RADAR BOGOR - Banjir akrab menyapa Kota Bogor, saat hujan melanda, oeristiwa ini disebabkan oleh dua faktor utama, buruknya drainase dan hilangnya lahan terbuka hijau.
Dua biangkerok tersebut jadi pembahasan Pemkot Bogor dalam rapat pembahasan penanganan banjir, yang digelar pada, Selasa, 19 Mei 2026 siang.
Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin telah memerintahkan agar seluruh kecamatan membuat skema penanganan banjir jangka pendek dan jangka panjang.
“Melihat situasi Bogor hari ini memang sebagian besar banjir lintasan yang terjadi di beberapa titik, sebabnya penyempitan dan pendangkalan saluran air,” ujar Jenal.
Penanganan jangka pendek, Pemkot Bogor saat ini tengah menggarap normalisasi salurah air di Bogor Utara, wilayah ini sudah hampir lima tahun dikepung banjir.
Baca Juga: Sidak Proyek Hotel di Katulampa, Komisi III DPRD Kota Bogor Bakal Panggil Manajemen
“Sehingga dampak tiga kelurahan yang sering banjir selama 5 tahun, insyaallah mudah-mudahan ke depan bisa selesai,” terang Jenal kepada wartawan.
Buat Sodetan Baru di Kali Ciluar
Sementara untuk penanganan jangka panjangnya, Pemkot Bogor akan membuat sodetan baru di kali Ciluar. PUPR saat ini tengah menggodok Fisibilty Study (FS).
Baca Juga: Jadi Proyek Tol BORR Seksi IIIB, Pemkot Bogor Kembali Lepas 11.800 Meter Persegi Lahan di Kayumanis
“Saya ingin ini terjadi di lima kecamatan yang lain. Minggu ini akan kita bahas lagi, untuk memastikan yang akan dilakukan treatment di PUPR dan Perumkim di setiap wilayah,” jelas Jenal.
Jenal juga turut menanggapi keberadaan drainase tertutup di sejumlah titik. Ia menilai skema itu bertujuan untuk keselamatan, secara fungsi tetap sama.
“Kalau ditutup berarti itu lebih kepada keselamatan, takutnya motor kejeblos,” ucap Jenal.
Persoalan utama banjir saat ini justru terjadi karena aliran air di permukaan tidak masuk ke drainase akibat tersumbat sampah dan daun.
Jenal mencontohkan banjir di kawasan Yasmin yang dipicu saluran masuk air menuju drainase tertutup sampah dan daun, setelah sampah diangkut, genangan air berangsur surut dalam waktu singkat.
“Begitu sampah yang menutup lubang akses air masuk diangkut, setengah jam air surut,” katanya.
Selain drainase yang buruk, kondisi banjir di Kota Bogor juga diperparah meningkatnya curah hujan dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Saat penyusunan masterplan drainase dulu, kapasitas hujan masih berada di angka 65 milimeter, kini intensitasnya sudah mencapai 120 milimeter.
Berkurangnya lahan terbuka hijau pun disebut menjadi faktor lain penyebab banjir. lahan sawah di Kota Bogor pada tahun 2009 berbanding jauh dengan saat ini.
“Lahan sawah dulu 2009 saya pertama kali buat Perda LP2B masih 900 hektar, sekarang tinggal 65 hektar sisa lahan terbuka di Kota Bogor,” ungkap Jenal.
Kondisi tersebut membuat air sulit diserap, akhirnya semua terbuang habis ke permukaan yang mengarah ke saluran drainase.
“Tapi drainasenya mampet, jadi banjir, kita enggak mencari siapa yang salah, tapi faktor banjir hari ini banyak dan butuh partisipasi semua stakeholder untuk menyelesaikan itu,” pungkasnya (bay)
Editor : Eka Rahmawati