RADAR BOGOR – Riuh tepuk tangan pengunjung menggema di lantai 2 Pasar Sukasari, Kota Bogor, Jumat, 5 Juni 2026. Sejumlah anak difabel tampil percaya diri dalam lomba fashion show golok yang menjadi bagian dari Pameran Pesona Pusaka Nusantara.
Kegiatandi Bogor ini bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga menjadi ruang inklusif bagi penyandang disabilitas untuk tampil di ruang publik. Panggung budaya dimanfaatkan sebagai sarana membangun keberanian sekaligus menunjukkan kemampuan mereka di hadapan masyarakat luas.
Ketua Sanggar Sans Souci, Ferry KS, mengatakan keikutsertaan anak didiknya dalam kegiatan ini merupakan bentuk upaya membuka peluang bagi mereka agar berani tampil. Ia menilai, kesempatan seperti ini penting untuk melatih mental dan kepercayaan diri anak-anak difabel.
Baca Juga: Seminar Nasional Ikan di Bogor Bahas Ekonomi Biru, Dorong Inovasi Perikanan Berkelanjutan
"Intinya kami ingin memberikan peluang kepada anak-anak, khususnya penyandang disabilitas, supaya mereka punya keberanian tampil di depan umum," ujarnya.
Ferry menjelaskan, selama ini kegiatan bagi penyandang disabilitas kerap bersifat eksklusif dan terbatas pada komunitas itu sendiri. Karena itu, pihaknya berupaya mendobrak batas tersebut dengan mendorong anak didiknya tampil di berbagai kegiatan umum, termasuk event budaya.
"Biasanya kan dari disabilitas untuk disabilitas. Nah, kami ingin mereka juga tampil di acara umum seperti ini," jelasnya.
Dalam penampilan tersebut, anak dari Sanggar Sans Souci tampil mengenakan busana tradisional Sunda. Peserta putri terlihat anggun dengan balutan kain batik, selendang, serta hiasan kepala siger, sementara peserta putra tampil gagah menggunakan pangsi hitam lengkap dengan ikat kepala dan sabuk jawara.
Mereka berjalan di atas panggung berlapis rumput sintetis dengan penuh percaya diri. Sejumlah peserta bahkan memperagakan pose kuda-kuda layaknya pesilat, menambah daya tarik penampilan di hadapan juri dan pengunjung.
Menariknya, penampilan tersebut dipersiapkan dalam waktu singkat. Ferry menyebut latihan hanya dilakukan selama dua hari sebelum tampil di panggung.
"Persiapannya sangat dadakan, hanya dua hari latihan. Tapi anak-anak sudah terbiasa tampil, jadi tetap bisa maksimal," ungkapnya.
Hasilnya, Sanggar Sans Souci berhasil mendominasi ajang tersebut. Seluruh perwakilan putra dan putri dari sanggar ini menyapu bersih posisi juara satu hingga tiga.
Untuk kategori difabel putra, juara pertama diraih M. Raffi Alfarizi dengan skor 1.624, disusul Rafana di posisi kedua dengan skor 1.618, serta M. Afgan Januar di posisi ketiga dengan skor 1.557.
Sementara pada kategori difabel putri, Adella meraih juara pertama dengan skor 1.795, diikuti Dinaya sebagai juara kedua dengan skor 1.672, dan Zikra Rahmi di posisi ketiga dengan skor 1.495.
Tak hanya fashion show, anak-anak Sans Souci juga menampilkan pertunjukan musik tradisional. Mereka memainkan alat musik jimbe dan angklung untuk mengiringi lagu Sunda Mojang Priangan, dengan vokalis utama seorang anak tunanetra.
Ferry mengungkapkan, pihaknya mengikutsertakan sembilan anak dalam ajang tersebut yang masing-masing didampingi orang tua. Ia mengapresiasi dukungan semua pihak yang telah memberi ruang bagi anak-anak difabel untuk tampil dan berkembang.
Menurutnya, Sanggar Sans Souci akan terus konsisten menjadi wadah pembinaan bagi penyandang disabilitas melalui berbagai kegiatan seni. Selain melatih keterampilan, kegiatan tersebut juga bertujuan membangun kemandirian dan kemampuan bersosialisasi.
"Kami ingin mereka tidak hanya punya kemampuan seni, tapi juga percaya diri dan bisa berbaur di masyarakat," tutupnya.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga