RADAR BOGOR – Paparan teknologi dan media sosial yang tak terkendali kini bukan lagi sekadar masalah manajemen waktu, melainkan ancaman nyata bagi psikologis generasi muda.
Nur Annisa, S.Psi, M.Psi, Psikolog, sebagai Psikolog klinis RS Melania, memperingatkan munculnya fenomena Toxic Digitalization atau digitalisasi beracun yang secara perlahan mengikis kesehatan mental remaja Indonesia.
Menurut Nur Annisa, keterikatan remaja pada gawai pintar saat ini sudah masuk dalam tahap yang mengkhawatirkan.
Alih-alih menjadi alat bantu belajar, teknologi sering kali berubah menjadi pemicu utama kecemasan, depresi, hingga hilangnya rasa percaya diri.
"Banyak remaja yang datang ke ruang konseling membawa keluhan yang sama: mereka merasa kesepian dan tidak berharga. Setelah ditelusuri, akarnya adalah pusaran toxic digitalization, di mana mereka terus-menerus membandingkan hidupnya dengan standar tidak realistis di media sosial, mengalami FOMO (Fear of Missing Out), hingga terjebak cyberbullying," ujar Nur Annisa.
Data terbaru menunjukkan bahwa rata-rata remaja menghabiskan waktu hingga 6 sampai 8 jam sehari di depan layar (screen time) di luar kebutuhan belajar.
Baca Juga: BPNT Tahap 2 Tahun 2026 Mulai Disalurkan, Warga Jawa Barat Kini Makin Gampang Cek Bansos
Angka ini berbanding lurus dengan meningkatnya gangguan tidur dan penurunan fokus.
Fakta di lapangan juga memperlihatkan bahwa paparan layar yang berlebihan sebelum tidur dapat mengganggu produksi hormon melatonin, yang memicu ketidakstabilan emosi keesokan harinya.
Nur Annisa menekankan bahwa masa remaja adalah fase krusial bagi pembentukan identitas.
Ketika interaksi nyata digantikan oleh validasi digital berupa jumlah likes atau views, mental mereka menjadi sangat rapuh.
"Dunia digital itu candu karena algoritmya dirancang untuk menahan perhatian kita selama mungkin. Bagi remaja yang emosinya belum stabil, mereka belum punya benteng pertahanan yang cukup untuk menyaring mana yang nyata dan mana yang sekadar panggung sandiwara media sosial. Ini yang berbahaya bagi masa depan mereka," tambahnya.
Sebagai solusi, Nur Annisa mengajak para orang tua dan pendidik untuk tidak langsung memusuhi teknologi, melainkan menerapkan sistem ‘Digital Detox’ mandiri dan membuat batasan waktu yang sehat di rumah.
"Solusinya bukan menyita gawai mereka secara ekstrem, karena itu justru memicu konflik. Kuncinya adalah batasan yang konsisten dan mengembalikan ruang komunikasi nyata di meja makan atau ruang keluarga. Remaja butuh didengar di dunia nyata, agar mereka tidak mencari pelarian di dunia maya," tutup Nur Annisa. (***)
Editor : Yosep Awaludin