RADAR BOGOR - Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor mulai tancap gas membenahi aset sekaligus mengembangkan lini bisnis baru demi mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Tidak hanya fokus pada layanan air bersih, perusahaan daerah itu kini membidik bisnis turunan air hingga optimalisasi aset komersial.
Di bawah kepemimpinan Direktur Pelayanan dan Bisnis yang baru, Muzakkir Abdullah, Tirta Pakuan mulai melakukan penataan menyeluruh terhadap aset perusahaan yang selama ini belum memiliki status kepemilikan yang jelas.
Menurut Muzakkir, sejumlah aset masih tercatat atas nama Pemerintah Kota Bogor maupun Perumnas. Kondisi itu dinilai menyulitkan proses pengelolaan dan pengembangan usaha.
Baca Juga: Pemkot Bogor Janji Bangun Jembatan yang Ambruk di Pasir Jaya, Targetkan Selesai Akhir November 2026
“Kami sedang merapikan semuanya. Jika aset tersebut milik Pemkot, kami akan menyewa atau menempuh proses penyertaan modal pemerintah (PMP) agar statusnya jelas dan lebih mudah dikelola,” ujarnya.
Ia menargetkan proses pemetaan dan penataan aset tersebut dapat rampung dalam tiga bulan ke depan.
Tak hanya soal aset, Tirta Pakuan juga mulai mengembangkan bisnis non-air dengan memanfaatkan surplus produksi air yang dimiliki saat ini. Salah satu yang tengah disiapkan yakni penjualan air curah serta produksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK).
“Produksi air kita saat ini masih berlebih dibandingkan kebutuhan yang disalurkan, sehingga sangat memungkinkan untuk mengembangkan bisnis air curah maupun AMDK,” tambahnya.
Di sektor pelayanan, Tirta Pakuan terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat serta pelaku usaha seperti hotel, restoran, dan perkantoran agar beralih dari penggunaan air tanah ke layanan PDAM.
Langkah tersebut dinilai penting, tidak hanya dari sisi bisnis perusahaan, tetapi juga demi menjaga kesehatan masyarakat.
Muzakkir menjelaskan, penggunaan air tanah memiliki risiko pencemaran yang cukup tinggi. Bahkan, air yang terlihat jernih belum tentu aman digunakan.
“Air tanah sering kali tercemar, bahkan ada yang mengandung bakteri E. coli meskipun terlihat bersih secara kasat mata. Ini berbahaya bagi kesehatan, terutama anak-anak,” tegasnya.
Selain itu, Tirta Pakuan juga membuka peluang kerja sama dengan investor untuk memaksimalkan pemanfaatan aset strategis perusahaan.
Sejumlah aset di kawasan pusat kota direncanakan dikembangkan menjadi area komersial seperti kafe, restoran, hingga fasilitas pengisian daya kendaraan listrik.
Baca Juga: Tukang Ojek Duel Lawan Begal yang Hendak Gasak Motornya di Cariu Bogor, Pelaku Ditangkap
Sementara aset perusahaan yang berada di luar kota, seperti di kawasan Ciaruteun, Kabupaten Bogor, mulai dikerjasamakan dengan pihak swasta untuk pengembangan destinasi wisata arung jeram.
“Prinsipnya kami berbicara bisnis. Pengusaha mendapat keuntungan dan kami sebagai pemilik aset juga memperoleh manfaat, yang pada akhirnya akan menambah PAD Kota Bogor,” katanya.
Dalam sistem pelayanan, Tirta Pakuan saat ini menerapkan tujuh klaster tarif pelanggan yang disesuaikan dengan profil pengguna, mulai dari luas bangunan hingga lokasi tempat tinggal.
Golongan 1 hingga 3 masih mendapatkan subsidi, sedangkan titik impas perusahaan berada pada golongan 4. Adapun pelanggan golongan 5 ke atas mulai memberikan keuntungan bagi perusahaan.
Kebijakan itu diterapkan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan agar layanan air bersih tetap dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat di Kota Bogor.(ded)
Editor : Eka Rahmawati