RADAR BOGOR - Tuberkulosis atau TBC masih menjadi salah satu penyakit menular dengan kasus tertinggi di Indonesia.
Namun ironisnya, hingga kini masih banyak masyarakat yang belum memahami apa sebenarnya penyakit TBC.
Sebagian orang mengenalnya sebagai “flek paru”, ada juga yang menyebutnya “paru-paru basah”.
Padahal, TBC merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri bernama Mycobacterium tuberculosis.
Baca Juga: Gelar Job Fair Expo di SMKN 1 Cariu, Jadi Upaya Pemkab Bogor Tekan Angka Pengangguran
Hal itu dijelaskan dokter spesialis paru RSUD Kota Bogor, dr Evelsha Azzahra, Sp.P saat membahas pentingnya edukasi mengenai tuberkulosis kepada masyarakat.
“TBC adalah penyakit infeksi akibat bakteri. Memang paling sering menyerang paru-paru, tetapi sebenarnya bisa menyerang organ lain juga,” ujar dr Evelsha di channel YouTube RSUD Kota Bogor.
TBC Menular Lewat Udara, Tapi Tidak Semudah yang Dibayangkan
Menurut dr Evelsha, penularan TBC terjadi melalui udara atau airborne disease.
Ketika penderita TBC paru aktif batuk atau bersin, percikan dahak yang mengandung bakteri dapat terhirup oleh orang lain dan menyebabkan penularan.
Namun, ia menegaskan masyarakat tidak perlu panik berlebihan.
“Penularannya bukan dari berbagi piring atau alat makan. Selama alat makan dicuci bersih, itu aman,” jelasnya.
Ia menambahkan, bakteri TBC tidak bertahan lama di suhu panas sehingga risiko penularan lewat peralatan makan sangat kecil.
Kelompok yang paling rentan tertular biasanya anak-anak, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh rendah.
Tidak Hanya Menyerang Paru-Paru, TBC Bisa Menyebar ke Otak hingga Tulang
Banyak orang mengira TBC hanya menyerang paru-paru.
Padahal, penyakit ini juga dapat menyerang organ lain seperti otak, tulang, usus, hingga kelenjar getah bening.
Meski demikian, TBC paru tetap menjadi jenis yang paling sering ditemukan.
“Kuman TBC sangat menyukai oksigen, sehingga paru-paru menjadi organ yang paling sering terkena,” kata dr Evelsha.
Untuk TBC di luar paru atau ekstra paru, gejala yang muncul biasanya menyesuaikan dengan organ yang terinfeksi.
Kabar baiknya, TBC ekstra paru umumnya tidak menular karena bakteri tidak keluar melalui percikan dahak saat penderita batuk atau bersin.
Batuk Lebih dari Dua Minggu Jangan Dianggap Sepele
Salah satu gejala paling khas TBC paru adalah batuk berkepanjangan yang tidak kunjung sembuh.
dr Evelsha mengingatkan masyarakat agar segera memeriksakan diri jika mengalami batuk lebih dari dua minggu, terutama jika disertai gejala lain seperti:
- Berat badan turun drastis
- Demam terutama malam hari
- Keringat malam berlebihan
- Nafsu makan menurun
- Batuk berdahak atau batuk darah
“Kalau batuk biasa biasanya sembuh dalam beberapa hari. Tapi kalau sudah dua minggu lebih harus mulai curiga TBC,” tegasnya.
Pemeriksaan dapat dilakukan di puskesmas, klinik, maupun rumah sakit melalui pemeriksaan dahak dan foto rontgen paru.
TBC Bisa Sembuh Total, Asal Minum Obat Sampai Tuntas
Salah satu masalah terbesar dalam penanganan TBC adalah banyak pasien berhenti minum obat sebelum waktunya.
Padahal, pengobatan TBC membutuhkan waktu cukup panjang, minimal enam bulan.
Menurut dr Evelsha, bakteri TBC memiliki sifat dorman atau “tidur”, sehingga pengobatan harus dilakukan terus-menerus untuk memastikan seluruh bakteri benar-benar mati.
“Kalau pengobatan tidak tuntas, kuman bisa menjadi resisten dan pengobatannya jauh lebih sulit,” jelasnya.
Ia memastikan obat TBC tersedia lengkap dan gratis, bahkan untuk pasien non-BPJS.
Viral Pengobatan Herbal TBC, Dokter Beri Peringatan Keras
Belakangan sempat viral klaim bahwa TBC bisa sembuh hanya dengan pengobatan herbal tanpa obat medis.
dr Evelsha menegaskan hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menyatakan herbal dapat membunuh bakteri TBC.
“Herbal mungkin membantu meningkatkan daya tahan tubuh, tetapi tidak membunuh kumannya. TBC tetap harus diobati dengan antibiotik khusus,” katanya.
Ia meminta masyarakat lebih bijak menyaring informasi kesehatan yang beredar di media sosial agar tidak terjebak informasi menyesatkan.
Efek Samping Obat TBC Memang Ada, Tapi Jangan Takut
Banyak pasien menghentikan pengobatan karena takut efek samping obat.
Padahal menurut dr Evelsha, sebagian besar efek samping masih bisa ditangani dan tidak selalu berbahaya.
Keluhan yang paling sering muncul antara lain:
- Mual
- Gangguan lambung
- Gatal
- Nyeri sendi
- Rambut rontok ringan
- Jerawat
Namun, seluruh kondisi tersebut tetap harus dikonsultasikan dengan dokter agar pengobatan bisa dievaluasi dengan aman.
Ibu Hamil Tetap Bisa Jalani Pengobatan TBC
dr Evelsha juga menegaskan ibu hamil yang terkena TBC tetap dapat menjalani pengobatan dengan aman.
Menurutnya, obat anti tuberkulosis yang digunakan saat ini relatif aman untuk ibu hamil maupun ibu menyusui.
“Jangan takut berobat. Justru kalau tidak diobati, risiko untuk ibu dan janin bisa lebih besar,” ujarnya.
Anak dengan TBC Justru Biasanya Tertular dari Orang Dewasa
Hal yang sering tidak disadari masyarakat adalah anak penderita TBC umumnya tertular dari orang dewasa di sekitarnya.
Anak-anak biasanya tidak menjadi sumber penularan utama karena jumlah bakteri lebih sedikit dan kemampuan batuknya belum sekuat orang dewasa.
“Kalau ada anak terkena TBC, justru kita harus mencari sumber penularannya dari orang dewasa di rumah,” kata dr Evelsha.
TBC Bukan Aib, Edukasi Jadi Kunci Menghapus Stigma
Masih banyak penderita TBC yang dijauhi karena dianggap penyakit memalukan dan menular berbahaya.
Padahal, TBC adalah penyakit yang bisa disembuhkan jika ditangani dengan benar.
Baca Juga: Kejar PAD Rp2 Triliun, Bapenda Kota Bogor Minta Lurah dan Camat Maksimalkan Potensi Pajak
dr Evelsha menegaskan, pentingnya edukasi agar masyarakat tidak lagi memberikan stigma buruk kepada penderita.
“Penyakit TBC bukan aib. Obatnya ada, pengobatannya gratis, dan bisa sembuh total asalkan disiplin menjalani terapi,” tutupnya. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti