Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Hemofilia Bukan Akhir Segalanya, Anak Tetap Bisa Sekolah dan Beraktivitas, Ini Penjelasan Dokter RSUD Kota Bogor

Siti Dewi Yanti • Kamis, 21 Mei 2026 | 11:54 WIB
Dokter spesialis anak RSUD Kota Bogor, dr Sri Utami, Sp.A., M.Kes (kiri) saat memberikan penjelasan terkait Hemofilia.  (Foto : Yt RSUD Kota Bogor)
Dokter spesialis anak RSUD Kota Bogor, dr Sri Utami, Sp.A., M.Kes (kiri) saat memberikan penjelasan terkait Hemofilia. (Foto : Yt RSUD Kota Bogor)

RADAR BOGOR - Banyak orang tua masih menganggap hemofilia sebagai penyakit yang membuat anak tidak bisa bergerak bebas atau menjalani aktivitas seperti anak lainnya. 

Padahal, dengan penanganan yang tepat, anak penderita hemofilia tetap dapat tumbuh aktif, bersekolah, hingga menjalani kehidupan produktif.

Hal itu disampaikan dokter spesialis anak RSUD Kota Bogor, dr Sri Utami, Sp.A., M.Kes saat membahas pentingnya pemahaman masyarakat terhadap hemofilia dan cara mendampingi anak penderita gangguan pembekuan darah tersebut di channel YouTube RSUD Kota Bogor.

Menurut dr Sri Utami, hemofilia merupakan penyakit akibat gangguan faktor pembekuan darah di dalam tubuh. 

Baca Juga: PIP 2026 Bisa Dicek Online dari Rumah, Ini Cara Mudah Mengetahui Dana Sudah Masuk atau Belum

Kondisi ini mengakibatkan, perdarahan sulit berhenti ketika penderita mengalami luka atau benturan.

“Pada tubuh normal ada tiga komponen penting agar tidak terjadi perdarahan, yaitu pembuluh darah, trombosit, dan faktor pembekuan darah. Nah, hemofilia terjadi karena gangguan pada faktor pembekuan, terutama faktor 8 dan faktor 9,” jelasnya.

Ia menerangkan, kekurangan faktor 8 dikenal sebagai hemofilia A dan menjadi kasus paling banyak ditemukan. Sementara kekurangan faktor 9 disebut hemofilia B.

Sering Baru Ketahuan Saat Anak Mengalami Benturan

Hemofilia ternyata bisa terdeteksi sejak bayi baru lahir. Namun dalam banyak kasus, penyakit ini baru diketahui ketika anak mengalami perdarahan yang sulit berhenti.

“Paling sering diketahui saat anak disunat, ternyata perdarahannya tidak berhenti. Baru kemudian diperiksa dan diketahui mengalami hemofilia,” ujar dr Sri Utami.

Selain itu, tanda lain yang perlu diwaspadai orang tua adalah pembengkakan sendi, terutama di bagian lutut, setelah anak melakukan aktivitas fisik.

Pembengkakan tersebut terjadi akibat perdarahan di dalam sendi dan jika berulang dapat mengganggu kualitas hidup anak dalam jangka panjang.

Anak Hemofilia Tetap Boleh Sekolah, Tapi Ada Batasan Aktivitas

Meski memiliki keterbatasan fisik tertentu, anak dengan hemofilia tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari termasuk bersekolah.

Namun, pihak sekolah dan guru perlu mengetahui kondisi anak agar dapat memberikan pengawasan khusus, terutama saat pelajaran olahraga.

Baca Juga: Presiden Prabowo Siapkan Sapi Kurban 1 Ton untuk Kota Bogor, Dipelihara Sejak Kecil di Kebon Pedes

“Anak hemofilia tetap boleh sekolah seperti biasa. Tetapi aktivitas fisik berat dan olahraga dengan kontak langsung seperti karate, tinju, atau sepak bola sebaiknya dihindari,” kata dr Sri Utami.

Ia menyarankan, olahraga ringan seperti berjalan kaki, berenang, dan yoga ringan sebagai pilihan yang lebih aman untuk menjaga kebugaran tubuh anak.

Selain itu, penggunaan alat pelindung seperti helm, pelindung lutut, dan pelindung siku juga sangat dianjurkan ketika anak beraktivitas.

Pertolongan Pertama Saat Anak Hemofilia Mengalami Perdarahan

Ketika anak hemofilia mengalami cedera atau perdarahan, penanganan awal harus dilakukan dengan cepat untuk mencegah kondisi memburuk.

dr Sri Utami menjelaskan metode pertolongan pertama yang dikenal dengan istilah RICE.

“R itu rest atau istirahatkan anak. I untuk ice, dikompres es. C compression atau ditekan menggunakan balut tekan. E elevation, bagian yang berdarah diposisikan lebih tinggi,” jelasnya.

Langkah tersebut dinilai penting untuk membantu mengurangi perdarahan sebelum mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Dampak Psikologis Tak Bisa Diabaikan, Keluarga Harus Jadi Support System

Tidak hanya memengaruhi kondisi fisik, hemofilia juga dapat berdampak pada psikologis anak.

Menurut dr Sri Utami, anak usia sekolah yang sering mengalami keterbatasan aktivitas berpotensi merasa minder karena tidak bisa bermain bebas seperti teman-temannya.

Bahkan, pada usia remaja, kondisi ini dapat memengaruhi prestasi sekolah akibat sering absen karena sakit atau menjalani pengobatan.

Karena itu, dukungan keluarga menjadi faktor penting dalam menjaga kondisi mental anak.

“Keluarga harus menjadi support system utama. Dukungan psikologis bukan hanya untuk anak, tetapi juga untuk orang tua karena menghadapi kondisi ini tentu tidak mudah,” ujarnya.

Terapi Baru Hemofilia Mulai Berkembang di Indonesia

Kabar baiknya, saat ini mulai berkembang metode terapi profilaksis untuk penderita hemofilia.

Terapi ini dilakukan dengan pemberian faktor pembekuan dosis rendah secara berkala untuk mencegah terjadinya perdarahan berat.

Menurut dr Sri Utami, metode tersebut dinilai lebih efektif dibanding terapi yang hanya diberikan ketika perdarahan sudah terjadi.

“Kalau dilakukan rutin, diharapkan perdarahan berat bisa dicegah sehingga kualitas hidup anak menjadi lebih baik,” katanya.

Tiga Tips Penting Agar Anak Hemofilia Tetap Produktif

Sebagai penutup, dr Sri Utami membagikan tiga langkah penting agar anak dengan hemofilia tetap aktif dan produktif menjalani kehidupan sehari-hari.

1. Deteksi dan Konseling Genetik Sejak Dini

Hemofilia merupakan penyakit keturunan yang lebih sering menyerang anak laki-laki. Karena itu, keluarga dengan riwayat hemofilia disarankan melakukan konseling genetik.

2. Terapkan Terapi Profilaksis

Pemberian terapi pencegahan secara rutin dinilai mampu menurunkan risiko perdarahan berat dan kerusakan sendi.

3. Pilih Aktivitas Fisik yang Aman

Anak tetap perlu bergerak dan berolahraga, namun pilih aktivitas ringan seperti berjalan kaki, berenang, atau yoga ringan, serta gunakan alat pelindung saat beraktivitas.

“Anak dengan hemofilia tetap bisa aktif, sekolah, dan produktif. Yang terpenting adalah pengawasan, dukungan keluarga, serta penanganan yang tepat,” papar dr Sri Utami. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
#Hemofilia #bogor #RSUD Kota Bogor #anak