RADAR BOGOR – Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Irfan Syauqi Beik, menyoroti besarnya potensi ibadah kurban sebagai penggerak industri daging halal nasional.
Hal itu disampaikannya saat menjadi khatib Salat Idul Adha 1447 Hijriah di Masjid Al-Muttaqin, Rabu 27 Mei 2026.
Dalam khutbahnya, Irfan menegaskan kurban tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga sosial dan ekonomi.
Ia menyebut, jika dikelola secara profesional, ibadah kurban dapat menjadi momentum besar untuk membangun industri daging halal yang kuat di Indonesia.
“Kurban bukan sekadar ritual tahunan, tetapi bisa menjadi kekuatan ekonomi umat jika dikelola dengan baik dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, terdapat tiga pilar utama dalam ibadah kurban, yakni semangat pengorbanan, manifestasi rasa syukur, dan orientasi pada kemaslahatan.
Baca Juga: Baru Soft Opening di Bogor, Phin and Co Hadirkan Coffee Shop Ala Vietnam dengan Suasana Tropical
Ketiga pilar tersebut dinilai menjadi fondasi dalam mendorong kesejahteraan sosial sekaligus pembangunan ekonomi umat.
Irfan juga memaparkan data pasar global sebagai gambaran besarnya peluang sektor tersebut.
Ia menyebut nilai pasar daging halal dunia mencapai sekitar 1,9 triliun dolar AS dan diproyeksikan terus tumbuh hingga 1,5 triliun dolar AS pada 2030, dengan dominasi produk daging sapi, kambing, dan domba mencapai sekitar 55 persen.
Di sisi lain, Indonesia dinilai masih tertinggal dari sisi produksi. Padahal, nilai konsumsi daging halal nasional mencapai sekitar 18,9 miliar dolar AS atau setara Rp300 triliun, namun kontribusi Indonesia dalam produksi global baru sekitar 4 persen.
“Indonesia besar sebagai pasar, tetapi masih lemah sebagai produsen. Ini yang harus kita ubah bersama,” ucapnya.
Ia menambahkan, momentum kurban harus dimanfaatkan untuk mendorong kemandirian ekonomi, khususnya di sektor peternakan.
Dengan pengelolaan yang lebih sistematis, kurban dapat bertransformasi dari kegiatan karitatif menjadi gerakan ekonomi yang berkelanjutan.
Dalam konteks pembangunan daerah, ia menilai nilai-nilai kurban dapat menjadi modal sosial bagi Kota Bogor.
Distribusi daging kurban yang merata dinilai mampu memperkuat solidaritas sosial sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kurban harus ditransformasikan dari sekadar kegiatan konsumtif menjadi gerakan ekonomi yang sistematis dan berorientasi kemaslahatan,” tandasnya. (uma)
Editor : Yosep Awaludin