RADAR BOGOR - Penambahan halte Biskita Transpakuan di Kota Bogor berbanding terbalik dengan kondisi di lapangan. Fasilitas titik henti yang lama, justru banyak ditemukan kerusakan.
Hal ini seperti nampak terjadi di sepanjang Jalan Ahmad Yani. Sejumlah halte Biskita Transpakuan di lokasi tersebut justru terlihat seperti tidak terawat.
Bangunannya tampak kumuh. Atap halte bocor. Dinding halte Biskita Transpakuan juga terlihat dipenuhi oleh coretan. Belum lagi ditemukan banyak sampah.
Baca Juga: Sedekah Botol Plastik, Cara Warga Bogor View II Pilah Sampah dari Rumah
Cat biru yang terdapat pada halte terlihat sudah usang. Lantai halte nampak keropos. Fasilitas berupa tempat duduk sudah tak berada di tempatnya.
Menanggapi hal ini, Anggota Komisi III DPRD Kota Bogor, Karnai Asyhar angkat suara. Ia turut mengapresiasi penambahan halte Biskita Transpakuan.
Baginya penambahan halte dapat memudahkan masyarakat umum untuk mengakses layanan transportasi publik yang memadai dan aman.
“Sekaligus mendorong warga beralih dari kendaraan pribadi menuju transportasi massal,” jelas Karnain pada Radar Bogor, Minggu 17 Mei 2026.
Namun Karnain menilai penambahan shelter baru perlu dibarengi dengan perhatian serius terhadap kondisi halte eksisting yang saat ini rusak.
“Jangan sampai pembangunan fasilitas baru mengabaikan perawatan sarana yang sudah ada,” tegas Karnain.
Menurutnya, halyen yang rusak dan minim penanganan justru dapat mengurangi minat masyrakat menggunakan moda tranportasi umum.
“Karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap kualitas dan fungsi shelter existing harus menjadi prioritas bersamaan dengan program penambahan halte baru,” ucapnya.
Penambahan atau pembangunan halte Biskita Transpakuan idelnya tidak hanya berorientasi pada kuantitas saja. Tapi, mesti juga diimbangin dengan kualitas yang baik.
“Shelter perlu dirancang ramah disabilitas, aman, bersih, memiliki pencahayaan yang baik, serta memperhatikan aspek estetika kota,” pungkasnya. (bay)
Editor : Yosep Awaludin