Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Membaca Ulang Shaleh Khalid: Menghidupkan Perjuangan Melalui Gerakan Intelektual

Lucky Lukman Nul Hakim • Minggu, 14 Juni 2026 | 12:51 WIB
Demisioner Ketua Umum Kohati HMI Cabang Bogor 2024-2025, Fauzia Noorchaliza
Demisioner Ketua Umum Kohati HMI Cabang Bogor 2024-2025, Fauzia Noorchaliza

RADAR BOGOR - Dalam sejarah panjangnya, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tidak hanya hadir sebagai organisasi kader.  

HMI menjadi ruang pertemuan gagasan, laboratorium kepemimpinan, dan menjadi roda perjuangan nilai yang akhirnya banyak membentuk tokoh dan pemimpin hebat.

Di antara tokoh penting yang pernah mengawal gerakan ini, terdapat salah satu sosok yang basis gerakan intelektualnya perlu dibaca kembali.

Ialah M. Saleh Khalid.

Kepemimpinan Saleh Khalid bukanlah hasil yang instan.

Baca Juga: Persib Bandung Dikaitkan dengan Eks Bek Watford, Tandem Baru Frans Putros?

Ia melewati proses kaderisasi yang panjang dan matang, mulai dari membangun fondasi intelektualnya di Institut Pertanian Bogor dan HMI Cabang Bogor.

Proses perjalanan beliau penting untuk dicatat karena yang membuat Saleh Khalid layak untuk dibaca ulang bukanlah posisinya yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PB HMI, tetapi kemampuannya menjadikan intelektualitas sebagai energi yang menggerakan organisasi.

Saleh Khalid dipercaya untuk menjadi Ketua Umum PB HMI pada periode 1986-1988.

Masa tersebut adalah salah satu fase krusial yang bersejarah bagi sejarah gerakan Mahasiswa di Indonesia.

Saat itu merupakan masa Orde Baru, dimana ruang gerak Mahasiswa banyak dibatasi dan idealisme serta independensi organisasi diuji oleh dinamika tekanan politik.

Namun ditengah situasi yang tidak menentu tersebut, Saleh Khalid mampu menunjukan bahwa HMI tetap memiliki kekuatan moral da intelektualnya.

HMI tidak hanya bereaksi terhadap keadaan, tetapi juga mampu untuk memetakan arah masa depan dan memberikan kontribusi gagasan untuk perubahan sosial.

Baca Juga: Warga Bogor Wajib Tahu! 5 Camping Ground di Kaki Tangkuban Parahu yang Punya Suhu 14 Derajat Celsius Tanpa Hujan

Pada titik inilah relevansi dari jejak seorang Saleh Khalid perlu dibaca kembali.

Kampus dan Mahasiswa kini menghadapi segenap tantangan seperti komerialisasi pendidikan, pragmatism gerakan mahasiswa, dan melemahnya tradisi diskusi dan literasi.

Dalam kondisi demikian, organisasi kemahasiswaan kerap terjebak dalam kesibukan semu rutinitas administrasi dan kegiatan-kegiatan seremonial.

Sementara di satu sisi, penguatan kapasitas intelektual dan meraut kepekaan sosial, tidak selalu mendapatkan ruang memadai.

Padahal, kekuatan utama HMI justru terletak pada kapasitas intelektual kadernya sebagai insan akademis, pencipta, dan pengabdi, sebuah identitas yang menuntut keseriusan dalam berpikir, berani dalam bersikap, dan memiliki sensitifitas dalam membaca realitas sosial.

Melalui Saleh Khalid juga menunjukan gaya kepemimpinan yang tenang, mengedepankan rasionalitas, dan menjaga keseimbangan antara idealisme dan realitas.

Berada dalam kondisi yang penuh tekanan, ia tidak larut dalam konfrontasi emosional, tetapi tetap berprinsip pada perjuangan organisasi.

Pendekatan seperti ini menjadi relevan ketika melihat organisasi mahasiswa terseret dalam arus pusaran pragmatism dan kepentingan-kepentingan jangka pendek.

Ditengah era yang ambigu, HMI dengan fondasi diskusi, kajian, dan refleksi, memerlukan tradisi intelektualnya hidup kembali agar tidak kehilangan ruhnya sebagai organisasi kader yang lekat dengan sisi intelektualitasnya.

Sehingga dalam membaca kembali Saleh Khalid, harusnya tidak hanya terhenti pada romantisme sejarah saja.

Namun perlu penguatan dalam mengimplementasikan nilai-nilai kepemimpinannya dalam mengawal gerakan organisasi.

Baca Juga: Umbar Janji Penanganan Tebing Batutulis Kota Bogor, BTP : Kami Lagi Pembahasan

HMI membutuhkan kader yang tidak hanya memiliki kemampuan dalam menjalankan organisasi, tetapi juga mampu untuk menawarkan gagasan ditengah kompleksitas perubahan sosial.

Bagi HMI Cabang Bogor, jejak dari Saleh Khalid memiliki kedekatan sendiri dan terasa lebih personal.

Karena di HMI Cabang Bogor menjadi rumah tempat beliau mengasah pemikiran, membentuk kepemimpinan, dan memberikan kesan mendalam selama kiprahnya di tingkat nasional.

Warisan terbesar bukanlah yang bersifat materil, namun yang dapat menjadi teladan moral dan intelektual.

Karena itu, menghidupkan kembali pemikiran seperti yang dibawa oleh Saleh Khalid merupakan bentuk ikhtiar untuk menjaga tradisi gerakan intelektual dalam HMI. (*)

Oleh: Fauzia Noorchaliza

Demisioner Ketua Umum Kohati HMI Cabang Bogor 2024-2025

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#Shaleh Khalid #hmi #bogor