RADAR BOGOR – ICMI Kota Bogor resmi melakukan soft launching sekaligus penandatanganan Pakta Integritas Pentahelix pendirian IFACE (Film Ecosystem and Academy) di Universitas Tazkia, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Rabu, 20 Mei 2026.
Program kolaborasi antara ICMI, MBH, dan Universitas Tazkia itu menjadi langkah awal membangun ekosistem perfilman yang edukatif, inspiratif, dan bernilai dakwah bagi generasi muda.
Sekretaris Jenderal ICMI Kota Bogor, Dr. Arijulmanan, mengatakan lahirnya IFACE berawal dari kegiatan Bogor ICMI Islamic Festival (BIFES) yang telah berjalan selama dua tahun terakhir.
“BIFES itu dalam rangka bagaimana kita mengajak anak-anak muda untuk bergabung dan menunjukkan kreativitasnya dalam dunia film dengan menggunakan yang mereka miliki, yaitu handphone,” ujarnya kepada Radar Bogor, Rabu, 20 Mei 2026.
Ia menjelaskan, pembentukan IFACE menjadi yang pertama dilakukan oleh ICMI Kota Bogor. Sementara itu, festival filmnya sendiri telah berlangsung dua kali dan akan kembali digelar pada 2027 mendatang.
“Untuk pembentukan IFACE ini adalah yang pertama. Kalau festival filmnya sudah dua kali dan insya Allah tahun 2027 nanti adalah yang ketiga,” katanya.
Bangkitkan Semangat Anak Muda Terjun ke Dunia Film
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini masih berada pada sisi sumber daya manusia. Minat generasi muda untuk terjun langsung ke dunia perfilman dinilai masih rendah dan sebagian besar hanya menjadi penonton.
“Mudah-mudahan dengan adanya IFACE ini, dapat memberikan modal ataupun ilmu tentang perfilman sehingga mereka aktif di dunia film dengan bekal ilmu yang dibutuhkan,” ungkapnya.
Ia berharap generasi muda nantinya tidak hanya memiliki semangat berkarya, tetapi juga dibekali kemampuan teknis sehingga bisa membuka peluang usaha dari industri kreatif.
“Jadi bukan hanya semangat, tapi juga dengan ilmu sehingga bisa membawa mereka bahkan berwirausaha,” tambahnya.
Sementara itu, Dewan Pendidikan Kota Bogor Sutopo menyambut baik hadirnya IFACE sebagai wadah pengembangan pendidikan berbasis media kreatif.
“Kami dari Dewan Pendidikan Kota Bogor tentunya sangat menyambut baik kolaborasi ini. Karena tujuan dari film akademik ini adalah meningkatkan kualitas pendidikan melalui pembuatan konten-konten yang berkaitan dengan pendidikan,” ucapnya.
Menurutnya, film saat ini menjadi media yang efektif dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, terutama di tengah era hyper-connectivity yang membuat pelajar tidak bisa lepas dari arus informasi digital.
“Karena itu, penting membuat film-film pendek dan bermakna untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan model dakwah Islam,” jelasnya.
Ia menilai identitas ICMI yang lekat dengan nilai-nilai Islam dapat menjadi dasar dalam membangun karya perfilman yang menonjolkan pendidikan karakter, akhlak, dan moral.
Di sisi lain, produser dan sutradara film, Reza B. Surianegara, menilai IFACE memiliki konsep berbeda dibanding program perfilman lainnya. Menurutnya, peserta tidak hanya diajarkan membuat film, tetapi juga bagaimana menghasilkan pendapatan dari karya kreatif menggunakan handphone.
“Di sini yang akan diajarkan bagaimana caranya cari duit dulu dari handphone. Jadi bikin film pakai handphone, tapi juga belajar entrepreneurship,” imbuhnya.
Ia menjelaskan, peserta nantinya akan dibekali kemampuan public speaking, pitching proyek, hingga penyusunan proposal yang dapat diterima perusahaan nasional maupun internasional.
Selain itu, IFACE juga telah memiliki jaringan kolaborasi hingga ke luar negeri, seperti Jepang, Prancis, dan Jerman.
“Kita sudah terkoneksi baik di dalam negeri sampai luar negeri. Sayang kalau anak-anak sekolah tidak memanfaatkan handphonenya untuk belajar dan berkarya,” ungkapnya.
Menurut Reza, IFACE juga akan rutin menggelar webinar gratis setiap pekan yang terbuka untuk umum. Setelah memahami cara mendapatkan pendanaan dan produksi film, peserta nantinya diarahkan mengikuti festival film tingkat daerah hingga internasional.
“Festival itu di belakang. Kita ajarkan dulu cara cari duitnya, lalu produksi film, setelah itu monetisasi, dan baru festival,” tuturnya.
Ia menyebut, pada festival sebelumnya peserta bahkan berasal dari enam negara. Karena itu, pihaknya menargetkan cakupan yang lebih luas pada pelaksanaan festival tahun 2027 mendatang.
“Anak-anak sekarang sudah bisa diajarkan cari duit dari handphone dan itu bisa dipakai untuk bikin karya-karya positif,” tutupnya. (Cr1)
Editor : Eka Rahmawati