Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Salat Idul Adha di Lapangan Sempur Kota Bogor Berlangsung Khidmat, Ummat Muhammadiyah Diajak Refleksi Makna Kurban

Muhamad Rifki Fauzan • Rabu, 27 Mei 2026 | 08:36 WIB
Suasana Salat Idul Adha jemaah Muhammadiyah di Lapangan Sempur Kota Bogor, Rabu 27 Mei 2026. (Foto : Sofiansyah/Radar Bogor)
Suasana Salat Idul Adha jemaah Muhammadiyah di Lapangan Sempur Kota Bogor, Rabu 27 Mei 2026. (Foto : Sofiansyah/Radar Bogor)

RADAR BOGOR - Pelaksanaan Salat Idul Adha ummat Muhammadiyah di Lapangan Sempur, Kota Bogor berlangsung khidmat, Rabu 27 Mei 2026.

Sedari pagi, jemaah datang berbondong-bondong ke Lapangan Sempur. Jemaah wanita membawa kain mukena di lengannya, sementara laki-laki membawa sajadah sebagai alas.

Jemaah tampak khusuk mengikuti jalannya Salat Idul Adha di Lapangan Sempur. Gema takbir berkumandang, memecah riuh kendaraan di Jalan Jalak Harupat. 

Lantunan ayat suci Al Quran yang dibacakan imam terdengar merdu di telinga. Hal ini membuat suasana terasa begitu sahdu

Prof Didin Saepudin bertugas sebagai khotib. Dari atas mimbar, ia menyampaikan hikmah berkurban yang mesti difahami oleh seluruh ummat muslim.

Menyembelih hewan kurban disebut bukti ketaatan kepada tuhan. Allah tidak melihat berapa banyak hewan yang dikurbankan tetapi seberapa besar keikhlasannya.

Baca Juga: Sapi Kurban Ngamuk Masuk Selokan di Babakan Madang Bogor, Damkar Sigap Evakuasi

“Kalau kita melihat filosofi hewan kurban, kita harus mengurbankan sifat sifat kehewanan, kebinatangan, seperti sifat kerakusan,” terang Prof Didin.

Berkurban juga sebagai simbol kepedulian terhadap sesama. Utamanya kepada fakir dan miskin. Daging yang disembelih utamanya mesti diberikan kepada mereka.

“Semoga kita diberi kekuatan seperti imannya nabi Ibrahim. Keimanannya tidak goyah hanya karena diminta untuk menyembelih anaknya sendiri,” ujarnya.

Ia juga turut menyinggung kondisi sosial ummat manusia saat ini. Prof Didin memandang manusia saat ini sedang dihadapi oleh krisis akhlak dan moral.

Orang yang diberi amanah berupa jabatan banyak yang justru menghianati jabatan itu sendiri. Tidak sedikit diantara mereka yang berujung di bui penjara.

“Semakin lama semakin dirasakan betapa pendidikan akhlak harus menjadi faktor utama. Kita patut prihatin melihat fenomena di masyarakat,” pungkasnya. (bay)

Editor : Yosep Awaludin
#kota bogor #lapangan sempur #muhammadiyah #salat idul adha