RADAR BOGOR - Masih banyak masyarakat yang menganggap autisme sebagai penyakit yang harus disembuhkan.
Padahal, autisme bukan penyakit seperti diabetes atau hipertensi yang bisa diobati dengan obat tertentu.
Hal itu dijelaskan dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi RSUD Kota Bogor, dr Adilla Hikma Zakiati, Sp.KFR saat membahas tema autisme dan pendidikan anak.
Menurut dr Adilla, autisme merupakan kondisi neurodivergen, yaitu keadaan ketika seseorang memiliki cara kerja otak yang berbeda dibandingkan kebanyakan orang pada umumnya.
Baca Juga: Tak Ada Ruang Bagi Pelaku Kejahatan Jalanan, Polrestro Depok Tangkap 4 Begal dalam Sebulan
“Autisme bukan penyakit. Mereka memiliki tantangan dalam interaksi sosial, komunikasi, regulasi emosi, dan adaptasi terhadap lingkungan,” ujar dr Adilla di channel Youtube RSUD Kota Bogor.
Ia menegaskan, tujuan utama terapi bukan untuk “menyembuhkan” autisme, melainkan membantu anak agar lebih mandiri, mampu bersosialisasi, dan memiliki kualitas hidup yang baik.
Kenapa Anak Autisme Sering Sulit Bersosialisasi?
Salah satu tantangan terbesar anak dengan autism spectrum disorder (ASD) adalah kemampuan komunikasi sosial.
dr Adilla menjelaskan, tidak semua anak autisme mengalami keterlambatan bicara.
Sebagian justru mampu berbicara lancar, namun kesulitan memahami dinamika komunikasi dua arah.
“Mereka bisa berbicara, tetapi kadang sulit memahami emosi, konteks percakapan, atau respon sosial dari lawan bicara,” katanya.
Anak autisme juga cenderung memiliki pola perilaku yang sangat konsisten dan sulit menerima perubahan mendadak.
Baca Juga: 7 Daerah Dilaporkan Sudah Cair BPNT Hari Ini, Saldo Rp600 Ribu Masuk ke KKS Baru BNI
Bahkan perubahan kecil, seperti posisi barang, suara tertentu, atau pencahayaan ruangan, dapat memicu tantrum atau stres berlebihan.
Gejala Autisme Bisa Terlihat Sejak Bayi
Menurut dr Adilla, tanda awal autisme sebenarnya sudah bisa terlihat sejak usia di bawah satu tahun.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai orang tua antara lain:
- Kontak mata minim
- Respons senyum yang kurang jelas
- Tidak merespons panggilan nama
- Terlambat bicara atau motorik
- Sering melakukan gerakan berulang
- Sulit memahami interaksi sosial
“Kadang bayi terlihat seperti tidak nyaman terus-menerus, sulit diatur ritmenya, atau terlihat berbeda dalam cara merespons lingkungan,” jelasnya.
Ia juga menyebut beberapa anak autisme menunjukkan perilaku stimulasi diri atau stimming, seperti mengepakkan tangan, mengulang suara tertentu, hingga menggigit benda secara berulang.
Anak Autisme Bisa Sekolah Formal, Tapi Ada Syaratnya
Pertanyaan yang paling sering muncul dari orang tua adalah apakah anak autisme bisa sekolah seperti anak lainnya.
Jawabannya, bisa.
Namun, tidak semua anak memiliki kesiapan yang sama.
Menurut dr Adilla, keputusan memilih sekolah harus disesuaikan dengan kemampuan fungsional anak, bukan sekadar label diagnosis.
“Yang paling penting dilihat adalah apakah anak siap secara sosial, emosional, dan aktivitas dasar seperti makan, tidur, dan toileting,” ujarnya.
Ia menjelaskan, anak dengan fungsi tinggi atau high functioning autism umumnya masih bisa mengikuti sekolah formal, terutama jika didukung guru pendamping dan lingkungan yang memahami kondisi mereka.
Sementara anak dengan kebutuhan lebih kompleks mungkin membutuhkan sekolah inklusi atau pendampingan khusus.
Sekolah Inklusi Dinilai Lebih Ideal, Tapi Belum Sempurna
Saat ini, banyak orang tua bingung memilih antara sekolah umum, sekolah inklusi, atau sekolah luar biasa (SLB).
Menurut dr Adilla, sekolah inklusi menjadi salah satu pilihan yang cukup baik karena menyediakan guru pendamping dan sistem belajar yang lebih fleksibel.
Namun, ia menilai sistem pendidikan di Indonesia masih memiliki banyak tantangan dalam menangani anak berkebutuhan khusus.
“Guru pendidikan luar biasa bebannya sangat besar karena harus menangani berbagai kondisi anak sekaligus,” katanya.
Ia berharap ke depan Indonesia memiliki sistem pendidikan yang lebih spesifik sesuai kebutuhan masing-masing anak.
Gadget Berlebihan Bisa Memicu Gejala Mirip Autisme
Dalam kesempatan itu, dr Adilla juga menyoroti dampak penggunaan gadget berlebihan pada anak usia dini.
Menurutnya, paparan layar yang terlalu lama dapat membuat anak menunjukkan gejala mirip autisme atau autism-like syndrome.
“Anak jadi terlalu fokus pada layar, sulit merespons lingkungan sekitar, bahkan tidak menoleh saat dipanggil,” jelasnya.
Meski demikian, kondisi tersebut berbeda dengan autisme spektrum yang memang berkaitan dengan perkembangan neurologis anak.
dr Adilla menyarankan anak usia di bawah tiga tahun sebaiknya tidak terpapar gadget secara berlebihan demi menjaga perkembangan otak dan kemampuan sosialnya.
Bullying Jadi Ancaman Nyata bagi Anak Autisme
Selain tantangan akademik, anak autisme juga rentan mengalami bullying di lingkungan sekolah.
Menurut dr Adilla, bullying tidak selalu berupa kekerasan fisik atau verbal, tetapi juga bisa berupa tatapan, pengucilan, hingga sikap yang membuat anak merasa berbeda.
Karena itu, ia menekankan pentingnya edukasi kepada lingkungan sekolah dan teman sebaya agar lebih memahami cara berinteraksi dengan anak autisme.
“Mereka tidak butuh dikasihani, tapi dipahami dan diterima,” tegasnya.
Autisme Tidak Bisa Disembuhkan, Tapi Anak Bisa Tetap Mandiri
dr Adilla menegaskan, autisme bukan kondisi yang bisa hilang sepenuhnya.
Namun dengan terapi dan dukungan yang tepat, anak tetap bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan produktif.
Bahkan, ia mengaku pernah menangani pasien dewasa yang baru menyadari dirinya berada dalam spektrum autisme setelah mengalami kesulitan sosial di dunia kerja.
“Ada yang sudah jadi dokter, akuntan, dan profesional lainnya. Mereka tetap bisa berkarya, hanya cara mereka memahami dunia memang berbeda,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk menghentikan stigma terhadap autisme dan mulai membangun lingkungan yang lebih inklusif bagi anak-anak neurodivergen.
“Yang mereka butuhkan sebenarnya bukan belas kasihan, tetapi penerimaan dan dukungan dari lingkungan sekitar,” jelas dr Adilla. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti