RADAR BOGOR – Komunitas Bogor Book Party menggelar diskusi bertajuk Seni Menulis, Berpikir, dan Bertahan di Era AI di Coffee Play, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor.
Kegiatan yang digelar Bogor Book Party itu menjadi ruang berbagi gagasan mengenai pentingnya literasil dan kemampuan berpikir kritis di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Diskusi menghadirkan pemerhati digital, Abdul Fathah atau yang akrab disapa Kang Fathah sebagai narasumber.
Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa masyarakat perlu membiasakan diri untuk tidak menerima informasi secara mentah, melainkan selalu menguji dan mempertanyakannya.
“Untuk menghadapi era joget TikTok atau era AI, kita perlu kritis, untuk selalu mempertanyakan dan menguji segala sesuatu yang datang, dilihat, dan ditemui,” ujarnya, Selasa 9 Juni 2026.
Menurutnya, perkembangan AI saat ini tidak dapat dihindari. Ia mengibaratkan kemajuan teknologi tersebut seperti arus banjir bandang yang terus bergerak dan memaksa setiap orang untuk beradaptasi.
Baca Juga: Hendak Menyeberang Rel, Lansia 67 Tahun Meregang Nyawa Tertabrak KRL di Perlintasan Bojonggede Bogor
“Pilihannya hanya dua, berenang beradaptasi melewati arus perubahan teknologi atau diam yang kemungkinan besar tenggelam,” katanya.
Selain membahas perkembangan AI, Kang Fathah juga menyoroti kondisi literasi di Indonesia yang dinilainya masih memprihatinkan.
Ia mengutip data UNESCO yang menyebutkan minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah, yakni hanya sekitar 0,001 persen.
“Artinya, dari 1.000 orang penduduk Indonesia, hanya satu orang yang memiliki minat atau kebiasaan membaca secara rutin,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa budaya membaca merupakan fondasi penting bagi kemajuan suatu bangsa. Menurutnya, tidak ada peradaban besar yang lahir dari masyarakat yang malas membaca.
Kang Fathah juga mengingatkan bahwa pentingnya literasi telah ditegaskan dalam ajaran Islam melalui wahyu pertama Al-Qur’an yang berisi perintah membaca atau Iqra.
“Perintah membaca dalam wahyu pertama bahkan diulang dua kali. Ini menunjukkan betapa pentingnya membaca sebagai jalan memperoleh pengetahuan dan membangun peradaban,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, ia mengapresiasi langkah Bogor Book Party yang konsisten menggelar kegiatan literasi di ruang publik.
Menurutnya, komunitas tersebut telah berperan dalam menumbuhkan budaya membaca di tengah masyarakat.
Karena itu, ia menilai kegiatan semacam ini layak mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah, baik Pemerintah Kota Bogor maupun Pemerintah Kabupaten Bogor.
“Sangat aneh jika Pemkot maupun Pemkab Bogor tidak mensupport dan mendukung kegiatan yang dilakukan Bogor Book Party, yang sangat jelas dapat menumbuhkan, memantik, dan mengajak masyarakat Bogor untuk terbiasa memiliki budaya membaca,” tutupnya.
Kegiatan yang terbuka untuk umum tersebut diisi dengan sesi membaca bersama, diskusi, serta berbagi pandangan mengenai tantangan dan peluang yang hadir di era kecerdasan buatan. (cr1)
Editor : Yosep Awaludin