RADAR BOGOR - Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam organiasi PMII Kota Bogor melakukan aksi demontrasi di depan Balai Kota Bogor, Senin, 25 Mei 2026 sore.
Dalam aksi demo itu, massa membawa beragam tuntutannya melalui poster yang dibentangkan. Lagu-lagu perjuangan terus digelorakan disela aksi berlangsung.
Mereka juga secara bergantian menyampaikan orasi. Massa sempat membakar ban dan mendorong pagar Balai Kota Bogor.
Dalam aksinya itu, PMII menuntut agar momentum Hari Jadi Bogor (HJB) mesti dimanfaatkan untuk evaluasi kinerja, bukan sekadar aksi seremoni belaka.
Baca Juga: IPB University Buka Program Beasiswa untuk Wartawan, Pendaftaran Ditutup 19 Juni 2026
Ketua Cabang PMII Kota Bogor, Toni Al Fazri mengatakan tuntutan itu bukan tanpa alasan. Ia menemukan sejumlah masalah sosial yang terjadi di lapangan.
Pertama angka putus sekolah di Kota Bogor masih tinggi. Kondisi itu dipicu akibat minimnya penghasilan warga dan carut marutnya sistem penerimaan siswa baru.
“Maraknya praktik manipulasi Kartu Keluarga (KK) atau fenomena titip nama demi meloloskan calon siswa tertentu,” jelas Toni dalam keterangannya.
Berikutnya PMII mengaku kecewa karena macet masih saja terjadi di Kota Bogor. Program penataan tranportasi dinilai belum mampu memberikan solusi jangka panjang.
“Kebijakan konversi angkot dan pengoperasian transportasi massal yang
dicanangkan pemerintah daerah terkesan berjalan di tempat,” tegas Toni.
Sebagai kota penyangga utama Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Bogor memikul beban geopolitik dan demografis yang masif.
“Membangun Bogor tidak bisa hanya mengandalkan gimmick kosmetik di media sosial. Di sinilah urgensi mengubah paradigma HJB bukan sekadar seremoni, melainkan bahan evaluasi,” pungkasnya.(bay)
Editor : Eka Rahmawati