RADAR BOGOR – Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor menggelar Pelatihan Ketahanan Keluarga dan Keharmonisan Rumah Tangga bagi para karyawan, Kamis, 11 Juni 2026. Kegiatan ini bertujuan mendorong keseimbangan antara karier dan kehidupan keluarga untuk peningkatan kualitas pelayanan.
Memasuki hari kedua pelaksanaan, pelatihan difokuskan penguatan komunikasi dalam keluarga serta pemenuhan kebutuhan emosional pasangan. Materi ini dinilai penting untuk menciptakan keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan rumah tangga.
Direktur Utama Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor, Rino Indira Gusniawan, mengatakan kualitas pelayanan kepada pelanggan sangat dipengaruhi oleh kondisi internal karyawan. Menurutnya, keharmonisan dalam keluarga dapat berdampak langsung terhadap produktivitas dan kinerja di tempat kerja.
Baca Juga: Tirta Pakuan Kota Bogor Uji Coba Jaringan Pipa Palasari, Targetkan Aliran Air 24 Jam di Zona 5
“Ketika suasana di rumah harmonis dan kondusif, karyawan akan lebih fokus dan maksimal dalam bekerja. Ini tentu berpengaruh terhadap kualitas layanan yang diberikan kepada masyarakat,” katanya, Kamis, 11 Juni 2026.
Ia menambahkan, pelatihan ini tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, melainkan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam membangun SDM yang tangguh. Nilai-nilai kebersamaan, komunikasi, dan saling pengertian diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sesi utama, pelatihan menghadirkan Yane Ardian Rachman sebagai narasumber. Ia mengangkat tema tentang pentingnya ketahanan keluarga di tengah dinamika kehidupan modern yang semakin kompleks.
Yane menjelaskan, keharmonisan rumah tangga tidak terlepas dari terpenuhinya kebutuhan emosional antara suami dan istri. Ia menyebut ada lima aspek utama yang perlu dijaga, yakni penghargaan, kasih sayang, rasa aman, keterbukaan, serta dukungan satu sama lain.
Menurutnya, banyak konflik dalam rumah tangga berawal dari kurangnya pemahaman terhadap karakter pasangan. Perbedaan cara berpikir antara pria dan wanita kerap menjadi pemicu kesalahpahaman jika tidak dikelola dengan baik.
“Pria cenderung lebih rasional dan fokus pada solusi, sementara perempuan lebih ekspresif secara emosional. Ini perlu dipahami agar komunikasi tidak berujung konflik,” jelasnya.
Ia juga menyinggung pentingnya ruang personal bagi seorang suami saat menghadapi tekanan. Kondisi tersebut, lanjutnya, bukan bentuk pengabaian, melainkan cara untuk memulihkan kondisi emosional.
“Ketika stres, pria biasanya butuh waktu sendiri untuk berpikir dan menenangkan diri. Ini yang sering disebut sebagai ‘cave time’,” ungkap Yane.
Selain itu, ia menekankan pentingnya rasa percaya dan penghargaan dalam hubungan suami istri. Menurutnya, sikap saling menghormati akan memperkuat peran masing-masing dalam keluarga.
“Seorang suami akan merasa dihargai ketika dipercaya dan tidak terus-menerus diragukan. Itu menjadi energi besar dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai pemimpin keluarga,” pungkasnya. (uma)
Editor : Eka Rahmawati