RADAR BOGOR – Ikatan Guru Anak Istimewa (KAGUME) resmi berbadan hukum setelah penandatanganan pendirian yayasan, di Aroem Resto and Cafe Bogor, Sabtu 13 Juni 2026. Momentum ini disebut untuk memperkuat program pengembangan kompetensi guru pendamping anak berkebutuhan khusus (ABK) di Kota Bogor.
Ketua KAGUME, Ari Hakiki, mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi ajang silaturahmi sekaligus sosialisasi program kerja kepada sekolah-sekolah pendukung. Saat ini, terdapat enam sekolah yang menjadi bagian dari pengurus KAGUME dan turut dilibatkan dalam penguatan organisasi.
"Hari ini kami mengundang para direktur dari sekolah pendukung untuk mensosialisasikan program KAGUME selama enam bulan ke depan. Kami berharap dukungan penuh dari sekolah karena pengurus kami berasal dari sana," ujarnya.
Baca Juga: Digelar di SMPN 19, TPN XIII Kota Bogor Hadirkan Kelas Pendidik hingga Kompetensi AI
Ia menjelaskan, fokus utama program KAGUME adalah pengembangan kapasitas guru pendamping, baik dari sisi keilmuan maupun kemampuan teknis di lapangan. Hal ini dinilai penting seiring meningkatnya jumlah ABK yang masuk ke sekolah umum.
Selain sosialisasi program, agenda penting lainnya adalah pengesahan legalitas organisasi menjadi yayasan. Dengan status tersebut, KAGUME diharapkan dapat lebih leluasa mengembangkan program dan memperluas manfaatnya.
"Alhamdulillah hari ini kami resmi berbadan hukum, harapannya, program-program KAGUME bisa semakin berkembang dan menjangkau lebih luas," jelasnya.
Dalam waktu dekat, KAGUME telah menyiapkan sejumlah agenda, di antaranya pelatihan terapi bagi guru pendamping pada Juli mendatang. Selain itu, akan digelar program Bincang Asik KAGUME yang menjadi ruang diskusi dan berbagi pengalaman bagi para praktisi pendidikan inklusi.
Agendakan Kegiatan Green Therapy
Memasuki Agustus, KAGUME juga merencanakan kegiatan bertajuk Green Therapy. Sementara pada November, organisasi ini akan menggelar peringatan Hari Guru yang difokuskan bagi guru pendamping dan terbuka untuk umum.
"Untuk November, kami rencanakan menjadi kegiatan terbesar dengan menghadirkan praktisi dan profesional di bidang inklusi. Persiapannya akan mulai kami lakukan sejak September," ucapnya.
Lebih jauh, KAGUME juga menargetkan pendirian Sekolah Guru Pendamping pada 2028 sebagai upaya jangka panjang dalam meningkatkan kualitas SDM di bidang pendidikan inklusi.
Dalam pertemuan tersebut, KAGUME juga menerima berbagai masukan dari sekolah mitra. Salah satunya terkait kebutuhan pelatihan bagi guru, tidak hanya guru pendamping tetapi juga guru umum yang kini banyak menghadapi siswa ABK di kelas.
Kolaborasi dengan Sekolah Negeri
Selain itu, muncul dorongan agar KAGUME membuka ruang kolaborasi dengan sekolah negeri di Kota Bogor. Hal ini mengingat masih terbatasnya jumlah guru pendamping di sekolah negeri sehingga peran tersebut kerap diambil alih oleh orang tua siswa.
"Kami juga didorong untuk membuka ruang diskusi dengan sekolah negeri agar bisa bersama-sama mencari solusi terkait keterbatasan guru pendamping," jelas Ari.
Saat ini, jumlah anggota KAGUME tercatat mencapai 427 orang yang terdiri dari guru pendamping, guru kelas, hingga kepala sekolah. Jumlah tersebut terus bertambah seiring meningkatnya kebutuhan dan kesadaran akan pentingnya pendidikan inklusi.
"Kami berharap pengurus tetap konsisten dan berkomitmen. KAGUME juga diharapkan menjadi ruang belajar inklusif bagi para guru, penggiat, dan praktisi untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman," tutupnya. (uma)
Editor : Eka Rahmawati