Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Dorong Kajian Ilmiah Prasasti Batutulis Bogor Diperdalam, Biar Bukan Sekadar Dongeng

Fikri Rahmat Utama • Kamis, 14 Mei 2026 | 16:51 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedie Mulyadi menghadiri diskusi Kecagarbudayaan dengan topik Prasasti Batutulis dan Makuta Binokasih Sanghyang Pake"  di Museum Pajajaran Batutulis kota Bogor, Kamis, 14 Mei 2026. Foto: Sofiansyah/Radar Bogor
Gubernur Jawa Barat Dedie Mulyadi menghadiri diskusi Kecagarbudayaan dengan topik Prasasti Batutulis dan Makuta Binokasih Sanghyang Pake" di Museum Pajajaran Batutulis kota Bogor, Kamis, 14 Mei 2026. Foto: Sofiansyah/Radar Bogor

RADAR BOGOR – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendorong kajian ilmiah terhadap Prasasti Batutulis Bogor diperdalam, agar tidak lagi dipandang sebatas cerita turun-temurun.

Hal itu disampaikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam Diskusi Kecagarbudayaan bertajuk “Prasasti Batutulis dan Makuta Binokasih Sanghyang Pake” di Museum Pajajaran Batutulis, Kota Bogor, Kamis, 14 Mei 2026.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan Museum Pajajaran Batutulis, Kota Bogor, warisan sejarah Sunda harus diangkat menjadi kajian akademik yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan diakui secara luas. 

Baca Juga: Laga Perpisahan Mengharukan di Stadion Haji Agus Salim, Mampukah Semen Padang Jaga Harga Diri dari Gempuran Persebaya Surabaya?

Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar sejarah tidak berhenti sebagai dongeng, tetapi menjadi pengetahuan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

“Mari kita kaji situs seperti Batu Tulis secara ilmiah. Tahun berapa batu ini ada? Ditulis pakai apa? Telapak kaki siapa? Saya tidak mau lagi sejarah Sunda hanya berhenti sebagai buku dongeng,” ujarnya.

Dedi menambahkan, hasil kajian tersebut perlu didorong hingga masuk ke jurnal internasional dan dapat diakses secara global. Dengan begitu, eksistensi peradaban Sunda, termasuk peninggalan Prasasti Batutulis, bisa diakui sebagai bagian dari khazanah ilmu pengetahuan dunia.

Baca Juga: Benarkah Pemegang KKS BRI Banjir Struk Pencairan Bansos? Simak Faktanya hingga Pengecekan Data KPM di DTKS

Ia juga menyinggung pentingnya mengembalikan arah pembangunan Jawa Barat agar berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal.

Konsep tetekon atau ajaran leluhur, kata dia, harus menjadi dasar dalam setiap kebijakan, termasuk dalam pelestarian budaya dan lingkungan.

Dalam kesempatan itu, Dedi turut mengaitkan kajian sejarah dengan spirit peradaban Kerajaan Pajajaran yang dikenal memiliki nilai keteguhan dan kehormatan. Ia menilai, nilai tersebut harus terus diwariskan sebagai bagian dari identitas masyarakat Sunda.

Baca Juga: Gentengisasi Jalur Strategis Menuju Kediaman Presiden Prabowo Subianto di Bogor Terkendala Anggaran

“Seluruh pembangunan di Jawa Barat harus kembali berpijak pada tetekon Sunda agar tidak kehilangan jati diri,” katanya.

Selain menyoroti aspek akademik, Dedi juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian kawasan Batutulis dari kerusakan. Ia menilai, pelestarian situs sejarah tidak hanya soal fisik, tetapi juga menjaga nilai dan makna yang terkandung di dalamnya.

Diskusi tersebut dihadiri pegiat budaya, akademisi, serta sejumlah pemangku kepentingan yang turut membahas keterkaitan antara warisan sejarah, identitas budaya, dan arah pembangunan daerah.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#dedi mulyadi #bogor #gubernur jawa barat #Batutulis