Pria itu mengenakan pakaian ungu lengkap dengan topi besar menyerupai kubah. Bentuknya nyentrik. Sekilas seperti ornamen masjid yang berjalan di tengah kerumunan jemaah.
Namun rupanya ada alasan khusus dibalik penampilan tak biasa itu. Afifi mengaku sengaja mengenakan atribut tersebut untuk memudahkan para jemaah menemukan dirinya saat berada di Tanah Suci.
Baca Juga: Pemkab Geber Pemeliharaan Drainase di Sejumlah Ruas Jalan Terdampak Banjir di Kabupaten Bogor
“Ini saya pakai untuk bendera saya. Jadi jemaah enggak perlu cari-cari lagi. Tinggal lihat topi saya saja,” kata Afifi saat ditemui Radar Bogor di Masjid Raya Bogor.
Bukan tanpa alasan Afifi memilih cara itu. Pengalaman puluhan tahun membimbing haji membuatnya paham betul bagaimana sulitnya mencari rombongan di tengah jutaan manusia yang memadati Mekkah.
Agar Mudah Ditemukan Jemaah Haji
Dulu, Afifi sempat tampil biasa seperti pembimbing lain. Mengenakan sorban dan pakaian umum tapi hasilnya, jemaah kerap kesulitan menemukan dirinya.
“Nah setelah saya pakai begini jadi gampang. Kalau di keramaian tinggal saya berdiri saja, jemaah langsung tahu, ‘oh itu dia’,” ujarnya sambil tersenyum.
Topi unik yang dikenakannya bahkan ia sebut sebagai “kubah berjalan”. Bukan dibeli di toko, pakaian itu dibuat khusus oleh penjahit langganannya.
“Bikin sendiri. Saya punya penjahit sendiri. Alhamdulillah pernah masuk acara Hitam Putih Deddy Corbuzier juga,” terang dia.
Di balik penampilannya yang nyentrik, Afifi ternyata bukan sosok sembarangan. Tahun ini menjadi musim haji ke-37 baginya.
Ia pertama kali menunaikan ibadah haji saat masih berusia 20 tahun ketika menempuh pendidikan di Madinah. Sejak saat itu, Afifi hampir tak pernah absen mendampingi jemaah ke Tanah Suci.
“Alhamdulillah sejak tahun 2000 sampai sekarang terus haji. Dulu waktu masih kuliah di Madinah pertama kali,” ucapnya.
Tahun ini Afifi berangkat bersama rombongan KBIHU Sabirul Hidayah Kota Bogor. Ia membawa sekitar 150 jemaah untuk dibimbing selama menjalankan ibadah haji.
Baginya, penampilan unik bukan soal mencari perhatian. Di tengah padatnya jutaan manusia dari berbagai negara, topi kubah itu justru menjadi penolong bagi jemaah yang kerap terpisah dari rombongan.
“Kalau jemaah lihat saya kan jadi gampang. Enggak usah repot bawa bendera lagi,” pungkasnya (bay)
Editor : Eka Rahmawati