RADAR BOGOR – Kepulangan jamaah haji Kloter 10 Kota Bogor menyisakan banyak cerita mengharukan. Salah satunya datang dari Debi Suhardaprawira yang tak mampu membendung air mata saat pertama kali menatap Kakbah secara langsung di Tanah Suci.
Debi mengaku keberangkatannya menunaikan ibadah haji tahun ini bukanlah rencana yang telah lama disiapkan. Ia berangkat sebagai pengganti orang tuanya yang seharusnya mendapat kesempatan berhaji asal Kota Bogor.
“Perasaannya luar biasa. Saya tidak pernah menyangka bisa berangkat haji tahun ini karena sebenarnya hanya menggantikan orang tua,” ujarnya kepada Radar Bogor di Balai Kota Bogor.
Menurut Debi, pengalaman paling membekas terjadi saat menjalankan tawaf untuk pertama kalinya. Rasa haru langsung menyelimuti dirinya ketika melihat Kakbah yang selama ini hanya dapat disaksikan melalui gambar dan tayangan televisi.
“Begitu melihat Kakbah secara langsung, saya langsung terharu. Bahkan setelah tawaf dan salat, air mata terus mengalir dan sulit dihentikan,” tuturnya.
Selama berada di Tanah Suci, Debi mengaku tidak menghadapi kendala berarti. Ia merasakan kuatnya kebersamaan antarsesama jamaah yang saling membantu dan menjaga satu sama lain selama menjalankan rangkaian ibadah.
“Semua terasa lebih mudah karena kami saling mendukung. Suasana kekeluargaan di rombongan sangat terasa,” katanya.
Cerita serupa disampaikan Siti Nuryani, warga Pancasan, Kota Bogor. Ia mengapresiasi penyelenggaraan ibadah haji tahun ini yang dinilai tertata dengan baik, mulai dari akomodasi hingga pelaksanaan ibadah.
“Semua sudah terorganisasi dengan rapi. Makanan, transportasi, dan jadwal ibadah tersusun baik sehingga jamaah bisa lebih fokus beribadah,” ungkapnya.
Siti menjelaskan, keberangkatannya ke Tanah Suci juga merupakan hasil pelimpahan porsi haji dari sang ayah yang telah mendaftar sejak 2014 sebelum meninggal dunia.
“Setelah ayah wafat, saya mengurus pelimpahan porsi. Alhamdulillah sekitar tiga tahun kemudian saya mendapat kesempatan berangkat,” katanya.
Pengalaman spiritual yang dirasakannya selama berhaji menjadi kenangan yang sulit dilupakan. Ia berharap kesempatan yang sama juga dapat dirasakan oleh generasi berikutnya dalam keluarganya.
“Rasanya ingin kembali lagi ke Tanah Suci. Semoga anak dan cucu kami nanti juga diberi kesempatan untuk menunaikan ibadah haji,” pungkasnya.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga