RADAR BOGOR - Banjir yang kembali merendam Perumahan Taman Sari Persada, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor Senin, 18 Mei 2026 malam kembali memicu keluhan warga. Persoalan banjir yang terus berulang dinilai belum tertangani secara tuntas meski berbagai perbaikan telah dilakukan bertahun-tahun.
Saat kejadian, ketinggian air mencapai sebetis hingga mendekati lutut orang dewasa, kondisi tersebut membuat akses keluar masuk warga lumpuh dan memaksa sebagian warga menunggu di luar kawasan Taman Sari Persada sampai air surut.
Sejumlah warga yang baru pulang kerja tidak bisa langsung masuk ke lingkungan rumahnya, mereka terpaksa bertahan di tepi jalan karena kendaraan tidak dapat melintasi genangan air di kawasan perumahan di wilayah Tanah Sareal Kota Bogor tersebut.
Baca Juga: DKPP Kota Bogor Bentuk Koperasi Ketahanan Pangan, Siap Suplai Program MBG
Mobil Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan BPBD Kota Bogor dikerahkan untuk membantu evakuasi, petugas mengangkut warga yang terjebak banjir agar bisa kembali ke rumah masing-masing.
Salah satu warga, Novi (30), mengaku terjebak sejak sekitar pukul 19.30 WIB saat pulang kerja dari Jakarta, ia bahkan tidak dapat mengakses rumahnya di kawasan Taman Palm karena jalan sudah tergenang.
“Saya baru pulang kerja dari Jakarta dan terjebak gak bisa pulang,” kata Novi.
Perbaikan Tanggul dan Saluran Air
Sementara itu Ketua RW 15 Kelurahan Cibadak, Ujang Sutisna menjelaskan, upaya penanganan sebenarnya telah dilakukan sejak lama, perbaikan tanggul dan saluran air dikerjakan bertahap sejak 2008 setelah Tembok Penahan Tanah (TPT) sempat jebol.
Baca Juga: Hindari 12 Ruas Jalan Utama di Kota Bogor Berikut Ini, saat Hujan Sering Banjir hingga Mirip Sungai
“Dulu sekitar tahun 2008, tanggul atau TPT di sini sempat jebol, setelah itu kami lakukan beberapa perbaikan di sisi bendali,” ujar Ujang.
Ia menjelaskan, bendali atau bendungan pengendali berfungsi menahan dan mengatur debit air sebelum masuk ke saluran utama dan pada 2016 dilakukan pelebaran gorong-gorong dari belakang Blok H yang semula berukuran 1,5 x 1,5 meter menjadi 3 x 2 meter.
Perbaikan kemudian dilanjutkan secara bertahap ke Blok G, Blok K, hingga Blok F dan area masjid sebelum masa pandemi Covid-19, meski demikian berbagai upaya tersebut belum mampu mengatasi banjir yang terus berulang.
Menurut Ujang, persoalan sampah dari wilayah hulu menjadi salah satu penyebab utama, dalam satu kali hujan besar, volume sampah yang diangkut bisa mencapai lebih dari 10 truk.
“Kalau kami keruk pakai alat berat, sampah untuk satu kali hujan besar saja bisa lebih dari 10 truk, selain itu, resapan air di wilayah atas sudah banyak berkurang karena pembangunan ruko dan rumah sakit di Simpang Yasmin,” jelasnya.
Ia menambahkan, banjir pada Senin malam termasuk yang terbesar dalam beberapa waktu terakhir, ketinggian air mencapai sekitar 60 persen dari tinggi orang dewasa akibat hujan dengan durasi panjang.
“Debit air yang masuk mencapai ribuan kubik, sehingga bendali dan saluran yang ada tidak mampu menampung, akhirnya air meluber sampai ke jalan dan permukiman,” ucapnya.
Usulkan Tambah Kolam Retensi di Hulu
Ujang menilai penanganan banjir harus dilakukan secara komprehensif dan menegaskan pentingnya penambahan kolam retensi di wilayah hulu untuk menahan debit air sebelum masuk ke kawasan permukiman.
Baca Juga: Kabar Mengejutkan Bansos 2026: Alasan Saldo BPNT Masih Kosong hingga Perbaikan Data Besar-besaran
“Harapannya ada kolam retensi tambahan di hulu, misalnya di belakang Lotte Mart, supaya air tidak langsung turun ke permukiman,” katanya.
Selain itu, perbaikan saluran internal juga akan kembali dilakukan, rencananya, proyek lanjutan drainase akan dikerjakan pada Juni atau Juli dengan ukuran saluran sekitar 1,5 x 1,5 meter yang dimulai dari Blok A.
Sementara itu, Anggota DPRD Kota Bogor Dapil Tanah Sareal, H. Karnain Asyhar menilai banjir di Taman Sari Persada tidak bisa dilihat secara parsial, secara geografis, kawasan tersebut merupakan titik cekungan yang menjadi muara aliran air dari berbagai wilayah sekitar.
“Aliran air dari Kedung Waringin, Simpang Yasmin, hingga pembangunan rumah sakit di seberang semuanya mengarah ke sini. Jadi saat hujan deras, air langsung menumpuk di Taman Sari,” ujarnya.
Ia menambahkan, banjir pada Senin malam baru benar-benar surut sekitar pukul 23.30 WIB, kondisi itu membuat aktivitas warga terganggu selama beberapa jam.
Karnain menyebut pemerintah bersama DPRD telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp3,8 miliar pada 2026. Anggaran tersebut digunakan untuk melanjutkan pembangunan drainase sepanjang kurang lebih 300 meter dari bundaran ke arah belakang.
“Ini bagian dari upaya percepatan aliran air, meski belum bisa menyelesaikan 100 persen. Penanganan akan terus dilakukan secara bertahap,” ucapnya. (uma)
Editor : Eka Rahmawati