RADAR BOGOR – Wacana perubahan nama Jalan Batutulis-Suryakencana Kota Bogor menjadi “Pelataran Binokasih” mendapat penolakan dari kalangan pelaku usaha. Mereka menilai, langkah tersebut berisiko merusak branding ekonomi yang selama ini telah melekat kuat pada kawasan tersebut.
Pelaku usaha di kawasan Suryakencana, Arifin Himawan, menegaskan nama Suryakencana bukan sekadar penanda lokasi, melainkan telah menjadi identitas ekonomi yang dikenal luas masyarakat. Menurutnya, kawasan tersebut sudah lama dikenal sebagai pusat kuliner dan perdagangan di Kota Bogor.
“Dari sisi branding, nama Suryakencana sudah sangat kuat. Masyarakat tahu kalau ingin kulineran atau belanja, ya ke Suryakencana,” ujar Arifin.
Ia menilai, meskipun nama jalan diubah, masyarakat tetap akan menyebut kawasan tersebut sebagai “Surken”. Hal ini menunjukkan identitas yang terbentuk secara alami tidak mudah digantikan hanya melalui kebijakan administratif.
“Mau diganti nama apa pun, orang tetap akan bilangnya Surken,” ucapnya.
Selain soal branding, Arifin juga menyoroti dampak administratif yang akan timbul jika perubahan nama jalan dipaksakan. Ia menyebut, ratusan pelaku usaha di sepanjang koridor tersebut harus menyesuaikan berbagai dokumen legalitas, mulai dari akta perusahaan hingga perizinan usaha.
Menurutnya, proses tersebut tidak sederhana dan berpotensi membebani pelaku usaha, terutama usaha kecil dan menengah yang menjadi tulang punggung ekonomi kawasan.
“Bayangkan berapa banyak dokumen yang harus diubah. Ini bukan hal kecil,” katanya.
Ia juga mengingatkan sejarah Jalan Suryakencana terbentuk melalui proses panjang. Sejak masa kolonial sebagai jalur perdagangan yang dikenal sebagai Handelstraat, kawasan tersebut terus berkembang menjadi pusat ekonomi hingga akhirnya dikenal sebagai Jalan Suryakencana sejak 1970.
“Penamaan itu lahir dari sejarah dan realitas ekonomi, bukan keputusan mendadak,” ujarnya.
Lebih lanjut, Arifin menilai wacana perubahan nama jalan tidak memiliki urgensi yang jelas. Ia menyebut, masyarakat Bogor sendiri baru mengenal istilah Binokasih dalam beberapa tahun terakhir melalui kegiatan kirab budaya.
Menurutnya, antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut juga lebih dipengaruhi oleh kehadiran figur publik, bukan semata karena nilai historis Binokasih di Bogor.
“Kalau ditanya ke kami, jawabannya jelas, tidak memungkinkan,” ucapnya.
Meski demikian, ia tidak menolak jika nama Binokasih digunakan untuk fasilitas tertentu, seperti ruang publik atau panggung budaya. Namun, hal tersebut tidak boleh mengubah nama jalan utama yang sudah memiliki nilai historis dan ekonomi kuat.
“Silakan kalau mau dipakai untuk nama fasilitas. Tapi jangan mengubah nama jalan,” katanya.
Arifin juga mengingatkan agar pemerintah belajar dari kebijakan masa lalu yang dinilai kurang matang, seperti penataan di kawasan Lawang Seketeng yang berdampak pada menurunnya aktivitas ekonomi. Ia menilai, kebijakan tanpa kajian mendalam berpotensi merusak ekosistem usaha yang sudah terbentuk.
“Kita tidak ingin kesalahan yang sama terulang di Suryakencana,” ujarnya.
Para pelaku usaha berharap pemerintah dapat bersikap bijak dalam menyikapi wacana tersebut. Mereka menekankan setiap kebijakan harus memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya pelaku ekonomi lokal, bukan justru menimbulkan ketidakpastian baru di tengah kawasan yang telah mapan. (uma)
Editor : Eka Rahmawati