasus infeksi Hantavirus di kapal ekspedisi MV Hondius pada 6 Mei 2026.
Kepala Dinkes Kota Bogor, Erna Nuraena, mengatakan Hantavirus yang ditularkan melalui tikus tersebut memang sudah ada secara global. Namun, hingga saat ini belum ada laporan kasus di Kota Bogor.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan 10 Kota Baru, Tangerang Salah Satu Prioritas, Lahan 5 Hektare Sudah Disiapkan
“Penyakit ini sudah ada di dunia, tetapi di Kota Bogor sampai saat ini belum ada, tidak terlaporkan, dan mudah-mudahan memang tidak ada. Kewaspadaan sangat diperlukan karena penularannya melalui perantara hewan, yaitu tikus,” katanya, Rabu 13 Mei 2026.
Ia menjelaskan, berdasarkan data surveilans Kementerian Kesehatan tahun 2025, di Jawa Barat sempat ditemukan dua kasus konfirmasi Hantavirus, masing-masing di Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Ciamis.
Sementara itu, kasus terbaru di tingkat global mencuat dari delapan infeksi di kapal MV Hondius, dengan tiga di antaranya dilaporkan meninggal dunia.
Menurut Erna, gejala awal Hantavirus umumnya menyerupai infeksi virus biasa. Kondisi tersebut kerap membuat masyarakat tidak menyadari potensi bahaya sejak dini.
“Gejala awalnya mirip, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, lemas, hingga mual dan muntah,” jelasnya.
Namun, pada kondisi tertentu penyakit ini dapat berkembang menjadi lebih serius. Infeksi bisa memicu gangguan organ hingga berujung fatal jika tidak segera ditangani.
Baca Juga: KPM Pemegang KKS Bank Mandiri Segera Cek Saldo, PKH Tahap 2 Mulai Dicairkan 14 Mei 2026
“Pada beberapa kasus dampaknya bisa sangat fatal. Bisa terjadi gangguan pada organ tubuh yang berisiko menyebabkan kematian,” tegasnya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Kota Bogor telah meningkatkan pengawasan penyakit dan memperkuat koordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan. Upaya deteksi dini juga dilakukan melalui sistem pelaporan kewaspadaan dini.
“Kami meningkatkan surveilans dan bekerja sama dengan rumah sakit untuk deteksi dini. Pemantauan juga dilakukan melalui sistem kewaspadaan dini dan respons,” ungkap Erna.
Selain itu, Dinkes juga telah menerbitkan surat edaran terkait kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi penyebaran Hantavirus di Kota Bogor.
Baca Juga: Real Madrid Incar Kenan Yildiz, Juventus Siapkan Tembok Kuat untuk Wonderkid Turki
Erna menambahkan, penularan Hantavirus umumnya terjadi melalui paparan urin, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi.
Penularan bisa terjadi melalui udara, sentuhan benda tercemar, maupun gigitan tikus.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah pencegahan utama.
Baca Juga: KPM Bogor Sudah Cairkan Bansos PKH Bagi Komponen Ini, Cek Status Terbaru di SIKS-NG Per 14 Mei 2026
“Pastikan lingkungan tetap bersih dan bebas dari tikus. Warga juga harus berhati-hati saat berkontak dengan area yang berpotensi terkontaminasi,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan warga agar tidak panik dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Saat membersihkan area yang diduga menjadi sarang tikus, masyarakat diminta menggunakan alat pelindung diri.
“Gunakan masker dan sarung tangan, serta jangan menyapu kotoran kering tanpa disemprot disinfektan terlebih dahulu,” katanya.
Dinkes turut mengimbau masyarakat untuk tetap disiplin menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk rutin mencuci tangan dan menjaga kebersihan lingkungan. (uma)
Editor : Yosep Awaludin