RADAR BOGOR – Penjualan hewan kurban di Bursa Hewan Qurban Pajajaran, Kota Bogor, mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Dari total tujuh lapak yang beroperasi, mayoritas pedagang mengaku penjualan tahun ini lesu.
Kondisi tersebut dirasakan oleh Abbas, penjual dari Sehon Farm asal Cimahpar. Ia mengaku tren penjualan terus menurun sejak pandemi Covid-19 dan hingga kini belum kembali normal.
“Saya sudah 24 tahun jualan di sini. Dulu sebelum corona penjualan bagus, tapi setelah pandemi sampai sekarang justru terus menurun,” ujarnya.
Ia menyebut, dalam kondisi saat ini, pembeli yang datang langsung ke lapak sangat minim. Dalam sehari, penjualan hanya berkisar dua hingga tiga ekor, bahkan dalam dua hari terakhir hanya satu pembeli yang benar-benar bertransaksi.
Baca Juga: Kota Bogor Bidik Predikat Utama Kota Layak Anak, Nilai Sudah Nyaris Maksimal
“Sekarang yang datang banyak yang lihat-lihat saja, belum beli. Mungkin memang belum rezekinya ke sini,” katanya.
Pada musim kurban tahun lalu, dari 45 ekor kambing yang dibawa, sekitar 15 ekor tidak terjual. Tahun ini, ia mengurangi stok menjadi 30 ekor sebagai langkah antisipasi, tetapi hingga saat ini baru tujuh ekor yang terjual.
Turunkan Harga Hewan Kurban
“Biasanya di waktu sekarang sudah habis sekitar 25 ekor, tahun ini penurunannya sudah tidak wajar,” keluhnya.
Baca Juga: Ungkap Kasus Tambang Emas Ilegal di Cigudeg dan Tanjungsari, Polres Bogor Tangkap 4 Pelaku
Untuk menarik minat pembeli, Abbas terpaksa menurunkan harga jual. Domba dengan bobot 70 kilogram misalnya, kini dijual Rp6,5 juta dari harga normal Rp7 juta.
“Mau tidak mau harga diturunkan, yang penting modal bisa berputar dan hewan cepat laku,” jelasnya.
Ia menambahkan, beban operasional harian tetap berjalan meski penjualan menurun, biaya pakan ternak hingga upah penjaga harus tetap dikeluarkan setiap hari.
“Pengeluaran terus jalan, sementara penjualan berkurang, harapannya beberapa hari ke depan pembeli mulai ramai,” ucapnya.
Kondisi serupa juga dialami pedagang sapi di lokasi tersebut, salah satu penjual mengaku baru menjual beberapa ekor, meski sapi yang dipasarkan merupakan hasil ternak sendiri yang didatangkan dari luar daerah dan dirawat sejak kecil.
Berbeda dengan kondisi di Bursa Pajajaran, penjualan di lapak Bima Jaya Farm di Jalan Sholeh Iskandar, Cibadak, justru menunjukkan tren lebih baik. Meski tidak setinggi tahun lalu, sebagian besar stok sapi telah terjual.
Direktur Utama Bima Jaya Farm, Iluman, mengatakan tahun ini pihaknya hanya menyediakan sekitar 800 ekor sapi, turun dari biasanya 1.000 ekor sebagai langkah antisipasi melemahnya daya beli.
“Alhamdulillah sekitar 90 persen sudah terjual, sisanya tinggal proses distribusi ke pemesan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, mayoritas sapi didatangkan dari Nusa Tenggara Barat dan Bali dengan jenis sapi Bali dan persilangan. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp12 juta per ekor, tergantung bobot.
Selain itu, sistem penjualan juga dilakukan secara langsung maupun daring. Namun, sebagian besar pembeli tetap memilih datang langsung ke lokasi untuk memastikan kondisi hewan.
Sementara itu, pedagang lain di Jalan Raya Kedung Halang Wates, Munawar, menyebut harga hewan kurban tahun ini cenderung mengalami kenaikan, khususnya pada sapi.
“Kalau kambing relatif sama, tapi sapi sekarang harga modalnya sudah naik. Biasanya saya jual Rp22 juta, sekarang itu justru jadi harga modal,” ungkapnya.
Ia menambahkan, meski harga naik, minat masyarakat diperkirakan akan meningkat mendekati hari raya Iduladha. Biasanya lonjakan pembelian terjadi dalam sepekan terakhir.
“Sekarang mungkin masih belum ramai karena waktunya masih agak jauh dari hari H,” tutupnya. (uma)
Editor : Eka Rahmawati